Archive for the ‘Motivations’ Category

Titik Kesuksesan atau Titik Kesadaran?

Monday, April 6th, 2009

Pagi itu  seorang teman  datang dengan sebuah artikel menarik, yang dilepasnya di sebuah thread di milis  komunitasku di dunia maya. Artikel itu sangat menarik, menceritakan seorang yang telah mencapai kesuksesan baik dari materi maupun prestasi, yang kemudian merasa semua hanyalah hal yang maya dan memutuskan untuk kembali pada kehidupan yang sederhana di pedesaan. Cerita ini mirip dengan cerita Andy F Noya (pembawa acara Kick Andy) yang juga melakukan hal yang sama, mengundurkan diri dari posisis direksi sebuah TV swasta terkemuka di tanah air ini, untuk sebuah kehidupan baru keluar dari kondisi nyamannya. Dan banyak lagi orang2 sukses yang melakukan hal yang serupa, melepas keterikatan mereka akan materi untuk kehidupan sederhana dan tanpa tekanan (bayak aku jumpai di daerah Ubud, dimana banyak orang asing yang hidup sederhana layaknya penduduk setempat, dan melakukan aktifitas yang sama dengan penduduk seperti  bercocok tanam di sawah)

Yang menarik, seorang teman menanyakan hal berikut:

“kalo kita belum pernah merasakan kondisi keberlimpahan materi seperti itu,
kira-kira apakah kepikiran untuk mengatakan materi bukan salah satu hal utama dalam hidup ini ??
 

Merujuk kepada tujuan hidup kita kan ada
Dharma, Arta, Kama dan Moksa.”

Maka saya mencoba merenung untuk menemukan jawaban pertanyaan sahabat saya tersebut, bercermin dengan keadaan hidup saya sendiri. dan menyimpulkan sesuatu yang sedikit melegakan hati saya.

Saya sendiri merasa belum mencapai kondisi berlimpah materi seperti yang dibilang di artikel ini, tapi saia belakangan sependapat dengan orang-orang yang diceritakan dalam artikel di atas. Saya ingin sekali hidup dalam kesederhanaan pedesaan yang damai.

Manuasia itu selalu menginginkan lebih tanpa batas. Tapi manusia yang telah “Sadar” malah akan ingin kembali pada kesederhanaan tanpa ikatan dan tekanan. “Kita merasa kita belum berlimpah materi. Tapi buat orang lain yang tidak seberuntung kita, kondisi yang telah saya capai ini sudah sangat melimpah (skali lagi manusia tak akan pernah merasa cukup)”. Intinya disana, saat kita “sadar” kenyataan itu maka kita pun akan merasa telah berlimpah dan jenuh dengan “pencarian materi tersebut”.  Dan pada saat itulah kita merasa sudah sangat melimpah dan menginginkan kehidupan yang sederhana dan membelokan tujuan hidup ke arah yang lebih “bernilai”.

Karena sebenarnya batasan berlimpah atau tidak itu tak bisa diukur dengan jumlah materi tertentu, tapi dengan kesadaran bahwa semua itu tak akan ada habisnya. Jadi  renungan atas “Kesadaran” itu tidaklah harus kita lakukan setelah mencapai jumalah materi tertentu (karena memang tidak ada ukurannya) tapi tiap saat. Merenungin apakah kita sudah merasa cukup untuk mencapai level berikutnya yaitu kesederhanaan dalam Dharma, atau masih mau mencari Artha ? Jadi jika direnungkan permasalahan itu di dalam diri kita, masalah cukup/melimpah atau belum (menurut ukuran diri sendiri), bukan masalah sudah di titik cukup/melimpah  atau belum (menurut ukuran kebanyakan orang). Kalau memang kita merasa kurang cukuap ya apa boleh buat lanjutkanlah pencarian materi tersebut sampai pada titik melimpah menurut ukuran kita sendiri.

Orang yang seprti dikatakan di artikel diatas banyak sekali, dan dengan variasi cukup/melimpah yang berbeda. Ada yang cuma mempunyai harta 10 juta, ada juga yang sudah 100 juta atau 1 M bahkan 1T. Kita liat batasan melimpah mereka bermacam2. tapi mereka sebenarnya telah sampai pada titik yang serupa yaitu “Sadar”. Kembali ke dalam diri kita masing2 yang sesungguhnya

semoga bermanfaat
-co-that-

Kalung atau Gelang Mutiara

Tuesday, January 6th, 2009

Nusa Lembongan, Kamis 01 Januari 2009

Sebuah pagi yang diawali dengan segelas teh manis panas, dengan asap yang masih mengepul secara tidak sengaja membasuh dengan sendirinya mata yang sembab akibat kurang tidur beberapa hari sebelumnya. Terdengar gemuruh ombak yang menampar pipi kanan dan kiri Nusa Lembongan, dan mungkin juga terdiri dari butiran butiran air yang hari sebelumnya mengulung mengantarkan kami, para anggota BBC menyebrang ke Lembongan. Sebuah perjalanan yang juga bisa dibilang sedikit mengerikan, karena kami menyebrang setelah diberitakan beberapa orang terseret ombak, yang mungkin berasal dari gulungan yang sama dengan gulungan ombak yang menyebrangkan kami tersebut. Dari lamunan tersebut terbesit pertanyaan “apa yang akan terjadi pada detik ini kalau ombak kemarin itu mengila dan membalikan kapal kami”.

Gak ada yang tahu apa yang akan terjadi detik-detik berikutnya dalam setiap titik hidup kita. Walaupun kita sehat walafiat tanpa kekurangan apapun, kita tetaplah hanya seorang manusia yang telah ditentukan jalan hidup dan matinya. Bahkan seorang John F Kennedy, yang merupakan seseorang yang telah disiapkan dengan penjagaan luar biasa, sedetik sebelum tertembak, tidak menyangka akan ada butiran panas menembus kepalanya pada detik berikutnya. Apa lagi kita yang kadang menganggap diri bukan siapa-siapa.

Tapi yang paling penting, sebenarnya bagai mana kita menjalin tiap butiran-butiran hidup kita menjadi untaian mutiara, bukan hanya butiran aliminium yang nilainya kurang berkesan. Kita tak bisa menentukan apakah untaian itu akan menjadi Kalung ataukah hanya sebuah Gelang, tapi yang penting kita bisa membuat setiap bagiannya menjadi mutiara yang berharga. Itulah kenapa Quote di header blog ini adalah

“Hidup Itu Indah Kalau Kita Menyadari dan Menghargai Setiap Perubahan di Dalamnya”.

Kita sering melewati banyak hal begitu saja, tanpa menyadari kalau hal tersebut adalah berharga. Walau hanya sebuah kekaguman akan rumput yang bergoyang, kalau kita bisa menghargainya seperti halnya penghargaan akan keindahan Jatiluwih dengan biru langitnya, banyangkan akan banyak penghargaan-penghargaan dan syukur serta nilai-nilai atas waktu yang diberikan kepada kita (walaupun tak sepanjang kalung mutiara).

Jatiluwih, Tabanan Bali

Berusahalah untuk selalu berjuang dengan semangat untuk tetap berkreasi menghasilkan butiran-butiran mutiara, yang pada akhirnya akan kita kagumi sendiri keindahannya, saat terjalin menjadi kalung yang panjang atau hanya beberapa untaian membentuk gelang.

Selamat Tahun Baru
Semoga setiap hari di tahun-tahun berikutnya mampu kita jadikan butiran mutiara yang siap kita untai menjadi sebuah keindahan yang kita kagumi bersama, tak peduli sampai kapan kita akan diberikan kesempatan untuk menjalinnya.

-nightelf-

Hanya Renungan di Pagi Hari

Monday, December 15th, 2008

Kadang Kebahagiaan itu datang dari hal-hal yang selama ini kita anggap sebagai sumber penderitaan, tergantung sejauh mana kita mampu mengendalikan pikiran kita untuk mendefinisakannya suatu penderitaan sebagai suatu kebahagiaan begitu juga
sebaliknya, menempatkan diri di antaranya dan tidak terpengaruh oleh kebahagiaan dan penderitaan itu sendiri secara berlebih.

Saat semuanya terlebur dalam suatu rasa maka yang ada adalah kebahagiaan (atau penderitaan) yang sejati, ketenangan batin, dan pengendalian diri yang sempurna, terlepas dari tangis dan tawa.

Karena sesungguhnya semua bermula dan bersumber dari Diri Sendiri dan akan kembali pula pada Diri Sendiri

Semoga aku sampai di sana
Semoga semua mahluk berbahagia.

Takut Akan Gelap

Friday, December 5th, 2008

Suatu malam seorang ayah dan putranya duduk di sebuah ruangan gelap.
Sang putra bertanya kepada ayahnya, “Yah….akut takut gelap.
Bagaimana kita mengusirnya Yah..?”

“Nyalakalah lilinnya nak…”, sahut sang ayah.

Si putra itupun menyalakan lilin, dan berseru: “Wow…sekarang si gelap sudah pergi, bukankah begitu Yah…?”

“Benar putraku,” sahut ayahnya.

Tapi tak lama berselang, si anak meniup lilin itu.
“Oh, gelap lagi Yah….Aku takut.”

“Nyalakan lagi lilinnya nak…”, suruh ayahnya, yang segera dituruti oleh si anak.
“Ah…sekarang kegelapan sudah hilang”.

Begitulah, si anak bermain sulut-tiup-sulut-tiup untuk beberapa lama.

Setelah membiarkannya bermain beberapa lama, sang ayahpun
berkata: “Putraku, selama masih ada kegelapan, engkau harus tetap menyalakan lilin. Bila engkau tiup, kegelapan akan menyelimuti lagi.
Akan tetapi, manakala matahari telah bersinar nanti, engkau tak membutuhkannya lagi. Engkau sudah bisa menikmati cahaya sepanjang hari, dari cahaya yang paling benderang di tata-surya ini.”*)

Begitulah, persoalan yang masih perlu dihadapi hanyalah, bagaimana menjaga nyala kesadaran yang baru disulut itu agar tidak padam lagi, mengingat kuatnya “hembusan angin”, atau bahkan “topan-badai”, bagi sementara orang. Untuk beberapa lama, mungkin mereka yang baru dinyalakan kesadarannya butuh dampingan seorang “pelindung”, yang juga merangkap sebagai penuntun untuk mengembangkan ketahanan- kesadarannya. Dan segera setelah mereka bisa menjaganya sendiri, melindungi dirinya sendiri, semua itu tak diperlukan lagi. Walaupun masih tertatih-tatih, mereka sudah mulai bisa berjalan sendiri.

*) Diinterpretasikan dari “Parables of Sivananda”.

Lagu Rohani-Ku Tahun Ini

Friday, October 3rd, 2008

Tadinya ingin memilih Gigi, Ungu atau Nyanyian Dharma-nya Bujana.. tapi sepertinya pilihanku jatuh pada…

Laskar Pelangi by Nidji

Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia
Telah hilang
Tanpa lelah sampai engkau
Meraihnya

Laskar pelangi
Takkan terikat waktu
Bebaskan mimpimu di angkasa
Raih bintang di jiwa

Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang kuasa
Cinta kita di dunia..

Selamanya…

Cinta kepada hidup
Memberikan senyuman abadi walau kadang ini tak adil
Tapi cinta lengkapi kita

Laskar pelangi
Takkan terikat waktu
Jangan berhenti mewarnai..
Jutaan mimpi di bumi

Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang kuasa..
Cinta kita di dunia..

Selamanya

Implementation

Monday, September 8th, 2008

Seorang raja yang sangat berkuasa datang kepada seorang Guru Zen.

Raja : Guru aku sudah sangat berkuasa sekarang, tapi aku takut untuk masuk Neraka. Jadi ajarilah aku agar aku bisa masuk Sorga.

Guru : Berbuatlah baik, jangan suka menyakiti orang, tidak suka berbohong dan bersikap adil

mendengar jawaban sang Guru, Sang Raja tertawa terbahak2….

Raja : hahahhahaha kalau itu sih anak umur 5 tahun juga tau…

Sang Guru hanya terseyum dan berkata

Guru : Iya memang semua orang tau itu, tapi hanya hanya sedikit orang yang bisa melakukannya.

Switch to our mobile site