Archive for the ‘Lentera Hati’ Category

Persepsi Hitam dan Putih

Saturday, June 25th, 2011
Hari ini saya tidak sengaja membaca sebuah tulisan di sini yang, seperti biasa mengundang berbagai komentar dan persepsi dari pembacanya. Sebenarnya saya sendiri belakangan jarang membaca atau menonton berita di TV atau di media-media Online. Saya letih berkutat dengan pemahaman-pemahaman yang lama kelamaan makin menjauhkan diri saya dari apa yang disebut kebahagiaan. Semua berpersepsi, berargumen, berdebat dan berusaha menyatakan bahwa apa yang mereka pahami adalah kebenaran, dan begitu juga saya. Namun bukannya lebih dekat dengan kebahagiaan, tapi malah membuat saya letih berargumen, berpersepsi dan semakin menjerumuskan saya pada situasi kebingungan, dengan sebuah pertanyaan di kepala “Yang mana yang benar sih ??”.

 

Suatu hari ada seorang teman yang menyampaikan sebuah kutipan, yang sungguh-sungguh membuat saya tersentak. Kutipan itu kurang lebih berbunyi “Buat para Tetua di Bali, menuntut keadilan atau kebenaran adalah juga hal yang menjauhkan diri kita dari kedamaian”. Seketika saya tersentak dan tenggelam dalam perenungan yang mendalam tentang makna apa yang ingin disampaikan oleh kutipan tersebut. Saya teringat akan sebuah filosofi dasar yang diwariskan para Tetua di Bali dan dijadikan pondasi bagi kehidupan masyarakat Bali sampai hari ini. RwaBhinedha (serupa dengan Yin-Yang di China), adalah sebuah filsafat yang memberi pemahaman tentang hitam dan putih akan selalu berdampingan dan saling melengkapi satu sama lain.

 

Tetua di Bali juga mewariskan sebuah konsep Penengen-Pengiwa(kanan-kiri) seperti perwujudan Barong dan Rangda, sebagai perlambang kenan dan kiri. Keduanya dilambangkan selalu larut pertarungan yang tanpa henti, dan tanpa ada pemenangnya. Dan sayapun mulai bertanya-tanya, apa sebenarnya makna tersirat dari warisan-warisan tersebut? Apakkah kebaikan itu yang menjadi tujuan dan keburukan harus ditinggalkan? Apakah kesenangan itu lebih baik dari kesedihan dan sebaliknya? Apakah putih itu lebih baik dari hitam? kenapa saya tidak pernah menemukan batasan yang jelas antara kedua sisi dari hal-hal yang berlawanan tersebut? Kenapa seperti halnya persepsi-persepsi dalam dunia politik belakangan, tak ada kepastian antara mana yang benar dan mana yang salah? Kenapa semua berpersepsi baik dan buruk menurut pemahaman mereka sendiri? Lalu dimana kebaikan yang sejati dan keburukan yang sejati pula?

 

Lalu setelah kita menemukan kebaikan dan keburukan yang sejati beserta batasannya pun, apakah otomatis membuat yang baik itu paling bermanfaat, dan yang buruk itu tidak ada manfaatnya sama sekali? Apakah otomatis membuat yang kesenangan itu selalu lebih bermanfaat ketimbang penderitaan? Lalu kenapa saya lebih banyak melihat orang-orang yang terjerumus dalam penderitaan, jauh lebih “manusiawi” dan “matang” ketimbang mereka yang hidupnya penuh dengan kesenangan?  Apakah otomatis membuat Putih itu lebih indah ketimbang Hitam?.

 

Mungkin apa yang diwariskan oleh para Leluhur di Bali inilah yang saya jadikan jawaban tentang semua pertanyaan di atas. Berusaha menarik diri dari persepsi akan berbagai dualisme yang datang menghinggapi pikiran, yang membuat kita lebih bingung dan terjerumus dalam ketidakbahagiaan dalam diri. Belajar melarutkan diri dalam keheningan batin dan pikiran untuk berhenti memberikan persepsi akan sesuatu, mengalir apa adanya, iklas dalam perjalanan dan semua yang datang dalam kehidupan. Bagi sebagian orang, sikap seperti ini dipersepsikan menjadi sebuah kelamahan, sebuah kepasrahan tanpa motivasi kehidupan. Namun apa yang belakangan saya rasakan, walaupun masih dalam tahap pembelajaran, jauh dari apa yang mereka bayangkan. Menarik diri dari berbagai persepsi, bukan berarti membiarkan diri tenggelam dalam kelemahan tanpa perjuangan, namun sesungguhnya sebuah sikap yang bertujuan untuk mengistirahatkan batin, guna mempersiapkan diri menerima berbagai  tantangan dan permasalahan/pertanyaan sesuai dengan ruang dan waktu secara lebih efektif. Karena sesungguhnya, hanya dengan pikiran yang jernih dan ketengan batin, yang tanpa diombang-ambing persepsilah, kita akan mampu menemukan jawaban-jawaban semua permasalahan secara lebih efektif dan efisien. Ibarat sebuah cangkir teh, hanya dengan mengosongkan isi cangkir, yang sebelum penuhlah kita akan bisa mengisinya kemabali.

 

 

Sebuah Sutra dari Buddha yang mungkin bisa menjadi renungan:

Prajna Paramita Hridaya Sutra
(perfect wisdom heart sutra)

Om Homage to the Perfection of Wisdom the Lovely, the Holy !

Avalokita, the Holy Lord and Bodhisattva, was moving in the deep course of the Wisdom which has gone beyond.

He looked down from on high, He beheld but five heaps, and He saw that in their own-being they were empty.

Here, O Sariputra,

form is emptiness and the very emptiness is form ;

emptiness does not differ from form, form does not differ from emptiness, whatever is emptiness, that is form,

the same is true of feelings, perceptions, impulses, and consciousness.

Here, O Sariputra,

all dharmas are marked with emptiness ;

they are not produced or stopped, not defiled or immaculate, not deficient or complete.

Therefore, O Sariputra,

in emptiness there is no form nor feeling, nor perception, nor impulse, nor consciousness ;

No eye, ear, nose, tongue, body, mind ; No forms, sounds, smells, tastes, touchables or objects of mind ; No sight-organ element, and so forth, until we come to :

No mind-consciousness element ; There is no ignorance, no extinction of ignorance, and so forth, until we come to : There is no decay and death, no extinction of decay and death. There is no suffering, no origination, no stopping, no path.

There is no cognition, no attainment and no non-attainment.

Therefore, O Sariputra,

it is because of his non-attainmentness that a Bodhisattva, through having relied on the Perfection of Wisdom, dwells without thought-coverings. In the absence of thought-coverings he has not been made to tremble,

he has overcome what can upset, and in the end he attains to Nirvana.

All those who appear as Buddhas in the three periods of time fully awake to the utmost, right and perfect Enlightenment because they have relied on the Perfection of Wisdom.

Therefore one should know the prajnaparamita as the great spell, the spell of great knowledge, the utmost spell, the unequalled spell, allayer of all suffering, in truth — for what could go wrong ? By the prajnaparamita has this spell been delivered. It runs like this :

gate gate paragate parasamgate bodhi svaha.

( Gone, gone, gone beyond, gone altogether beyond, O what an awakening, all-hail ! — )

This completes the Heart of perfect Wisdom.

 

Aku Mengenalmu Saat Aku Melupakanmu

Sunday, March 6th, 2011

Saat aku merindu….

Logika tak seiring waktu

Saat aku merindu

Pikiran kandas…

Tak sanggup memikirkanmu

 

Semua nyata dalam kepala

Indah dalam logika

Memikat dalam ingatan dan indra

Namun segalanya tiada

Tak satupun pengobat rindu di dada

 

Ku putuskan untuk melupakanmu

Melepasmu dari ikatan ada dan tiada

Lepas terbang bersama derita

Kuiringi dengan Cinta

Hanya ingin kau rasa bahagia

 

Sekarang aku di sini

Sendiri

Dalam hening dan sepi

Tetap merindukanmu

Tanpa ingin mengingatmu lagi

 

Mata terpejam

Telinga dan bibirpun terbungkam

Namun kenapa hati bercahaya?

Terpana terpesona?

 

Aku bertanya dan terjawab tanpa makna

Aku melihat dan terbias tanpa cahaya

Aku mendengar dan merambat tanpa suara

Aku mencium pun mengerti tanpa aroma

Semua nyata tanpa rupa.

 

Dan sekarang aku pahami…

Ternyata akulah yang kurindu

Dan yang kubuat bahagia.

 

-Gunung Salak 5 Maret 2011-

 

Sebuah Sloka Banten Saiban dalam Weda Kehidupan.

Tuesday, March 1st, 2011

“Atisha, I promise not to teach you religion. Will share how to sit in silence, so that you can ask God directly whatever you need to know.”

-Janji Reza Gunawan pada anaknya Atisha-

 

Dulu sempat saya merasa sedikit kecewa kepada ke dua orang tua saya, kenapa saya sama sekali tidak pernah diperkenalkan dengan kitab suci dengan sloka-sloka seperti teman-teman saya. Percaya atau tidak samapai sekarang saya sama sekali tidak hafal mantram dari panca sembah. Saya lebih suka melakukan panca sembah seperti Orang Tua Saya, Om, Tante, Nenek, Kakek dan sodara sodara saya di kampung, dimana mereka dalam melaksanakan panca sembah menggunakan bahasa Bali halus dengan penuh perasaan, merintih bahkan terkadang sampai menangis penuh penyerahan diri. Loh kok saya tahu? sembahyang gak pernah serius ya? hihih begitulah saya waktu umur masih di bawah sepuluh tahun, sembahyang masih toleh kanan toleh kiri, sambil berusaha melakukan hal yang sama dengan orang-orang di sekitar saya :D , akh tapi entah kenapa saya malah merindukan keluguan seperti itu.

 

Beberapa buah mantram yang saya saya hafal hanya Tri Sandya(karena wajib dihafal waktu sekolah), Om Asatoma Sadgamaya, Om Tryambakam (dua mantram yang sepertinya dianugrahkan entah dari mana, seperti jodoh dengan ke dua mantram ini) dan Mantram Siwa Om Namah Siva Ya (paling gampang dihafal :D ). Beberapa kali saya mencoba untuk menghafal beberapa sloka dari Baghavad Gita, tapi entah kenapa saya lebih tertari untuk membaca terjemahannya dalam bahasa Indonesia kemudia terlupa karena terlalu berat buat saya, hehe. Menyadari kurangnya stock mantram atau kitab suci yang saya ketahui, saya sempat merasa kecewa kepada lingkungan saya, terutama orang tua, yang nota bene hidup di  sebuah desa kecil di pulau yang dijuluki pulau dewata, dengan tingkat pendidikan formal yang masih jauh dari cukup, khususnya di bidang agama.

 

Namun seiring dengan perjalanan hidup, apa lagi di rantauan, keluar dari lingkarang kenyamanan kampung halaman, dalam selimut kerinduan, lama kelamaan malah membuat saya bisa melihat pancaran sinar yang serasa makin memberikan magnet keindahan, dari kampung halaman saya tercinta yang bernama Bali. Kesederhanaan dan Keluguan, jauh dari pendidikan formal, yang tadinya saya hakimi sebagai suatu kekurangan, malah belakangan “menampar” saya dengan nilai-nilai yang bahkan sampai membuat saya menangis merindukan pelukannnya. Pelukan kesederhanaan, kekosongan, keheningan dan kedamaian pemikiran yang penuh kerendahan hati, yang implementatif menyatu dalam kehidupan itu sendiri. Jauh dari kesan kebanggaan dari sudut pandang kepintaran dlm pendidikan formal beserta titlenya, yang belakangan malah lebih banyak membuat orang terjerumus dalam kesombongan dan kelicikan, lupa akan jati dirinya sebagai manusia.

 

Perjalanan kecil saya ini, dengan berbagai kemelutnya, mengantarkan saya untuk kembali melihat kilauan nilai-nilai mulia yang tercampur dalam lumpur ketidak tahuan dan keluguan kampung halaman. Jika saya melihat balik ke belakang, selama 20 tahun saya bersama orang tua saya, tidak banyak ilmu keagamaan yang diwariskan mereka. Yang ada hanya berjalan apa adanya mengikuti ritual yang telah diwariskan apa adanya oleh leluhur kami. Dari ritual banten saiban setelah selesai memasak, hingga perayaan Galungan yang berjalan sama seperti perayaan-perayaan sebelumnya. Namun belakangan meditasi menuntun saya lebih banyak untuk mencari dan memahami, ketimbang hanya mempercayai begitu saja. Sebagai contoh bagaimana sebuah ritual sederhana, dengan menghaturkan secomot nasi, bawang dan sedikit garam di beberapa  sudut rumah, yang kita sebut sebagai ritual mebanten saiban itu, telah mengajarkan kita untuk berkenalan dengan alam (semut, serangga, dan pepohonan), dan skaligus mengajarkan kita mencintai mereka penuh kasih sayang dengan berbagi sedikit apa yang kita punya, bahkan sebelum kita sendiri yang menikmatinya.

 

Menyadari ini membuat kerinduan akan kesederhanaan itu lebih mendalam. Bahkan kerinduan buat mereka-mereka para pendahulu kami yang dengan cerdiknya menyisipkan nilai nilai meditatif (baca In Bali Life is Meditation) yang implementatif dalam keseharian kami. Menyisipkan sloka-sloka Baghavad Gita atau Weda, yang secara tekstualnya susah apa lagi untuk orang yang kurang suka menghafal seperti saya, ke dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga tanpa disadari, kita melakoni dan mengimplementasikannya setiap hari dalam kehidupan. Membuat kita mengenal Nilai Kasih itu lebih dalam, dari sebuah ritual sederhana seperti Banten Saiban, yang belum tentu Nilai Kasih yang sama dilakukan oleh orang yang menghafal ribuan sloka Kitab Suci, yang bahkan lebih sering membuat mereka terjerumus dalam kesombongan.  Saya ingat bagai mana Sang Buddha menempuh jalan untuk mencapai Pencerahan hanya dibekali selembar kain penutup badan dan Rasa Kasih kepada manusia yang menderita, bukan dibekali tumpukan buku atau kitab suci. Beliau belajar lebih banyak dari Weda Kehidupan dan Gita Penderitaan dengan sekali sekali meneguk air keheningan dalam meditasi dan pengendalian pikiran untuk menemukan solusi penderitaan dan meneguk air suci kebahagiaan.

 

Lalu apakah tulisan ini mengajak kita untuk melupakan kitab suci-kitab suci kita? tentu saja tidak. Tulisan ini hanya ingin mengingatkan kita akan keseimbangan hati dan pikiran, tidak menghakimi apa yang belum tentu kita pahami nilai nilainya. Karena lebih sering saya melihat kita merasa pintar dan hebat setelah menghafal banyak sloka kitab suci dan berusaha menghakimi warisan tetetua kita yang jelas-jelas dalam babad yang ditinggalkannya, penuh kebijaksanaan dalam pencerahan. Tentu dengan level yang tercerahkan seperti itu, mereka tidak sembarangan menyuruh kita merobek dedaunan untuk kemudian dijadikan alas bagi secomot nasi persembahan kepada semut dan pepohonan. Tentu tidak sembarangan mereka mewarisi kita spot Keheningan dalam merayakan Tahun Baru Caka, yang oleh orang lain tahun baru dirayakan dengan kebisingan dan kemeriahan. Kita malah ditarik lebih dalam ke dalam Diri dalam Kesepian untuk berkenalan dengan Diri Kita Sendiri. Demikian cerdik tetua kita menyisipkan sebagian besar nilai-nilai kitab suci dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita tidak repot-repot untuk menghafal sekian banyak sloka-sloka, yang belum tentu juga kita pahami, apa lagi untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan. Dan apa lagi sloka-sloka tersebut tidak sembarangan untuk kita pelajari tanpa bimbingan seorang Guru.

 

“Jika Engkau lapar, ambilah bahan makanan secukupnya untuk engkau masak sesuai selera, jangan makan semua bahan makanan yang ada di alam semesta ini”

 

Untuk itu dalam kesempatan kita masuk dalam Kehengingan Nyepi, mari kita ambil bahan makanan, yang benihnya disemai oleh para tetua kita, secukupnya, untuk kita olah sesuai selera kita. Jangan kita makan semua bahan makanan itu mentah-mentah karena kita malah akan jatuh sakit karenanya. Jangan kita telan itu semua sloka-sloka kitab suci mentah-mentah seluruhnya dalam waktu bersamaan. Olahlah beberapa diantaranya dalam renungan Hari Raya Nyepi dalam-dalam untuk kemudian mengambil sari-sarinya dalam kehidupan kita waktu demi waktu :)

 

 

Selamat Menarik Diri kedalam Keheningan untuk berkenalan dengan Kesejatian Diri di Hari Raya Nyepi ini.

Selamat Tahun Baru Caka 1933

 

Semoga Semua Mahluk Berbahagia.

Renungan Kearifan Local Masa Lalu

Wednesday, February 23rd, 2011

Belakangan banyak sekali peristiwa-peristiwa di Nusantara yang mengarah pada perpecahan dan pertikaian, khususnya disebabkan oleh perpedaan keyakinan. Sungguh sangat disayangkan bahwa sebuah jalan kerohanian yang kita sebut sebagai agama belakangan malah menjadi media untuk saling menyakiti. Bukankah, terlepas dari agama, semua manusia mencari sebuah tujuan yang sama yaitu Kebahagiaan?

Mungkin fakta-fakta sejarah Nusantara berikut bisa menjadi renungan buat kita semua, bahwa kearifan local Indonesia jauh jauh hari telah mengajarkan kita menemukan kebahagiaan dalam jalan yang penuh warna, saling bergandengan tangan penuh Cinta Kasih memahami perjalanan kehidupan untuk tujuan yang sama tadi, yaitu Kebahagiaan.

1. Seorang Istri dari Prabu Wijaya, Raja Majapahit pertama yang beraliran Siwa, adalah seorang Buddha, dan beliau melepaskan diri dari keduniawian dengan menjadi Biksuni.

2. Penasehat Prabu Airlangga, Raja Kediri yang berlairan Wisnu, yaitu Mpu Braddah adalah Seorang Pendeta Buddha

3. Mpu Kuturan: adalah seorang yang sangat berjasa membangun arsitektur spiritual masyarakat Bali, dimana beliau menggagas konsep Desa Pekraman dan Pemujaan terhadap Tri Murti. Sedangkan beliau sendiri adalah seorang Pendeta Buddha Mahayana. Begitu arif dan bijaksana seorang Buddha/Guru Hidup membimbing masyarakat Bali dengan konsep-konsep yang digali dari kearifan local Bali sendiri. Beliau tidak Mem-Buddha-kan Bali, apa lagi Me-mahayana-kan Bali. Tapi Beliau Mem-Bali-kan Bali dengan menyisipkan berbagai Kebijaksanaan seorang yang telah mencapai Pencerahan (Buddha/Moksa). Apa yang kita kenal sekarang sebagai RwaBhinedha (kemungkinan inilah yang disebut Jalan Tengah di agama Buddha) adalah salah satu contoh paling nyata tentang usaha Beliau untuk mengembangkan pola berfikir kita sebagai manusia, bahwa segala sesuatu di alam semesta diciptakan berpasangan.

Dualisme itulah yang harus kita sadari untuk mencapai Kebahagiaan tertinggi. Dengan menyadari segala dualisme tersebut, kita akan mampu menempatkan diri dalam Kebahagiaan, dalam sisi satu maupun dalam sisi yang lain. Kita selalu menghakimi keadaan dan pilih kasih atas dualisme dunia. Mengganggap yang satu baik yang satu buruk, seperti halnya sorga dan neraka, sehat dan sakit, bahkan hidup dan mati. Orang yang tercerahkan tidak akan pernah menilai satu sisi lebih baik dari sisi lainnya. Kebijaksanaannya akan selalu membawa dalam Kebahagiaan walaupun Dia berada dalam keadaan yang manapun.

Begitulah orang yang tercerahkan membimbing kita melalui makna-makna yang ditinggalkan, untuk kita gali lebih dalam. Dan makna-makna ini intinya adalah mengendalikan pikiran (mind) kita untuk tetap seimbang dalam situasi apapun, dengan menyadari bahwa semua memang sempurna apa adanya (Nak Mule Keto/Keiklasan tertinggi). Itulah tujuan utama manusia sesungguhnya, selalu berbahagi dalam kondisi apapun dengan pengendalian pikiran. Itulah sesungguhnya tujuan agama, tujuan spiritual bahkan tujuan kita dilahirkan ke dunia ini. Untuk menyadari kembali apa yang telah kita lupakan sekian lama dengan kebodohan diri.

Semoga bermanfaat.

“Bahkan Sorgapun tak akan mampu meberikan kita Kebahagiaan, jika pikiran kita jauh dari kedamaian”

In Bali Life is Meditation.

Wednesday, January 5th, 2011

Siapa yang tidak mengenal Bali, sebuah pulau kecil di antara ribuan pulau, di sebuah negeri indah di katulistiwa bernama Indonesia. Pulau kecil berjuluk Pulau Dewata, karena adat, budaya dan keseniannya yang semuanya membaur dengan nilai-nilai spiritual dan filosofis, yang menghasilkan kekuatan yang mampu menyihir para wisatawan baik domestik maupun manca negara untuk setidaknya menikmati hasil karya-karya keindahan dari pulau ini. Ribuan Pura sebagai tempat suci masyarakat Bali, yang tersebar di berbagai tempat, dari gunung hingga lautan, dari sawah, ladang, sungai hingga perbukitan, semua menambah poin of interest dari alamnya, yang sesungguhnya sudah sangat mempesona. Sebut saja Uluwatu atau Tanah Lot, sebuah tanjung dan teluk yang dihiasi dengan keindahan Meru(pagoda/candi) dari pura, yang saat senja memerah, menghasilkan komposisi keindahan yang sungguh sangat mempesona. Belum lagi berbagai macam upacara dan ritual yang dihiasi dengan berbagai karya seni, yang sudah tidak bisa dipisahkan lagi dengan ritual itu sendiri. Dan semua ritual tersebut dilaksanakan hampir setiap hari, di berbagai tempat di Bali. Dari hal-hal kecil, seperti ritual setelah masak yang dilakukan setiap hari, sampai upacara Eka Dasa Ludra yang diadakan di Pura Besakih setiap 100 tahun sekali. Dari upacara kecil saat mulai mencangkul di sawah, mulai berjualan di pasar, atau upacara untuk setiap langkah pembangunan rumah(bikin dasar,  bikin tembok penyengker, membangun sampai masang atap), persembahan setiap 15 hari sekarali saat bulan purnama dan bulan mati, sampai euforia Galungan dan Kuningan dalam jangka waktu 10 hari, setiap enam bulan sekali. Kewajiban atas berbagai ritual itu pulalah yang membuat masyarakat Bali tak bisa terlepas dari kegiatan Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan semua hal yang kita kenal dan bisa kita nikmati saat ini sebagai kesenian atau budaya, pada awalnya sesungguhnya hanya diperuntukan untuk mengungkapkan rasa Bhakti kehadapan Yang Kuasa, tanpa unsur komersil untuk dijual sebagai komoditi wisata. Bahkan kata kesenian itu sendiri adalah kata yang awalnya tidak dikenal oleh tetua di Bali, dan saat ditanya kenapa para tetua itu melakukan apa yang kita kenal dengan kesenian mereka hanya menjawab : “Tidak semua kami mengerti, namun satu hal yang jelas, semua kami lakukan sebagai serangkaian persembahan”. Semuanya menyatu dalam kehidupan. Sebagai contoh ungkapan Matur Suksema yang artinya Menghaturkan Jiwa, bahkan jiwa ini pun dipersembahkan. Mungkin ini pula yang disebut oleh Kahlil Gibran dalam The Prophet “Your Life is Your True Temple”. Hidupmulah Ibadahmu sesungguhnya.

 

Sebagai seorang putra bali yang mencari penghidupan di luar Bali, tentu akan sering mendapat pertanyaan-pertanyaan mengenai semua hal, baik itu ritual maupun kehidupan sosial masyarakat Bali. Mulai dari pertanyaan yang sebatas ingin tahu saja, sampai pertanyaan yang berusaha menyudutkan, karena tidak sesuai dengan apa yang penanya pahami dari keyakinan mereka. Sebagai contoh yang paling sering adalah mengenai bagai mana masyarakat Bali menghormati dengan menghaturkan berbagai persembahan atau upakara di tempat-tempat seperti pepohonan atau bahkan benda mati seperti batu atau benda benda pusaka. Kita bisa saja menjawab hanya dari sudut pandang kita sebagai orang Bali, bahwa semua itu kita lakukan untuk menjaga hubungan kita dengan alam atau penghormatan terhadap ciptaan Tuhan. Tapi skali lagi semasih jawaban berasal dari sudut pandang yang berbeda, jawaban itu akan tetap menjadi bulan-bulanan dengan disusul oleh pertanyaan-pertanyaan berikutnya.

Saya teringat sebuah nasehat dari Ketut Liyer kepada Elisabeth Gilbert, dalam buku Eat Pray and Love : “Saat ada orang yang berdebat denganmu tentang Tuhan, katakan saja: saya setuju dengan anda, kemudian pulang dan berdoalah dengan cara yang kemu yakini”. Kutipan ini, buat saya, tidak hanya sikap cuek atau pernyataan untuk melarikan diri dari perdebatan atau pertikaian, namun juga mengandung pemahaman yang sungguh mendalam tentang Ketuhanan atau Spiritual. Ada dua poin penting yang tersirat di dalamnya, yaitu “Saya setuju dengan (apa yang) anda (katakan tentang Tuhan)” dan “Pulang, lalu berdoa dengan cara yang kita yakini(tentang Tuhan)”. Arti poin pertama adalah kita menyetujui apapun yang orang lain katakan tentang Tuhan-nya, dan poin ke dua, kita juga punya pemahaman sendiri tentang Dia, dan tentu saja kita pasti setuju dengan apa yang kita pahami dan yakini. Di sini saya sadar bahwa nasehat tadi mengingatkan kita kembali bahwa Tuhan adalah Segalanya, termasuk apa yang dipahami orang lain, dan apa yang kita pahami sendiri, yang tentunya berbeda. Karena sesungguhnya Dia ada dalam segala kondisi, baik yang masih dalam ruang lingkup jangkauan pemahaman pikiran manusia, maupun kondisi di luar apa yang manusia bisa pahami.

Lalu apa hubungan pemahaman di atas dengan kehidupan masyarakat bali dengan ritual-ritualnya? dan apa pula hubungannya dengan Meditasi, seperti judul dari tulisan ini? Menurut pemahaman saya, meditasi adalah upaya kita untuk mengistirahatkan pikiran kita dari hal-hal dan keinginan-keinginan duniawi sehingga kita bisa masuk ke dalam kondisi Kosong/Sunya, agar energi Ketuhanan/Spiritual/Kosmik bisa leluasa masuk dan memberikan kita pemahaman-pemahaman sebagai tuntunan kita untuk mencapai Kebahagiaan Yang Sejati, melalui pengendalian pikiran sehingga selalu selaras dan seimbang. Untuk itulah para Tetua kita di Bali, dengan cerdiknya, membangun sebuah pondasi kehidupan yang membuat kita, dimanapun dan kapanpun juga, mengisi setiap sisi kehidupan dengan pemahaman bahwa Segalanya adalah Tuhan dan Tuhan adalah Segalanya, seperti apa yang tersirat dalam nasehat dari Ketut Liyer di atas. Baik saat kita melihat binatang, pepohonan, sungai, gunung, laut,batu maupun melihat setiap umat manusia lainnya. Dengan demikian dengan sendirinya, bahkan tanpa kita sadari, kita telah melakukan meditasi dalam setiap sisi kehidupan, dengan lebih banyak melepaskan diri kita (pikiran perkataan dan perbuatan) dari hal-hal dunia dengan mengisi diri kita(pikiran,perkataan dan perbuatan) dengan hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan yang akan memperlancar energi Spiritual masuk kedalam Sang Diri untuk memperoleh kehidupan yang seimbang. Di sisi lain kita juga turut serta menjaga alam kita dengan menghormati pepohonan dan alam, sehingga kita tidak sembarangan untuk menebang pohon atau merusak alam. Dan semua kegiatan Bhakti tersebut akan lebih indah jika diimplementasikan dalam bentuk kesenian, karena dengan seni kita bisa selalu membawa pikiran dan perbuatan kita dalam dimensi Keindahan.

In Bali Life is Meditation (Everything/where/time is God, and God is Everything/where/time).

“God possesses a face in everything that is worshiped;” and “God is that which is worshiped in everything that is worshiped.”

Ibn ‘Arabi

 

Note: saya sengaja tidak membawa label Hindu di sini, karena saya ingin mengingatkan lagi bahwa sesungguhnya Bali merupakan perpaduan dari berbagai unsur filosofis, seperti Siwa, Buddha, Tantra bahkan Zen dengan menitik beratkan pada usaha untuk melatih Mind manusia (Meditation) untuk selalu mencapai keseimbangan dan keselarasan dalam kondisi apapun juga, yang membaur di bali menjadi konsep Rwabinedha. Pertanyaannya sudahkah kita menyadarinya? :)

Semoga Bermanfaat.

Mencintai Kebijaksanaan

Saturday, December 4th, 2010

“Aku bukanlah orang yang bijaksana, tapi orang yang mencitai Kebijaksanaan”

Petikan dari Socrates ini seakan memberikan sedikit sentilan kebijaksanaan. Kutipan itu menyadarkan kita tentang persamaan yang hakiki sebagai manusia. Sepertihalnya yang disampaikan oleh Dalai Lama saat diwawancara oleh Desi Anwar di Metro TV tempo hari, “Kita semua sesungguhnya sama, di level kemanusiaan, namun kita sendiri sering lupa bahwa kita adalah manusia”.

Kutipan itu sendiri menempatkan kita pada titian yang sama, yaitu titian perjalanan, titian mencintai, titian belum sampai pada Kebijaksanaan. Dan titian untuk kita berbagi perjalanan itu satu sama lain.

Ungkapan Socrates diatas mengingatkan kembali bagaimana kita seharusnya melihat manusia lainnya. Tidak ada yang lebih pintar atau bodoh, tak ada yang lebih atau kurang bijaksana, tak ada yang lebih atau kurang religius. Kita semua berjalan di atas jalan untuk tujuan yang sama, yaitu Pengetahuan, Kebijaksanaan atau Kebahagiaan. Untuk itulah kita sebenarnya pada level , kasta atau tingkatan yang sesungguhnya sama, sama-sama dalam tingkatan mencintai atau tingkatan masih dalam perjalanan untuk tujuan-tujuan kita tadi.

Tulisan-tulisan ini juga tidak bermagsud untuk menempatkan diri saya dalam tingkatan atau kasta kebijaksanaan atau kecerdasan yang lebih tinggi dari siapapun. Tidak ada untungnya buat saya menjadi lebih bijaksana dari siapapun, karena sesungguhnya kebijaksanaan atau kecerdasan semata-mata hanya untuk mencapai Kebahagiaan yang Sejati di dalam diri sendiri, tanpa pembanding, hanya diri kita sendiri.

Tulisan ini hanya sekuntum mawar, yang kebetulan saya temukan dalam perjalanan, yang wanginya ingin saya bagi bersama siapa saja yang berkenan. Sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Semoga bermanfaat untuk kita semua, dan…

Semoga Semua Mahluk Berbahagia.

Switch to our mobile site