Ketua MUI Sumsel: “Pindahkan grand final Miss Indonesia ke Bali yang sudah terbiasa dengan kemaksiatan”
Pagi 24 Januari tepat sehari setelah Galungan, hari di mana masyarakat bali sedang merayakan kemenangan Dharma melawan adharma, aku buka email, dan ada sebuah kiriman dari seorang teman berupa link ke situs berita detik.com. Melihat judul dari email ini, yang kira kira serupa dengan judul postingan ini, spontan mouse yang udah aku genggam dengan tangan bergetar, mungkin karena emosi yang sudah gak bisa tertahankan, mengarah ke link yang diberikan. Emosi yang seakan akan ingin memuntahkan kutukan dan melepaskan energi negative untuk mengangkat lautan menenggelamkan keangkuhan mereka. Tapi aku masih mengingat bahwa mereka juga saudara kami, walaupun perbedaan ini telah membuat kami bukan lagi saudara tidak lagi sebangsa bahkan bukan lagi manusia yang layak untuk dihormati dan dihargai.
Namun kutukan itu gak akan aku lontarkan untuk sodaraku, karena disini aku juga punya saudara yang tidak sependapat dengan mereka. Tulisan ini hanya curahan hati untuk mendapat ketenangan dan tidak tersimpan dalam hati dan terlupakan.
Sekarang aku hanya bisa berdoa buat Baliku, memohon yang terbaik untuk Bali dan bangsa ini. memohon yang terbaik untuk alam semesta dan isinya.
Semoga Semua Mahluk Bahagia.
Berita ini di post di hari Raya Galungan tgl 23/01/2008 di sini.



ceniQ
that’s life.. full of drama, denial, and opposition.. deal with it, even U had to keep the differ within..
#sabar Bli#
Gejor
Hahaha… Santai Det…
Nggak ada yang sama di dunia ini, termasuk cara berpikir…
Love and Peace everybody…!!!
Bali… Bali… Muah… Muah…
Indonesia… Indonesa… Merdeka…!!!
Semoga jaya dan damai selalu…
co-that
@ceniQ hehehhehe nicknamemu itu artinya kecil/imoet yang diambil dari tempat yang penuh dengan kemaksiatan seperti kata mereka… gak malu bawa nama dari tempat yang penuh maksiat RE??? hehehehhe tenang RE aku gak marah, seperti yang aku bilang di atas, aku gak mau mengotori tangan bali dengan melontarkan kutukan
@Gejor
heheheh siap!!! aku cuma keluarin unek2, gak baik di simpan!! cuma jangan ampe kita kepancing brooo jangan kotori tangan bali yang suci dengan dendam dan kemarahan, kita gak kayak orang-orang itu brooo…. tetap selamatkan alam hahahahha
mOnKz
diversity in divinity…
*menghela napas…terdiam…mata berkaca-kaca
chiw
met galungan mas…
*telat yak?*
betewe, templetnya ga ganti ganti seeeh?
ceniQ
FYI.. Aku ngga malu wew! Buktinya, masih eksis terus ni membaca tulisan2 mu dan mengagumi Bali “darimu”..
*kapan ya Bli, kita berbincang bincang lagi?*
standalone
memang pemahaman dan sudut pandang memberikan sentuhan berbeda pada setiap penilaian.
Apakah karena dirimu berasal dari Bali maka right or wrong is my country?
Apakah mereka memiliki statistik yang aktual sehingga predikat itu bisa dilekatkan pada Bali?
tapi, setidaknya dalam ketidaksetujuannya terdapat solusi.
daripada ketidaksetujuanmu yang hanya penuh emosi.
co-that
heheheh iya pi gw waktu itu cuma emosi,
ya karena gw dari bali dan gw sadar bali sekarang seperti apa.. ge tau karena masuknya budaya asing membuat bali sudah gak seperti dulu lagi.
tapi kenapa langsung berargumen seperti itu?
kenapa langsung menuduh seperti hanya bali yang seperti itu?? kenapa gak ngomongnya jakarta bandung yogya surabaya atau kota2 besar lain kenapa bali???
yang kalau menurut gw gak jauh beda bahkan mungkin lebih parah…. apakah karena mereka “sama”???
tidakah lebih arif kalau ngomongnya “ke tempat lain yang terbiasa dengan kemaksiatan” aja… kenapa mesti ada kata bali nya??? itu sebenarnya yang paliing gw permasalahkan!!
seperti yang loo tuduh kan ke gw “right or wrong is my country” gw juga bisa bilang “just because bali is different” jadi langsung bilang bali terbiasa dengan kemaksiatan….
dan seprti ya gw bilang di atas… gw tau bali gw sekarang kayak apa…. baik buruknya tetap bali gw, gw gak bilang kalau gw gak setuju bro, gw tau apa yang terjadi sekarang dan apa usaha yang kami lakukan untuk memperbaikinya…
Solusi?? menurutmua apakah mereka memberikan solusi?? apa?? solusi yang langsung memberikan tuduhan dengan langsung menunjuk tempat yang notabene satu bangsa dengan mereka itu?? apakah itu juga gak penuh emosi??
alangkah arif kalau mengungkapkan realita dengan cara yang lebih bijaksana.