Archive for the ‘Padamu Negeri’ Category

Saat Ngaben Masal Menjadi Salah Satu Solusi

Wednesday, September 14th, 2011

Kampung halaman saya, Bali, selalu menjadi sebuah dimensi ruang untuk me-refresh kembali kepenatan ibu kota yang saya bawa dari Jakarta. Berbagai masalah, tekanan bahkan kepalsuan serasa mengelupas, mencair dan mengalir dari sekujur tubuh, mengikuti gaya gravitasi, jatuh ke hangatnya pangkuan Ibu Pertiwi. Pada kepulangan kali inipun hal serupa terasa dari semenjak pertama kali menginjakan langkah kaki di landasan parkir pesawat Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Dan aura relaksasi dan meditatif (Baca juga In Bali Life is Meditaion) ini, selalu membawa pada renungan-renungan yang membelalakan mata, tentang kampung halaman saya yang satu ini. Tentang masalahnya, baik dari sudut pandang orang Bali sediri, maupun dari sudut pandang orang luar, dimana dalam hal ini saya mencoba menempatkan diri sebagai Observer-nya (Ceritanya menjadi orang Bali dan skaligus bukan Orang Bali :D ).

 

Kepulangan kali ini lebih banyak saya habiskan untuk berbagai kegiatan adat di beberapa tempat termasuk di desa sendiri, sebuah desa di sebelah utara kota Gianyar, Beng. Perioda pertengahan tahun (khususnya di bulan Agustus dan September) adalah perioda yang lumayan sibuk untuk kebanyakan masyarakat Bali. Dalam perioda ini, banyak diselenggarakan berbagai upacara musiman (tidak rutin) di berbagai tempat, karena memang dipercara di bulan-bulan inilah dimensi waktu memberikan kesempatan baik untuk melaksanakannya. Pernikahan (Manusa Yadnya) dan Ngaben (Pitra Yadnya) lebih banyak diselenggarakan di bulan-bulan tersebut. Dan kali ini saya lebih banyak terlibat dalam berbagai prosesi Ngaben di beberapa tempat. Hari kedua saya di Bali saya datang ke acara Ngelungah (Ngaben untuk bayi) salah seorang sahabat saya, di desa tetangga, Bitra. Kebetulan acaranya dilaksanakan berbarengan dengan prosesi Ngaben Masal di desa tersebut. Bahkan Ngaben Masal kali ini merupakan gabungan dari beberapa desa. Sungguh meriah acaranya. Arak-arakan Bade (Pagoda sebagai tempat membawa Sawa/Jenazah) dan Lembu (Sebuah patung dari kayu dan gabus,biasanya ya berbentuk lembu atau kadang singa tempat menaruh Sawa/Jenazah saat akan dibakar di kuburan), membuat saya terpesona kembali (Ceritanya bukan orang bali lagi), maklum 10 tahun saya habiskan hidup saya di luar Bali, dan selama 10 tahun tersebut sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah saya mengikuti prosesi ngaben masal seperti ini lagi. Arak-arakan tersebut bahkan mengharuskan lalulintas sepanjang jalan protokol yang dilalui harus dialihkan. Senang sekali.

 

Di desa saya sendiri, jauh-jauh hari juga sedang mempersiapkan perhelatan serupa. Walaupun sayang ,di desa sendiri untuk prosesi tahun ini saya tidak bisa mengikutinya karena harus kembali ke Jakarta sebelum acara dilaksanakan. Namun saya masih bisa menyumbangkan sedikit tenaga untuk ikut membantu prosesi acara, dimana kebetulan salah satu keluarga yang  ikut menyelenggarakan Ngaben Masal kali ini adalah sodara sendiri. Setiap senja menjelang, kami, para anggota banjar (RW) adat, berkumpul di Balai Banjar untuk “mencicil” persiapan yang diperlukan. Kesempatan ini menjadi sangat berarti buat saya, yang harus hidup di perantauan, untuk kembali berebaur menjadi bagian dari banjar, kembali berkumpul bersama anggota banjar yang sekarang lebih banyak didominasi oleh mereka yang dulunya adalah teman-teman sepermainan saya. Bercanda gurau, saling tegur sapa dan berbagi cerita serta ide-ide yang saya tidak sangka sangat brilian, keluar dari sahabat-sahabat saya, yang dulu saya ajak bersama-sama menarik layang-layang di tengah sawah. Tentu kesempatana ini saya sangat nanti-nantikan semasih saya merantau di Jakarta. Berbagi nostalgia yang tak mungkin bisa diraih kembali.

 

Di sela-sela cerita yang mengalir, bagai air sungai Batu Lampo di pinggiran desa tempat kami dulu bermain, bercanda, dan mandi bersama, sebuah konsep menarik kembali tertangkap dan terangkum dalam otak tentang  Ngaben Masal ini. Saya memang tidak banyak tahu bagaimana detail pelaksanaan Ngaben Masal, tapi saya melihat solusi-solusi seperti ini adalah solusi yang patut dikembangkan guna menjaga keseimbangan antara adat dan perekonomian masyarakat bali di tengah-tengah perhelatan globalisasi seperti sekarang. Sudah sangat jelas permasalah yang dihadapi masyarakat Bali di era globaloisasi, dimana kesempatan untuk berkembang dalam pendidikan, teknologi, dan karir lebih sering berbenturan dengan kewajiban dalam lingkungan adat yang kadang kaku dan kurang memberikan kesempatan anggota adatnya untuk berkembang lebih jauh dalam pilar-pilar pendidikan, perekonomian dan teknologi, (baca juga Rekonstruksi Pilar-Pilar Bali).

 

Manfaat yang bisa diambil dari pelaksanaan Ngaben secara masal adalah:

1. Biaya yang diperlukan bagi keluarga peserta bisa lebih ditekan. Dengan melaksanakan upacara secara berkelompok, banyak biaya, baik upacara maupun biaya lain bisa disatukan pengadaannya, karena banyak upacara/upakara yang bisa dijadikan satu  untuk beberapa peserta. Penghematan biaya ini  cukup signifikan hasilnya. Dengan demikian, keluarga yang kurang mampu tidak terbebani dengan biaya yang berat untuk bsia melaksanakan Ngaben. Disini kita bisa menegakan kembali pilar perekonomian masyarakat. Di jaman Addvertaising seperti sekarang ini, jumlah masa dalam pelaksanaan Ngaben Masal juga bisa menjadi sesuatu yang dijual ke berbagai perusahaan untuk pemasangan iklan. Operator selular misalnya, belakangan banyak program-program sosial skaligus marketing yang dikemas untuk membantu pelaksanaan Ngaben masal.Tentu dengan bantuan dana seperti ini, biaya yang dikeluarkan bisa lebih ditekan lagi.

 

2. Waktu pelaksanaan yang lebih terjadwal. Di Bali sebelum Ngaben jenazah dari keluarga yang meninggal bisa dikingsan (ngaben kecil/dititp di api) atau dikubur terlebih dahulu untuk nantinya dibakar pada waktu yang tepat. Untuk itu jika ada anggota keluarga yang meninggal, upacara ngaben bisa ditunda dalam jangka waktu tertentu, guna melakukan persiapan baik itu mencari hari baik atau persiapan financial. Degan demikian Upcara Ngabennya bisa disesuaikan waktunya, dan akan lebih baik jika dilakukan berkelompok dengan Ngaben Masal. Disini kita memperoleh flexibilitas waktu baik untuk anggota keluarga  melakukan persiapan, maupun anggota banjar lain untuk bergotong royong. Waktu untuk pelaksanaannya bisa diplot menjadi sebuah jadwal rutin satu,dua atau tiga tahunan, sehingga dalam satu, dua atau tiga tahun tersebut, anggota banjar yang lain hanya disibukan di plot waktu itu saja, bukan berkali kali. Ini akan memberikan waktu lebih luang buat anggota banjar yang lain untuk mengembangkan diri di luar adat.

 

Namun pelaksanaan Ngaben secara berkelompok ini menuntut peran anggota banjar lain lebih aktif. Jika dengan Ngaben pribadi peran anggota banjar lain tidak terlalu dituntut, dalam Ngaben berkelompok ini peran anggota banjar lebih dituntut karena harus dibentuk kepanitiaan khusus yang menangani berbagai macam hal di dalamnya. Namun sebenarnya hal ini lebih bisa diterima ketimbang proses Ngaben yang berkali-kali dalam kurun waktu tertentu. Disamping itu kepanitiaan juga bisa difocuskan pada anggota keluarga peserta Ngaben untuk lebih bisa berperan, sehingga mengurangi tanggung jawab anggota banjar yang bukan peserta. Jadi jika ditelaah lagi, pengelompokan proses Ngaben ini lebih banyak manfaatnya buat masyarakat Bali dan banjar yang bersangkutan.

 

Solusi-solusi seperti Ngaben Masal/Kelompok ini adalah solusi yang harus mulai kita telusuri untuk menjagi keseimbangan Bali ditengah-tengah perhelatan Globalisasi zaman sekarang ini. Dan untuk merealisasikannya juga dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk ikut berperan di dalamnya. Seperti halnya di beberapa Banjar di Bali yang sudah mewajiban Ngaben dilakukan secara berkelompok di dalam Awig-Awig(Undang-undang) adat mereka. Kita harus hilangkan kecendrungan masyarakat yang lebih mementingkan Gengsi dan Ego. Sudah saatnya Genggsi dan Nama besar itu kita alihkan dalam bentuk yang berbeda, bukan lagi menonjolkan diri dengan kemewahan, tapi menonjolkan diri dengan lebih banyak berbagi bagi masyarakat, dalam hal ini anggota Banjar lain yang merupakan kelompok masyarakat terdekat kita. Kebanggaan bisa berbuat sesuatu buat masyarakat saya kira sama nilainya, bahkan lebih, ketimbang kebanggaan dengan berpamer kemewahan yang malah akan memunculkan kecemburuan sosial dan perpecahan antar anggota bangjar sendiri. Semoga kita bisa membangun Bali dan memperkuat Ajeg Bali dengan pemahaman-pemahaman seperti ini.

 

 

Semoga Bermanfaat.

 

Dirgahayu Indonesiaku

Friday, August 28th, 2009

Walaupun Jepang punya Gunung Fuji, Kita punya Rinjani
Walaupun Malaysia Punya Petronas, Kita Punya Tugu Monas
Walaupun Amerika punya Hawai, Kita Punya Belitung, Lombok, dan Bali yang Damai
Walaupun Singapore punya Merlion sang Singa, Kita punya kemegahan GWK
Walaupun Mesir punya Piramida, Kita Punya Prambanan, Borobudur dan Candi Arjuna

Lihatlah apa kecantikan yang bangsa lain punya kita tidak?
Berbanggalah kita lahir di bumi pertiwi ini
Berbanggalah kita ditakdirkan untuk menikmati semua ini
Bersama dalam perbedaan…..

Indonesia….
Hanya beberapa Giga Byte saja aku mampu menyimpan Kecantikanmu di dalam Memory Kameraku.. tapi jangan kawatir selebihnya aku akan selalu simpan dalam Hatiku. :)

Dirgahayu Indonesia-ku Tercinta. I Love U FULL

I Love Indonesia

I Love Indonesia

No Need allot of Money to Get a Great Facilities

Thursday, May 15th, 2008

Pernahkah kita membayangkan, desa kelahiran kita yang mungkin letaknya di pelosok , memiliki sebuah laboratorium untuk para pemudanya mengembangkan diri, siap bersaing secara individu di dunia yang sudah mulai datar ini??, dan fasilitas itu bisa diperoleh dengan biaya yang sangat murah? Membayangkan bagaimana pemuda pengrajin ukiran khas daerah setempat, yang selama ini hanya menjadi “buruh” para distributor, menjajakan hasil karya mereka di Friendster/ Multiply / bloger.com atau Kaskus.us atau bahkan e-bay(kalo gak di black list indonesia :D )? dan ikutan berperan dalam distribusi hasil keringat mereka sendiri, keseluruh belahan dunia? Di dunia dengan teknologi yang mulai mendatarkan dunia itu sendiri, semua itu sangatlah mungkin.

Bermula dari kebutuhan akan sebuah server, untuk development aplikasi berbasis PHP-Mysql, yang sebenarnya tidaklah membutuhkan spesifikasi mesin yang tinggi, apalagi tampilan grafik yang aduhai, ide gila ini muncul dengan tiba-tiba.

Pagi itu,tak sengaja perhatianku tertuju pada beberapa PC bekas yang telah lama tidak digunakan, yang diletakkan di kolong meja beberapa senior di kantor. Dan saat itu juga teringat sebuah petikan yang disampaikan Lhutfhy (bener gak sih tulisan loo kayak gini?? salah terus gw :D ) beberapa hari sebelumnya, “System yang baik bukanlah System yang memiliki fungsi yang lengkap untuk kebutuhan semua orang, tapi System yang memiliki fungsi yang lengkap untuk kebutuhan orang yang menjalankan System tersebut”. Kembali aku bertanya, pada diriku, untuk melakukan Komperasi kebutuhanku saat ini. Yang aku butuhkan sekarang hanyalah mesin development yang usernya sudah pasti hanya diri sendiri dan hanya akan menggunakan service dari Apache dan Mysql. Kebutuhan ini tidaklah membutuhkan spek mesin yang tinggi apalagi Operating System dengan Graphical User Interface yang wah, aduhai, dan bahenol seperti yang ditawarkan beberapa OS dari vendor terkenal, dan dengan haraga beberapa ratus dolar.

Dari situ aku mulai mengumpulkan beberapa PC bekas (Processor Intel Pentium III 650Mhz, HD 12 GHz, Memory 256Mhz)yang tidak dipakai tersebut, test drive, dan tokcer BIOS muncul dengan senyum lebar. Mantap jalan semua, sekarang tinggal mencari solusi OS yang murah namun powerful dan mudah untuk dioperasikan. Berikut beberapa pilihan OS yang pernah aku gunakan:

1. Mac OS X? heheheh udah pasti mahal dan gak mungkin jalan dengan mulus di PC rakitan berbasis Intel bukan besutan Apple.

2. Windows Vista? hmmmmmm kelaut aje dengan spek seperti itu, minimum memory aja 2 GHz (recommended), yang ada malah meledak tu PC butut.

3. Windows XP?? hmmmmmm tetep aja terlalu mahal jika aku compare dengan kebutuhanku.

Pastilah pilihanku jatuh pada beberapa distro Linux.

4. Red Hat dan variannya?, walupun ada yang gratisan, aku cuma punya 1 CD kosong, itu juga minta Ma Mas Eka seniorku skaligus empunya PC bekas tersebut, masak udah ngerampok PC-nya, sekarang minta CDnya banyak2 pula kekekek gak deh.

Tak pelak lagi OS Idolku jatuh pada Ubuntu Sang Linux For Human Being, Ksatria Pringgondani (lah ini kok kayak Gatotkaca?) yang tentu distribusinya bisa aku donwload pada saat itu juga dengan gratis dan langsung burn ke 1 keping CD rampokan dari Mas Eka tadi. Dan perlu aku garis bawahi, Distribusi yang aku donlot adalah Ubuntu 8 yang merupakan RELEASE TERBARU.

Aku Instal, gak nyampe setengah jam proses instalasi + instalasi program yang aku butuhkan seperti FreeNX untuk remote desktop, OpenSsh dan Ftp untuk secure remote console dan file sharing, Apache,Php dan Mysql untuk web development, dan abrakadabra…… JREEEEEEEEENGGGGGGG sebuah mesin development yang aku butuhkan-pun siap “menari-nari” di depanku. OS Ubuntu Versi terbaru yang berjalan diatas PC bekas dengan spek yang ampun dah, kalo dijual mungkin udah gak ada yang mau beli lagi, kecuali tukang besi kiloan, Namun sekarang siap aku gunakan untuk development Web Berbasis PHP-Mysql dan maenan “Si Pinguin” yang lucu itu(red Linux) baik untuk Ngenet, Chating, Coding, Parsing,Debuging ammmppee Nungging.

  1. Remote My Little Ubuntu from My Cute Mac OS X

Dari situlah aku berfikir bahwa untuk mendapatkan sebuah fasilitas yang bagus tidaklah membutuhkan biaya yang besar. Bayangkan bila PC2 bekas itu aku kumpulkan dari perusahaan2 yang udah gak memerlukannya lagi atau instansi pemerintah yang udah upgrade ke system yang terbaru tanpa disertai dengan upgrade kebutuhan dan OTAK!!!!. Lalu Linux sebagai OS-nya yang gratis, dan dengan koneksi internet paket speedy office(biaya minta aja ma pemda,dari pada dikorupsi :P ), sebuah lab yang terhubung ke Internetpun terbentuk tanpa biaya yang mahal. Bayangkan kalau fasilitas tersebut dimanfaatkan oleh desa2 dengan usaha kecil dan rumahtangga sebagai basis ekonominya, atau sekolah2 memiliki anak didik dengan semangat untuk maju namun tertindas oleh anak2 pejabat yang menyingkirkan mereka dengan kekuatan ekonomi dan kekuasaan. dengan sedikit arahan dan training singkat, aku yakin mereka (red para pemuda dan siswa) mampu mengembangkan kreatifitas diri dan berkreasi di dunia maya dan bersaing dengan mereka yang disuport dengan fasilitas lengkap bahkan sangat berlebih dari orangtua (sukur2 buakan hasil korupsi) namun tiada dapat memanfaatkannya.

Mungkinkah aku mewujudkannya setidaknya untuk desa dan almamaterku sendiri di desa nun jauh disana?? melihat apa yang dilakukan Om Ono W Purbo…… kenapa gak!!!! KASI DAHHHH!!!

Saung Angklung Mang Udjo

Thursday, December 6th, 2007

Pagi itu bunyi dering telepon di sebelah tempat tidurku memaksa mata, yang dengan berat, untuk terbuka dan membiarkan cahaya mentari pagi masuk membiaskan warna dalam otakku. Dengan perlahan tapi pasti, object pertama yang dimengerti oleh otakku melalui visualisasi dari mata, adalah muka Vicky, teman sekamarku di ruang 411 Hotel Jayakarta Bandung, skaligus pemilik handphone yang berdering tadi, yang masih tertidur tidak terusik oleh alarm yang dia set sendiri malam sebelumnya. Yah mungkin apa yang dirasakannya saat ini mirip dengan apa yang aku rasakan, dimana berat terasa pada kepala ini, mungkin efek dari beberapa gelas Southern Comfort yang kami tenggak bersama di MU Cafe PVJ Bandung yang baunya masih terasa pekat melekat di mulut ini, masih membuat kami enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Namun mau tidak mau aku harus memaksa mengangkat kelopak mataku dan beranjak dari tempat tidur serta kemudian menuju kamar mandi mengingat hari ini kami harus kembali mengikuti serangkaian kegiatan family gathering kantor tempat kami bekerja, yang telah mulai diselenggarakan di hari sebelumnya. Disamping itu kami juga harus mengejar sarapan di Hotel yang akan tutup pukul 10.00 waktu setempat :) .

Selepas sarapan dan mandi pagi aku bersama rombongna akhirnya mumulai lagi perjalanan di pagi hari yang cerah ini, dengan udara segar khas bandung yang jarang aku rasakan di jakarta. Tujuan kami berikutnya adalah Saung Angklung Mang Udjo… Hmmm di perjalanan yang ada hanya penuh pertanyaan tentang tujuan kami yang satu ini. Sepintas sepertinya ini adalah sebuah tempat berbelanja oleh-oleh khas Bandung, tapi sesampainya di sana ternyata yang kami temui adalah semacam paguyuban kesenian angklung yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Sambutan hangat dari penerima tamu membuka perkenalan kami dengan sebuah kalung miniatur angklung yang dililitkan di leher setiap pengunjung, seakan mengikatkan kami kembali pada sebuah budaya Indonesia khusunya Sunda yang terasa sudah menjauh dari hati para pemudanya, yang sekarang lebih banyak memilih untuk melestarikan budaya orang. Suasana pedesaan yang ditawarkan oleh design arsitekrur tradisional khas Sunda dengan tedungan nyiur meneduhkan suasana yang mulai memanas diterpa teriknya mentari Jawa Barat.

Langkah kami terarahkan oleh beberapa gadis, yang menyambut kedatangan kami dengan manisnya senyum, ketulusan dan dandanan alamiah khas mojang parahiangan yang jauh dari kesan fashion modern dan hingar bingar Jalan Dago yang lebih diminati kebanyakan kaum muda sekarang, ke sebuah aula pertujunjukan yang telah menyajikan alunan merdu music sunda sebagai sambutan berikutnya, yang dengan indah didendangkan dari kombinasi alat musik khas Sunda oleh beberapa pemuda dengan penuh penghayatan iramanya. Duduk di undakan aula yang melingkar dengan penerangan redup dari lampu lampu panggung, mengantarkan aku pada sebuah renungan manis disertai dengan senyum kebanggaan melihat mereka yang beraksi di depan sana, dengan fasih membawakan lagu lagu top40, dangdut, bahkan lagu classic layaknya Mozart yang bangkit kembali dari liang kubur namun dengan equipment yang berbeda. Aransement Sunda yang merdu dan memikat, menegurku, menyadarkan aku serta memberikan pandangan lain bahwa budaya bangsa ini belum bangkrut oleh gempuran budaya asing yang menerjang seperti sunami, masuk ke dalam jiwa anak2 muda Indonesia. Masih ada mereka-mereka ini yang masih akan mempertahankannya untuk jangka waktu yang cukup lama, untuk jangka waktu dimana anak cucu kita masih akan bisa menikmati bahkan ikut melestarikannya.

Dengan arahan dua dara manis, kami keluarga besar IT Telkomsel disuguhi atraksi memukau yang seakan membuat kami menemukan sesuatu yang sebenarnya milik kami yang hilang ditelan derasnya kebudayaan asing yang telah menjadi keseharian mereka yang hidup di kota kota besar. Kebahagian penuh persahabatan terpancar dari senyum manis anak-anak yang kira-kira usianya baru memenuhi syarat untuk masuk Taman Kanak-kanak kelas nol kecil sampai remaja-remaja, yang bagi kebanyakan orang disebut ABG, namun buatku sebutan itu tidaklah pantas buat mereka, karena sebutan Anak Baru Gede hanya buat anak-anak muda yang larut dalam hingar bingar mode yang menjadikan bangsa ini bangsa konsumtif dan bangsa yang melupakan budayanya sendiri. Dari pargelaran wayang golek singkat, atraksi tarian dan music tradisional sunda, sampai mengajak penonton untuk belajar memainkan angklung dan ikut membawakan lagu lagu pop dan dangdut populer, disuguhkan dan dikemas degan rapi dalam sanggar ini. Ditambah lagi atraksi anak-anak yang dengan mahir memainkan angklung bambu dengan gaya “Head Bang” layaknya pemusik Metal ala barat yang penuh emosi dan keras, namun oleh improfisasi anak-anak ini menjadi sesuatu yang menggelitik penuh kekaguman. Dengan lepas mereka menghayati peran mereka masing masing namun penuh keseriusan memberikan suasana meriah dalam aula sederhana tersebut.

Kesan ramah dan persahabatan pun merenggut perhatian kami yang mulai letih dalam perjalanan baik dalam perjalanan 2 hari di Jawa Barat ini maupun perjalanan hidup kami masing-masing. Ditambah suasanan teduh dan nyaman khas pedesaan memanjakan kami selepas pertunjukan. Makan siang di atas padang rumput hijau beralaskan tikar sulaman sederhana dan dibawah tedung agung nyiur, yang bayangannya menghalau sebagian cahaya Sang Surya yang juga ikut meramaikan acara kami, membawa kami ke dalam suasana malas, relex dan damai. Dan tak terasa kedamaian ini membawa kami pada kebersamaan dan larut dalam cerita yang keluar silih berganti dan membiarkannya berlalu terbawa angin pedesaan yang berhembus menghapus peluh dan penak dalam hati.

Saung Angklung Mang Udjo Sebuah tempat yang layak untuk dikunjungi bersama keluarga tercinta, menikmati suasana kebersamaan dan mendidik bagi putra putri kita, yang dimana tongkat estafet kebudayaan akan diserahkan. SEMOGA.

Waktupun berlalu dengan pasti dan tanpa kompromi memaksa kami meninggalkan suasana yang kalau bisa ingin rasanya di bawa ke Jakarta. Namun apa daya yang bisa di bawa hanya 2 buah seruling sunda yang melengkapi koleksi seruling bambuku yang akan ku maenkan mengenang masa-masa kejayaan bangsa ini bukan hanya geografis tapi kejayaan dalam budaya yang sekarang entah kemana. Akhir kata hanya bisa memanjatkan doa semoga keelokan budaya ini masih akan tetap bertahan hingga cucu kami bisa menikmatinya, bahkan ikut mempertahankannya. Amin.

http://www.angklung-udjo.co.id/
Salute for Saung Angklung Mang Udjo
-co-that-

2 Hari di Jalan Sehari di Jogja :)

Wednesday, November 7th, 2007


Pagi pagi buta aku udah terbangun oleh udara panas dan alunan suara Takbir di Masjid sebelah. Ya karena hari itu emang bertepatan dengan hari Kemenangan bagi sodara-sodaraku umat muslim, Hari Idul Fitri 1 Syahwal 1428 Hijriyah, yang jatuh pada tanggal 13 Oktober 2007 penanggalan masehi. Namun aku dan Bli Ananta punya agenda lain di hari yang penuh semangat ini. Hari ini kami berencana untuk menempuh perjalanan mengunjungi sebuah kota, yang selama ini menjadi impianku untuk megunjungi melebihi singapore :D . Jogja!! Borobudur!! Prambanan!! Malioboro!! tempat-tempat impian yang sangat ingin aku kunjungi dari semenjak SMU dan Kuliah namun sekalipun tak pernah terwujud.

Persiapanpun sudah matang dengan tentunya mandi dulu sebalum berangkat (dengan berat hati). pukul setengah 6 padi kami berangkat dari Jakarta mengendarai Terios baru milik Bli Ananta. Singkat kata kami udah samapai di Jogja(singkat??? gila seharian brooo nyasar kemana2 dulu kekekkeke). Ya memang gak ada yang menarik selama perjalanan menuju jogja, aku hanaya habiskan dengan tidur dan makan hehehhe. sempet pula kami mandi di sebuah spbu di daerah jawa tengah. Yang menarik hanyalah pemandangan dimana banyak sekali kami temukan para pemudik bermotor yang mungkin aku bisa bilang sangant nekat, membonceng istri yang sedang menggendong anak balita di tengah mereka. Pemandangan yang ……. akhh susah untuk diungkapkan, antara prihatin ama kagum akan niat mereka untuk berkumpul dengan sanak keluarga di Hari Kemenangan itu.

Pukul 21 lewat dikit, akhirnya kaki menginjak tanah Jogja. Rasa senang di hati tak tertahankan lagi walupun bagian bagian tubuhku rasanya sedang berunjuk rasa menuntut “kemerdekaan”. Akhhh rasanya akan terjadi disintegrasi di badanku ini. Tapi rasa senang ini mempersatukan semuanya kembali.

Minggu 14 Oktober 2007, hari yang indah dengan udara yang sangat segar khas Jogja (jangan dibandingin ama jakarte) kita mulai bersiap untuk mengitari Jogja. Tempat pertama yang menjadi tujuan kami adalah Borobudur, ya walaupun tempatnya sedikit agak jauh dari tempat kami menginap, tapi keinginan untuk menyaksikan salah satu keajaiban dunia (mantan :( ) yang sangat membanggakan sudah tak tertahankan. Salah satu karya terbesar anak bangsa ini. Borobudur…. singkat kata tibalah kami di pelataran Keagungan Sang Kemulan yang seakan menyambut kami dengan keangkuhan mengingat kemegahannya menutupi birunya langit Magelang.

Namun energi spiritual yang ingin sekali aku rasakan sepertinya kali ini terasa kurang menyentuh kulit dan jiwaku. Memang tujuanku ke Borobudur sebenarnya untuk merasakan getaran spiritual Sang Kemulan, namun suasana panas dan keramaian membuat semuanya terasa berkurang. Mungkin waktuku memang salah, tapi aku tidak kecewa, keindahannya sudah cukup mengobati kerinduanku pada Jogja. Waktupun kami habiskan untuk berfoto-foto ria, bercengkrama dengan stupa-stupa yang mulai tidak dihargai nilainya, bagimana tidak, pengunjung sama sekali menganggap stupa-stupa ini hanya tumpukan batu sungai yang dipahat, tanpa mempedulikan nialai sejarah dan spiritual dibaliknya. Sangat menyedihkan. Walaopun peringatan dalam bentuk tulisan dan peringatan langsung telah diberikan namun sama sekali tidak di gubris, kalo saja ini jaman dimana Sang Kemulan dibangun dan disucikan, mungkin para pengunjung itu sudah dipancung oleh prajurit kerajaan. Hahh seprtinya keluhanku itu juga kurang pantas aku utarakan mengingat tabiat bangsa ini belakangan, yang membuat pelanggaran seperti itu menjadi suatu kewajaran, apa lagi di Jakarta huhhhhh.

Yup tak terasa waktu sudah siang, waktunya makan siang…. pecel sederhana dan gudeg khas jogja menjadi santap siang kami di sebuah warung sederhana di sekitar candi. Dan kamipun berpisah dengan sang Candi menuju tujuan berikutnya, Maliobor. Tidak banyak yang bisa aku ceritakan tentang jalan yang paling terkenal di Jogja ini. Ya karena kesempatan kami memang tidak banyak untuk menelusurinya, kami hanya punya waktu satu jam untuk berjalan santai sambali membeli sufenir di Malioboro, karena kami harus bergegas pulang agar kami tidak ketinggalan Pargelaran Ramayana di Prambanan (gak sempet mandi pula :D ).

Sekitar jam 8an aku berangkat dari kosan ponakan yang kebetulan ikutan naek motor, lumayan jauh dari sana. Sesampainya di wilayah Candi kami kebingungan mencari tempat pargelaran. Sebuah plang bertuliskan “********** RAMAYANA” (lupa depannya yang jelas ada Ramayana nya) terlihat oleh mata dibalik suasan gelap jalan. Tapi entah kenapa aku tetap saja memacu kendaraan lurus, dan akhirnya tersesat. Setelah bertanya ternyata memang plang tadi menunjukan tempat dimana kami harusnya membelokan stang kendaraan kami. Dan ternyata jalur yang sudah terlanjur kami tempuh adalah jalur yang mengitari wilayah candi yang, Ya Tuhan, luas sekali. Ditambah lagi suasana gelap gulita sepanjang perjalanan yang menambah bulu roma agak sedikit merinding. Dan akhirnya kami tiba di pelataran candi tempat pargelaran yang telah berlangsung beberapa menit. Namun langkahku terhenti melihat kemegahan candi dalam kegelapan dan hanya disorot cahaya kuning dari lampu penerangan di depannya. Megah, indah, dan menakjubkan… itulah rasa yang bergelora seperti listrik yang menjalar dari pelupuk mata mengakar ke hati dan mengalir ke sekujur tubuhku melalui pembuluh darang yang mulai kdinginan. Dalam hati aku baru mengerti baha waktu keinginanku untuk memacu motor pada jalur yang tidak seharusnya, mungkin, adalah telah diarahkan-Nya sehingga aku bisa merasakan energi spiritual yang luar biasa ini. Kaki serasa gemetar tak bisa melangkah, tapi genggaman tangan dingin dari keponakanku mengembalikan aku pada kesadaranku, setelah terlelap menyusup pada indahnya energi yang dipancarkan Sang Candi.

Akhirnya kami masuk ke dalam pergelaran menyaksikan sebuah sendratari warisan leluhur yang oleh para penari yang cantik-cantik, masih tetap dipertahankan. kenyataan ini menyadarkanku bahwa budaya bangsa ini belum tamat. Di tangan mereka tongkat estafet itu masih bergulir untuk jangaka waktu yang tak tentu. Dalam hati hanya bisa berdoa semoga cucuku masih tetap bisa meikmatinya.

Waktupun brlalu dengan pasti seiring carita Perjalanan Sang Rama dan Laksmana menyelesaikan tugasnya untuk memberikan inspirasi kemuliaan yang tersirat dalam perjalanan mereka.

Hari yang melelahkan tapi menyenangkan. Kamipun pulang dan beristirahat untuk mempersiapkan tenaga untuk perjalanan esok hari menuju jakarta.

Itulah seklumit perjalanan ku saat mengunjungi Jogja tempo hari, dalam perjalanan banyak renungan yang masih membekas dalam hati, menjadi oleh-oleh yang menyejukan untuk aku kembali menghadapai panas dan kerasnya Jakarta. Berikut ada sedikir cerita dalam foto yang aku ambil selama di jogja:

Dan keberangkatan kami sangat disejukan oleh indahnya senyum para penerus kebudayaan bangsa ini

PS: ternyata di sebuah SPBU di sekitat tegal ada pemandian Air Panas huuuuuhhh enaknyaaaaaa

Senyum-Senyum Manis di Parapatan Mampang

Wednesday, May 9th, 2007


Belakangan aku sering sekali pulang kantor larut malem, hehe bukan karena rajin cari lemburan, tapi emang aku merasa sedikit lebih nyaman kalau bekerja malem, sembari menunggu jalanan sedikit lega, terbebas dari kemacetan. Lagipula semua hiburan untuk melepaskan penat ada di kantor, ngenet, nonton film, atau cuma menikmati lampu-lampu kendaraan yang terjebak kemacetan Jakarta. Ternyata kemacetan tidak selamanya bikin orang pusing, di sisi lain kemacetanpun bisa menjadi pemandangan yang sangat indah dan memberikan kesejukakan di mata, setelah seharian rasanya sangat perih menatap layar monitor. Itulah keagungan-Nya, kesempurnaan karya-Nya. Semua ciptaan-Nya selalu memiliki dua sisi yang saling melengkapi. Sayang manusia terbiasa melihat dari satu sisi saja, dan sialnya lagi kebanyakan sisi yang dilihat hanya sisi negative. Semua ciptaan-Nya pasti ada sisi yang penuh pembelajaran buat manusia. Jadi mungkin kita harus bisa belajar untuk selalu berfikir positive untuk memperoleh keindahan dalam hidup ini. Heheh jujur aja aku juga lagi belajar, walopun belum bisa. Masih banyak hal yang belum bisa aku terima dengan lapang dada, masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Salah satunya………..

Setiap malam aku pulang mengendari motor bututku, yang dijuluki Grand Butut Pertamax sama si mBu, ya karena memang walupun butut tapi makanannya Pertamax hahahahha. Aku selalu pulang memutar lewat jalan belakang antara Wisma Mulia dan gedung Jamsostek, kemudian menyebrang masuk ke Jl. Tandean, dan berhenti di parapatan Mampang menunggu lampu hijau menyala (heheh gak pernah aku langsung dapet lampu hijau di sini, kekek gak tau deh, gak jodoh kali yaa??). Nah di sinilah pemandangan yang, yahhh mungkin belakangan sudah mulai menjadi hal yang biasa dalam keseharianku, pemandangan yang sebenarnya sudah menjadi pixel-pixel warna yang biasa menghiasi kanvas(lo pixel kok kanvas?? Monitor kalee :D ) kehidupan kota Jakarta.

Senyum senyum manis dari belasan anak-anak, yang beberapanya masih tergolong balita, bercanda satu sama lain di pinggiran pemberhentian lampu merah Mampang. Make up mereka terbuat dari debu jalanan bercampur asap kenalpot metro mini, yang harusnya sudah dimusiumkan eh gak dink dikiloin aja jadi besi tua! :D . Memang mereka selalu memasang muka memelas saat menadahkan tangan-tangannya yang mungil di depan kendaraan yang berhenti, tapi saat mereka bercanda dengan sesamanya, aku melihat keceriaan dan senyum polos terpancar dari muka-muka, yang seharusnya menjadi tulang punggung bangsa ini. Dan keceriaan itu harusnya tidak mereka habiskan di jalanan seperti itu, mungkin akan lebih baik kalau di sawah berlari menarik layangan, di sungai terjun bebas dari tebing-tebing dan berenang melawan arus air, bukan arus kehidupan ibu kota yang keras. Atau mungkin seharusnya menghiasi mimpi indah dalam tidur mereka, apa lagi pemandangan itu selalu aku alami diatas jam 9 atau 10 dimana seharusnya mereka sudah tidur seperti anak-anak kebanyakan. Yahh apa boleh buat?? Kadang aku berhayal, ”Apa yaa yang bisa aku perbuat buat mereka??” yahh mudah-mudahan suatu saat aku bisa membantu mereka, yaa walopun tidak banyak.

Tapi ada hal yang kadang membuat aku kesal dan membuat otak ini bertanya-tanya. Sesekali aku pulang lewat tengah malam, dan aku sering kali melihat mereka ternyata dijemput oleh mobil pikup atau motor bagus, aku gak tau apakah keberadaan mereka di jalanan seperti itu memang diorganisir oleh oknum-oknum yang sengaja memanfaatkan kepolosan mereka untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya. Yang jelas hal itu sangat tidak bisa aku terima.

Mungkin anjuran Papa T Bob untuk tidak memanjakan mereka,dengan memeberikan uang ada benarnya juga. Itu malah akan memberikan keuntungan bagi pihak-pihak yang sengaja memanfaatkan mereka. Tapi saat berada di depan muka-mukan penuh kepolosan itu, aku gak bisa untuk mengikuti anjuran Papa T Bob itu. Aku berharap uang itu mereka bisa sembunyikan agar tidak dimakan semuanya oleh oknum-oknum tadi. Kadang yang bisa aku berikan hanya membalas senyum-senyum nan cantik itu, walaupun gak berarti apa-apa, mudah-mudahan bisa sedikit meramaikan keceriaan mereka.

Hahhhhhh apa yaaa yang bisa diharapkan dari kondisi seperti itu? Kemajuan bangsa?? Hmmm kayaknya gak mungkin ada bangsa yang bisa maju jika kebahagiaan anak-anaknya dimanfaatkan untuk keserakahan seperti itu. Tapi pesimis juga bukan pemecahan. Hal yang bisa kita lakukan adalah mencari solusi untuk mereka, yaa walaupun keliatannya susah. Mungkin pendapat dan unek-unek yang dilimpahkan dalam tulisan-tulisan di dunia mayaseprti ini bisa menjadi alat untuk kita, setidaknya membangkitkan kesadaran kita terhadap lingkungna sekitar kita, dan untuk bisa berbuat sesuatu buat mereka. SEMOGA!!!

Semoga Semua Mahluk Berbahagia!!

Switch to our mobile site