Archive for the ‘Rwabinedha’ Category

Sebuah Sloka Banten Saiban dalam Weda Kehidupan.

Tuesday, March 1st, 2011

“Atisha, I promise not to teach you religion. Will share how to sit in silence, so that you can ask God directly whatever you need to know.”

-Janji Reza Gunawan pada anaknya Atisha-

 

Dulu sempat saya merasa sedikit kecewa kepada ke dua orang tua saya, kenapa saya sama sekali tidak pernah diperkenalkan dengan kitab suci dengan sloka-sloka seperti teman-teman saya. Percaya atau tidak samapai sekarang saya sama sekali tidak hafal mantram dari panca sembah. Saya lebih suka melakukan panca sembah seperti Orang Tua Saya, Om, Tante, Nenek, Kakek dan sodara sodara saya di kampung, dimana mereka dalam melaksanakan panca sembah menggunakan bahasa Bali halus dengan penuh perasaan, merintih bahkan terkadang sampai menangis penuh penyerahan diri. Loh kok saya tahu? sembahyang gak pernah serius ya? hihih begitulah saya waktu umur masih di bawah sepuluh tahun, sembahyang masih toleh kanan toleh kiri, sambil berusaha melakukan hal yang sama dengan orang-orang di sekitar saya :D , akh tapi entah kenapa saya malah merindukan keluguan seperti itu.

 

Beberapa buah mantram yang saya saya hafal hanya Tri Sandya(karena wajib dihafal waktu sekolah), Om Asatoma Sadgamaya, Om Tryambakam (dua mantram yang sepertinya dianugrahkan entah dari mana, seperti jodoh dengan ke dua mantram ini) dan Mantram Siwa Om Namah Siva Ya (paling gampang dihafal :D ). Beberapa kali saya mencoba untuk menghafal beberapa sloka dari Baghavad Gita, tapi entah kenapa saya lebih tertari untuk membaca terjemahannya dalam bahasa Indonesia kemudia terlupa karena terlalu berat buat saya, hehe. Menyadari kurangnya stock mantram atau kitab suci yang saya ketahui, saya sempat merasa kecewa kepada lingkungan saya, terutama orang tua, yang nota bene hidup di  sebuah desa kecil di pulau yang dijuluki pulau dewata, dengan tingkat pendidikan formal yang masih jauh dari cukup, khususnya di bidang agama.

 

Namun seiring dengan perjalanan hidup, apa lagi di rantauan, keluar dari lingkarang kenyamanan kampung halaman, dalam selimut kerinduan, lama kelamaan malah membuat saya bisa melihat pancaran sinar yang serasa makin memberikan magnet keindahan, dari kampung halaman saya tercinta yang bernama Bali. Kesederhanaan dan Keluguan, jauh dari pendidikan formal, yang tadinya saya hakimi sebagai suatu kekurangan, malah belakangan “menampar” saya dengan nilai-nilai yang bahkan sampai membuat saya menangis merindukan pelukannnya. Pelukan kesederhanaan, kekosongan, keheningan dan kedamaian pemikiran yang penuh kerendahan hati, yang implementatif menyatu dalam kehidupan itu sendiri. Jauh dari kesan kebanggaan dari sudut pandang kepintaran dlm pendidikan formal beserta titlenya, yang belakangan malah lebih banyak membuat orang terjerumus dalam kesombongan dan kelicikan, lupa akan jati dirinya sebagai manusia.

 

Perjalanan kecil saya ini, dengan berbagai kemelutnya, mengantarkan saya untuk kembali melihat kilauan nilai-nilai mulia yang tercampur dalam lumpur ketidak tahuan dan keluguan kampung halaman. Jika saya melihat balik ke belakang, selama 20 tahun saya bersama orang tua saya, tidak banyak ilmu keagamaan yang diwariskan mereka. Yang ada hanya berjalan apa adanya mengikuti ritual yang telah diwariskan apa adanya oleh leluhur kami. Dari ritual banten saiban setelah selesai memasak, hingga perayaan Galungan yang berjalan sama seperti perayaan-perayaan sebelumnya. Namun belakangan meditasi menuntun saya lebih banyak untuk mencari dan memahami, ketimbang hanya mempercayai begitu saja. Sebagai contoh bagaimana sebuah ritual sederhana, dengan menghaturkan secomot nasi, bawang dan sedikit garam di beberapa  sudut rumah, yang kita sebut sebagai ritual mebanten saiban itu, telah mengajarkan kita untuk berkenalan dengan alam (semut, serangga, dan pepohonan), dan skaligus mengajarkan kita mencintai mereka penuh kasih sayang dengan berbagi sedikit apa yang kita punya, bahkan sebelum kita sendiri yang menikmatinya.

 

Menyadari ini membuat kerinduan akan kesederhanaan itu lebih mendalam. Bahkan kerinduan buat mereka-mereka para pendahulu kami yang dengan cerdiknya menyisipkan nilai nilai meditatif (baca In Bali Life is Meditation) yang implementatif dalam keseharian kami. Menyisipkan sloka-sloka Baghavad Gita atau Weda, yang secara tekstualnya susah apa lagi untuk orang yang kurang suka menghafal seperti saya, ke dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga tanpa disadari, kita melakoni dan mengimplementasikannya setiap hari dalam kehidupan. Membuat kita mengenal Nilai Kasih itu lebih dalam, dari sebuah ritual sederhana seperti Banten Saiban, yang belum tentu Nilai Kasih yang sama dilakukan oleh orang yang menghafal ribuan sloka Kitab Suci, yang bahkan lebih sering membuat mereka terjerumus dalam kesombongan.  Saya ingat bagai mana Sang Buddha menempuh jalan untuk mencapai Pencerahan hanya dibekali selembar kain penutup badan dan Rasa Kasih kepada manusia yang menderita, bukan dibekali tumpukan buku atau kitab suci. Beliau belajar lebih banyak dari Weda Kehidupan dan Gita Penderitaan dengan sekali sekali meneguk air keheningan dalam meditasi dan pengendalian pikiran untuk menemukan solusi penderitaan dan meneguk air suci kebahagiaan.

 

Lalu apakah tulisan ini mengajak kita untuk melupakan kitab suci-kitab suci kita? tentu saja tidak. Tulisan ini hanya ingin mengingatkan kita akan keseimbangan hati dan pikiran, tidak menghakimi apa yang belum tentu kita pahami nilai nilainya. Karena lebih sering saya melihat kita merasa pintar dan hebat setelah menghafal banyak sloka kitab suci dan berusaha menghakimi warisan tetetua kita yang jelas-jelas dalam babad yang ditinggalkannya, penuh kebijaksanaan dalam pencerahan. Tentu dengan level yang tercerahkan seperti itu, mereka tidak sembarangan menyuruh kita merobek dedaunan untuk kemudian dijadikan alas bagi secomot nasi persembahan kepada semut dan pepohonan. Tentu tidak sembarangan mereka mewarisi kita spot Keheningan dalam merayakan Tahun Baru Caka, yang oleh orang lain tahun baru dirayakan dengan kebisingan dan kemeriahan. Kita malah ditarik lebih dalam ke dalam Diri dalam Kesepian untuk berkenalan dengan Diri Kita Sendiri. Demikian cerdik tetua kita menyisipkan sebagian besar nilai-nilai kitab suci dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita tidak repot-repot untuk menghafal sekian banyak sloka-sloka, yang belum tentu juga kita pahami, apa lagi untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan. Dan apa lagi sloka-sloka tersebut tidak sembarangan untuk kita pelajari tanpa bimbingan seorang Guru.

 

“Jika Engkau lapar, ambilah bahan makanan secukupnya untuk engkau masak sesuai selera, jangan makan semua bahan makanan yang ada di alam semesta ini”

 

Untuk itu dalam kesempatan kita masuk dalam Kehengingan Nyepi, mari kita ambil bahan makanan, yang benihnya disemai oleh para tetua kita, secukupnya, untuk kita olah sesuai selera kita. Jangan kita makan semua bahan makanan itu mentah-mentah karena kita malah akan jatuh sakit karenanya. Jangan kita telan itu semua sloka-sloka kitab suci mentah-mentah seluruhnya dalam waktu bersamaan. Olahlah beberapa diantaranya dalam renungan Hari Raya Nyepi dalam-dalam untuk kemudian mengambil sari-sarinya dalam kehidupan kita waktu demi waktu :)

 

 

Selamat Menarik Diri kedalam Keheningan untuk berkenalan dengan Kesejatian Diri di Hari Raya Nyepi ini.

Selamat Tahun Baru Caka 1933

 

Semoga Semua Mahluk Berbahagia.

Renungan Kearifan Local Masa Lalu

Wednesday, February 23rd, 2011

Belakangan banyak sekali peristiwa-peristiwa di Nusantara yang mengarah pada perpecahan dan pertikaian, khususnya disebabkan oleh perpedaan keyakinan. Sungguh sangat disayangkan bahwa sebuah jalan kerohanian yang kita sebut sebagai agama belakangan malah menjadi media untuk saling menyakiti. Bukankah, terlepas dari agama, semua manusia mencari sebuah tujuan yang sama yaitu Kebahagiaan?

Mungkin fakta-fakta sejarah Nusantara berikut bisa menjadi renungan buat kita semua, bahwa kearifan local Indonesia jauh jauh hari telah mengajarkan kita menemukan kebahagiaan dalam jalan yang penuh warna, saling bergandengan tangan penuh Cinta Kasih memahami perjalanan kehidupan untuk tujuan yang sama tadi, yaitu Kebahagiaan.

1. Seorang Istri dari Prabu Wijaya, Raja Majapahit pertama yang beraliran Siwa, adalah seorang Buddha, dan beliau melepaskan diri dari keduniawian dengan menjadi Biksuni.

2. Penasehat Prabu Airlangga, Raja Kediri yang berlairan Wisnu, yaitu Mpu Braddah adalah Seorang Pendeta Buddha

3. Mpu Kuturan: adalah seorang yang sangat berjasa membangun arsitektur spiritual masyarakat Bali, dimana beliau menggagas konsep Desa Pekraman dan Pemujaan terhadap Tri Murti. Sedangkan beliau sendiri adalah seorang Pendeta Buddha Mahayana. Begitu arif dan bijaksana seorang Buddha/Guru Hidup membimbing masyarakat Bali dengan konsep-konsep yang digali dari kearifan local Bali sendiri. Beliau tidak Mem-Buddha-kan Bali, apa lagi Me-mahayana-kan Bali. Tapi Beliau Mem-Bali-kan Bali dengan menyisipkan berbagai Kebijaksanaan seorang yang telah mencapai Pencerahan (Buddha/Moksa). Apa yang kita kenal sekarang sebagai RwaBhinedha (kemungkinan inilah yang disebut Jalan Tengah di agama Buddha) adalah salah satu contoh paling nyata tentang usaha Beliau untuk mengembangkan pola berfikir kita sebagai manusia, bahwa segala sesuatu di alam semesta diciptakan berpasangan.

Dualisme itulah yang harus kita sadari untuk mencapai Kebahagiaan tertinggi. Dengan menyadari segala dualisme tersebut, kita akan mampu menempatkan diri dalam Kebahagiaan, dalam sisi satu maupun dalam sisi yang lain. Kita selalu menghakimi keadaan dan pilih kasih atas dualisme dunia. Mengganggap yang satu baik yang satu buruk, seperti halnya sorga dan neraka, sehat dan sakit, bahkan hidup dan mati. Orang yang tercerahkan tidak akan pernah menilai satu sisi lebih baik dari sisi lainnya. Kebijaksanaannya akan selalu membawa dalam Kebahagiaan walaupun Dia berada dalam keadaan yang manapun.

Begitulah orang yang tercerahkan membimbing kita melalui makna-makna yang ditinggalkan, untuk kita gali lebih dalam. Dan makna-makna ini intinya adalah mengendalikan pikiran (mind) kita untuk tetap seimbang dalam situasi apapun, dengan menyadari bahwa semua memang sempurna apa adanya (Nak Mule Keto/Keiklasan tertinggi). Itulah tujuan utama manusia sesungguhnya, selalu berbahagi dalam kondisi apapun dengan pengendalian pikiran. Itulah sesungguhnya tujuan agama, tujuan spiritual bahkan tujuan kita dilahirkan ke dunia ini. Untuk menyadari kembali apa yang telah kita lupakan sekian lama dengan kebodohan diri.

Semoga bermanfaat.

“Bahkan Sorgapun tak akan mampu meberikan kita Kebahagiaan, jika pikiran kita jauh dari kedamaian”

In Bali Life is Meditation.

Wednesday, January 5th, 2011

Siapa yang tidak mengenal Bali, sebuah pulau kecil di antara ribuan pulau, di sebuah negeri indah di katulistiwa bernama Indonesia. Pulau kecil berjuluk Pulau Dewata, karena adat, budaya dan keseniannya yang semuanya membaur dengan nilai-nilai spiritual dan filosofis, yang menghasilkan kekuatan yang mampu menyihir para wisatawan baik domestik maupun manca negara untuk setidaknya menikmati hasil karya-karya keindahan dari pulau ini. Ribuan Pura sebagai tempat suci masyarakat Bali, yang tersebar di berbagai tempat, dari gunung hingga lautan, dari sawah, ladang, sungai hingga perbukitan, semua menambah poin of interest dari alamnya, yang sesungguhnya sudah sangat mempesona. Sebut saja Uluwatu atau Tanah Lot, sebuah tanjung dan teluk yang dihiasi dengan keindahan Meru(pagoda/candi) dari pura, yang saat senja memerah, menghasilkan komposisi keindahan yang sungguh sangat mempesona. Belum lagi berbagai macam upacara dan ritual yang dihiasi dengan berbagai karya seni, yang sudah tidak bisa dipisahkan lagi dengan ritual itu sendiri. Dan semua ritual tersebut dilaksanakan hampir setiap hari, di berbagai tempat di Bali. Dari hal-hal kecil, seperti ritual setelah masak yang dilakukan setiap hari, sampai upacara Eka Dasa Ludra yang diadakan di Pura Besakih setiap 100 tahun sekali. Dari upacara kecil saat mulai mencangkul di sawah, mulai berjualan di pasar, atau upacara untuk setiap langkah pembangunan rumah(bikin dasar,  bikin tembok penyengker, membangun sampai masang atap), persembahan setiap 15 hari sekarali saat bulan purnama dan bulan mati, sampai euforia Galungan dan Kuningan dalam jangka waktu 10 hari, setiap enam bulan sekali. Kewajiban atas berbagai ritual itu pulalah yang membuat masyarakat Bali tak bisa terlepas dari kegiatan Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan semua hal yang kita kenal dan bisa kita nikmati saat ini sebagai kesenian atau budaya, pada awalnya sesungguhnya hanya diperuntukan untuk mengungkapkan rasa Bhakti kehadapan Yang Kuasa, tanpa unsur komersil untuk dijual sebagai komoditi wisata. Bahkan kata kesenian itu sendiri adalah kata yang awalnya tidak dikenal oleh tetua di Bali, dan saat ditanya kenapa para tetua itu melakukan apa yang kita kenal dengan kesenian mereka hanya menjawab : “Tidak semua kami mengerti, namun satu hal yang jelas, semua kami lakukan sebagai serangkaian persembahan”. Semuanya menyatu dalam kehidupan. Sebagai contoh ungkapan Matur Suksema yang artinya Menghaturkan Jiwa, bahkan jiwa ini pun dipersembahkan. Mungkin ini pula yang disebut oleh Kahlil Gibran dalam The Prophet “Your Life is Your True Temple”. Hidupmulah Ibadahmu sesungguhnya.

 

Sebagai seorang putra bali yang mencari penghidupan di luar Bali, tentu akan sering mendapat pertanyaan-pertanyaan mengenai semua hal, baik itu ritual maupun kehidupan sosial masyarakat Bali. Mulai dari pertanyaan yang sebatas ingin tahu saja, sampai pertanyaan yang berusaha menyudutkan, karena tidak sesuai dengan apa yang penanya pahami dari keyakinan mereka. Sebagai contoh yang paling sering adalah mengenai bagai mana masyarakat Bali menghormati dengan menghaturkan berbagai persembahan atau upakara di tempat-tempat seperti pepohonan atau bahkan benda mati seperti batu atau benda benda pusaka. Kita bisa saja menjawab hanya dari sudut pandang kita sebagai orang Bali, bahwa semua itu kita lakukan untuk menjaga hubungan kita dengan alam atau penghormatan terhadap ciptaan Tuhan. Tapi skali lagi semasih jawaban berasal dari sudut pandang yang berbeda, jawaban itu akan tetap menjadi bulan-bulanan dengan disusul oleh pertanyaan-pertanyaan berikutnya.

Saya teringat sebuah nasehat dari Ketut Liyer kepada Elisabeth Gilbert, dalam buku Eat Pray and Love : “Saat ada orang yang berdebat denganmu tentang Tuhan, katakan saja: saya setuju dengan anda, kemudian pulang dan berdoalah dengan cara yang kemu yakini”. Kutipan ini, buat saya, tidak hanya sikap cuek atau pernyataan untuk melarikan diri dari perdebatan atau pertikaian, namun juga mengandung pemahaman yang sungguh mendalam tentang Ketuhanan atau Spiritual. Ada dua poin penting yang tersirat di dalamnya, yaitu “Saya setuju dengan (apa yang) anda (katakan tentang Tuhan)” dan “Pulang, lalu berdoa dengan cara yang kita yakini(tentang Tuhan)”. Arti poin pertama adalah kita menyetujui apapun yang orang lain katakan tentang Tuhan-nya, dan poin ke dua, kita juga punya pemahaman sendiri tentang Dia, dan tentu saja kita pasti setuju dengan apa yang kita pahami dan yakini. Di sini saya sadar bahwa nasehat tadi mengingatkan kita kembali bahwa Tuhan adalah Segalanya, termasuk apa yang dipahami orang lain, dan apa yang kita pahami sendiri, yang tentunya berbeda. Karena sesungguhnya Dia ada dalam segala kondisi, baik yang masih dalam ruang lingkup jangkauan pemahaman pikiran manusia, maupun kondisi di luar apa yang manusia bisa pahami.

Lalu apa hubungan pemahaman di atas dengan kehidupan masyarakat bali dengan ritual-ritualnya? dan apa pula hubungannya dengan Meditasi, seperti judul dari tulisan ini? Menurut pemahaman saya, meditasi adalah upaya kita untuk mengistirahatkan pikiran kita dari hal-hal dan keinginan-keinginan duniawi sehingga kita bisa masuk ke dalam kondisi Kosong/Sunya, agar energi Ketuhanan/Spiritual/Kosmik bisa leluasa masuk dan memberikan kita pemahaman-pemahaman sebagai tuntunan kita untuk mencapai Kebahagiaan Yang Sejati, melalui pengendalian pikiran sehingga selalu selaras dan seimbang. Untuk itulah para Tetua kita di Bali, dengan cerdiknya, membangun sebuah pondasi kehidupan yang membuat kita, dimanapun dan kapanpun juga, mengisi setiap sisi kehidupan dengan pemahaman bahwa Segalanya adalah Tuhan dan Tuhan adalah Segalanya, seperti apa yang tersirat dalam nasehat dari Ketut Liyer di atas. Baik saat kita melihat binatang, pepohonan, sungai, gunung, laut,batu maupun melihat setiap umat manusia lainnya. Dengan demikian dengan sendirinya, bahkan tanpa kita sadari, kita telah melakukan meditasi dalam setiap sisi kehidupan, dengan lebih banyak melepaskan diri kita (pikiran perkataan dan perbuatan) dari hal-hal dunia dengan mengisi diri kita(pikiran,perkataan dan perbuatan) dengan hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan yang akan memperlancar energi Spiritual masuk kedalam Sang Diri untuk memperoleh kehidupan yang seimbang. Di sisi lain kita juga turut serta menjaga alam kita dengan menghormati pepohonan dan alam, sehingga kita tidak sembarangan untuk menebang pohon atau merusak alam. Dan semua kegiatan Bhakti tersebut akan lebih indah jika diimplementasikan dalam bentuk kesenian, karena dengan seni kita bisa selalu membawa pikiran dan perbuatan kita dalam dimensi Keindahan.

In Bali Life is Meditation (Everything/where/time is God, and God is Everything/where/time).

“God possesses a face in everything that is worshiped;” and “God is that which is worshiped in everything that is worshiped.”

Ibn ‘Arabi

 

Note: saya sengaja tidak membawa label Hindu di sini, karena saya ingin mengingatkan lagi bahwa sesungguhnya Bali merupakan perpaduan dari berbagai unsur filosofis, seperti Siwa, Buddha, Tantra bahkan Zen dengan menitik beratkan pada usaha untuk melatih Mind manusia (Meditation) untuk selalu mencapai keseimbangan dan keselarasan dalam kondisi apapun juga, yang membaur di bali menjadi konsep Rwabinedha. Pertanyaannya sudahkah kita menyadarinya? :)

Semoga Bermanfaat.

Tersenyumlah

Wednesday, May 5th, 2010

Berhentilah menangis kawan

Karena tangismu akan menyakiti orang yang ingin melihatmu tertawa….

Berhentilah tertawa teman, seperti halnya tangismu,

Tawamu akan menyakiti orang yang ingin membuatmu menangis..

Tersenyumlah Sahabat…

Karena senyummu meluluhkan dan mendamaikan hati yang bertentangan denganmu

Dan tak akan ada yang tersakiti oleh ketulusan Kasihmu

Titik Kesuksesan atau Titik Kesadaran?

Monday, April 6th, 2009

Pagi itu  seorang teman  datang dengan sebuah artikel menarik, yang dilepasnya di sebuah thread di milis  komunitasku di dunia maya. Artikel itu sangat menarik, menceritakan seorang yang telah mencapai kesuksesan baik dari materi maupun prestasi, yang kemudian merasa semua hanyalah hal yang maya dan memutuskan untuk kembali pada kehidupan yang sederhana di pedesaan. Cerita ini mirip dengan cerita Andy F Noya (pembawa acara Kick Andy) yang juga melakukan hal yang sama, mengundurkan diri dari posisis direksi sebuah TV swasta terkemuka di tanah air ini, untuk sebuah kehidupan baru keluar dari kondisi nyamannya. Dan banyak lagi orang2 sukses yang melakukan hal yang serupa, melepas keterikatan mereka akan materi untuk kehidupan sederhana dan tanpa tekanan (bayak aku jumpai di daerah Ubud, dimana banyak orang asing yang hidup sederhana layaknya penduduk setempat, dan melakukan aktifitas yang sama dengan penduduk seperti  bercocok tanam di sawah)

Yang menarik, seorang teman menanyakan hal berikut:

“kalo kita belum pernah merasakan kondisi keberlimpahan materi seperti itu,
kira-kira apakah kepikiran untuk mengatakan materi bukan salah satu hal utama dalam hidup ini ??
 

Merujuk kepada tujuan hidup kita kan ada
Dharma, Arta, Kama dan Moksa.”

Maka saya mencoba merenung untuk menemukan jawaban pertanyaan sahabat saya tersebut, bercermin dengan keadaan hidup saya sendiri. dan menyimpulkan sesuatu yang sedikit melegakan hati saya.

Saya sendiri merasa belum mencapai kondisi berlimpah materi seperti yang dibilang di artikel ini, tapi saia belakangan sependapat dengan orang-orang yang diceritakan dalam artikel di atas. Saya ingin sekali hidup dalam kesederhanaan pedesaan yang damai.

Manuasia itu selalu menginginkan lebih tanpa batas. Tapi manusia yang telah “Sadar” malah akan ingin kembali pada kesederhanaan tanpa ikatan dan tekanan. “Kita merasa kita belum berlimpah materi. Tapi buat orang lain yang tidak seberuntung kita, kondisi yang telah saya capai ini sudah sangat melimpah (skali lagi manusia tak akan pernah merasa cukup)”. Intinya disana, saat kita “sadar” kenyataan itu maka kita pun akan merasa telah berlimpah dan jenuh dengan “pencarian materi tersebut”.  Dan pada saat itulah kita merasa sudah sangat melimpah dan menginginkan kehidupan yang sederhana dan membelokan tujuan hidup ke arah yang lebih “bernilai”.

Karena sebenarnya batasan berlimpah atau tidak itu tak bisa diukur dengan jumlah materi tertentu, tapi dengan kesadaran bahwa semua itu tak akan ada habisnya. Jadi  renungan atas “Kesadaran” itu tidaklah harus kita lakukan setelah mencapai jumalah materi tertentu (karena memang tidak ada ukurannya) tapi tiap saat. Merenungin apakah kita sudah merasa cukup untuk mencapai level berikutnya yaitu kesederhanaan dalam Dharma, atau masih mau mencari Artha ? Jadi jika direnungkan permasalahan itu di dalam diri kita, masalah cukup/melimpah atau belum (menurut ukuran diri sendiri), bukan masalah sudah di titik cukup/melimpah  atau belum (menurut ukuran kebanyakan orang). Kalau memang kita merasa kurang cukuap ya apa boleh buat lanjutkanlah pencarian materi tersebut sampai pada titik melimpah menurut ukuran kita sendiri.

Orang yang seprti dikatakan di artikel diatas banyak sekali, dan dengan variasi cukup/melimpah yang berbeda. Ada yang cuma mempunyai harta 10 juta, ada juga yang sudah 100 juta atau 1 M bahkan 1T. Kita liat batasan melimpah mereka bermacam2. tapi mereka sebenarnya telah sampai pada titik yang serupa yaitu “Sadar”. Kembali ke dalam diri kita masing2 yang sesungguhnya

semoga bermanfaat
-co-that-

Kakek Beragama Hindu?

Monday, February 23rd, 2009

Berjalan aku menuju undakan tempat dia duduk di pelataran Sanggah (sebuah area suci tempat pemujaan di Bali, yang biasanya terletak di timur laut area rumah). Dengan sebuah tongkat berukiran kepala naga sebagai gagangnya, dia menumpukan semua keletihan hidupnya.  Keletihan yang hanya tertera pada jasmani saja, karena belakangan aku mengerti level kesempurnaan yang dia dapatkan lebihd ari 90 tahun perjalanan hidupnya. Aku masih ingat umurku baru menginjak 17 tahun, karena hari sebelumnya aku ingat betul itu  pertama kalinya jatuh cinta dengan seorang gadis yang aku kenal di bangku sekolah, yang terhitung anak baru karenan merupakan pindahan dari Denpasar. Namun sekarang aku lebih merenungi hari dimana sebuah pertanyaan aku lontarkan ke hadap kakekku, dan mendapat jawaban yang tak bisa aku terima saat umur ku masih 17 tahun tersebut.

Aku    : “Pekak, ajain Agus agama!” (kakek ajari agus agama)

Kakek : “Ape to Agama??” (apa itu agama)

Aku      : *Kaget* “Agama Hindu!”

Kakek  : “Mih Pekak sing nawang keto2an!” (Kakek gak tau yang begitu begituan)

Aku      : “Lohh Pekak bukane agama Hindu?” (Bukannya Kakek Agama Hindu??)

Kakek   : “Pekak sing mesekolah gus, sing be nawang ape to Agama Hindu”(Kakek gak bersekolah gus, kakek gak tahu apa itu agama hindu), dilanjutkan dengan sebuah senyum yang gak akan pernah aku lupakan, karena itu adalah senyum kasih sayang terindah  dan juga merupakan  “senyum terakhir” untuku darinya.

Saat itu aku merasa kecewa bahwa ada anggota keluargaku yang sama sekali tidak mengenal agama, walau sedikit maklum karena beliau memang tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Tapi belakangan “Dunia Luar” membwa aku kemabali pada renungan itu, renungan sehari sebalum dia benar2 pergi meningalkan sebuah arti dalam hidupku sekarang ini. Kenyataan bahwa selama hidupnya dia tak pernah tau kalau apa “Label” dari agama yang dia anut, sedikit mengecewakan pada saat aku masih bisa melihat wajahnya, namun sekarang, hal itu membuat aku sangat terkagum-kagum dengan generaasinya dimana kebanyakan memang tidak mengenyam bangku sekolah formal. Generasi dimana ajaran Bhakti Marga (jalan Bhakti) lebih mengutama dibanding teori-teroi formal yang hanya menjadi bualan semata. Generasi dimana keiklasan berbakti tidak mengenal jarak, waktu apalagi hasil. Mereka berjalan beberapa hari menuju sebuah Pura yang sedang menyelenggarakan Upacara dengan keiklasan. Mereka berkreasi meningalkan karya-karya yang dinikmati generasi sekarang, padahal awalnya adalah untuk mengungkapkan rasa Cinta hanya kepada-Nya. Sekali lagi tanpa peduli apa “label” ajaran yang mereka anut saat itu dan balasan apa yang mereka idamkan dari pengorbanan dalam bakti mereka. Namun sebenarnya dalam ketidak tahuan tersebut, mereka telah melangkahkan kaki meniti tangga yang lebih tinggi dalah kesempurnaan hidup mereka.

Ajaran keiklasan tanpa pambrih yang belakangan menjadi pegangan dan fondasiku dalam menjalankan hidup yang masih berantakan ini, tanpa mempedulikan orang lain menyebutnya apa. Hanya ingin meresapi inti dari pemahaman tersebut dalam diri.

Trima kasih Engkau telah menyempatkan diri “mengajarkan aku Agama” sehari sebelum dirimu pergi untuk selamanya, trima kasih untuk kesempatan aku untuk “belajar” dari “penjelasanMu yang tanpa untaian kata-kata”, yang membuat aku merenung selama ini dan tetap akan merenung untuk makna yang labih dalam. Aku tidak tahu apakah engkau sengaja menunjukan kepadaku bahwa engkau tidak mengerti, untuk melatihku, mengingat banyaknya Lontar suci dan reputasi sebagai orang yang “dituakan dalam spiritual”, yang engkau tingalkan, atau memang engkau tak tahu. Tapi satu yang pasti “KetidaktahuanMu” membuat aku mengerti membuat aku tetap belajar mencari, menuntunku memasuki kehidupan dan hatinurani.

Trima kasih Pekak.. “Aku yakin Engkau telah mencapai “Kebahagian Abadi” kembali bersama-Nya”

Switch to our mobile site