Archive for April, 2009

Take Off

Thursday, April 16th, 2009

Pray

Pray

“Flight Attendant, take off position” begitulah instruksi dari kapten  penerbangan GA 414 dari Jakarta menuju kampung halaman Bali, saat jam di tanganku menunjukan pukul 19:10 WIB. Instruksi itu pula yang membuat para awak kabin pesawat melakukan final check ke semua penumpang, apakah semua sudah pada prosedur yang benar apa belum. Lalu kemudian para Flight Attendant atau yang lebih dikenal dalam bahasa Indonesia dengan Pramugari / Pramugara tersebut duduk pada bangku khusus yang disediakan di  belakang, tengah dan depan kabin pesawat, mengingat pesawat untuk GA 414 adalah jenis pesawat yang berbadan lebar. Sayap dibuka, mesin dipanaskan dan lampu kabin mulai dipadamkan yang membuat kabin gelap gulita , walaupun lampu baca  aku nyalakan karena sedang membaca Gajah Mada buku III. Namun Effek Sepia yang dihasilkan oleh lampu baca tersebut membuat aku masih bisa memperhatikan para awak dan penumpang yang duduk di sekitarku.

Saat deru suara mesin yang mendorong badan pesawat mulai membuat pesawat itu merayap menyusuri landasan di Sukarno-Hatta Terminal II, saat itu pula aku tutup buku Gajah Mada dan mulai memperhatikan suasana sekitar dengan iringan deru mesin pesawat. Ada hal yang kemudian membuatku merenung saat roda depan pesawat sudah mulai berpisah dengan Ibu Pertiwi. Saat saat yang paling menegangkan buatku pribadi, namun berbeda kali ini. Entah apa yang membuat aku melupakan semua tentang hidup dan mati, hal hal yang selalu muncul saat-saat keadaan seperti ini, saat terlemah dan paling tak berdaya dalam hidupku.

Perhatianku tertuju pada beberapa orang di sekitar yang sedang larut dalam harapan tentang hidup dan mati tersebut. Berdoa menurut keyakinan mereka masing-masing, itulah yang mereka lakukan dengan cara yagn berbeda-beda. Seseorang duduk di bangku F selajur denganku menenggadahkan kedua tangannya di atas paha, dan memejamkan mata, berbeda dengan orang di sebelahku yang duduk memejamkan mata lalu menyandarkan kepalanya di bangku dan berkomat kamit, yang kemudian aku yakini bahwa dia sedang berdoa dengan khusuk. Aku tidak tahu Agama apa yang mereka yakini karena cirinya berbeda-beda satu sama lain, tidak seperti  orang di depanku yang mengepalkan kedua tangannya di depan dada yagn kemudian ditutup dengan menempelkan tangan berurutan dari kening, daerah perut, pundak kiri, pundak kanan dan kemudian mencium tangannya sendir, yang aku yakini dia berdoa menuruk Keyakinan umat Katolik karena dulu waktu TK aku juga bersekolah di sekolah Katolik yang mengajariku cara berdoa yang serupa, sehingga aku tahu pula bahwa ucapan dalam hati mereka saat melakukan hal tersebut adalah “Atas Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Amin“.

Satu hal yang menjadi renunganku saat itu, kalau kami selamat kira kira doa mana ya yang bikin kami selamat?? dan kebalikannya. Tapi sudahlah itu hanaya pertanyaan bodoh karena aku pun punya keyakinana akan hukum karma dan reinkarnasi. Hal yang lebih dalam ingin aku renungkan adalah Keyakinan kami para penumpang, apapun itu, di saat-saat yang bisa jadi saat paling tak berdaya dalam hidup kami, telah membuat kami jauh merasa lebih kuat, lebih berani dan siap. Membuat kami merasa kehadiaran Zat yang sama-sama kami muliakan walau dengan cara yang berbeda-beda, dengan penuh harapan bahwa Dia akan menyertai perjalanan kami hingga selamat sampai tujuan yang kebetulan adalah sebuah pulau yang dijuluki Paradise/Heaven. Doa dari Keyakinan kami masing-masing itulah yang membuat kami jauh lebih kuat dalam kondisi terlemah dan paling tak berdaya dalam hidup kami, terlepas dari pertikaian-pertikaian yang juga kadang timbul dari perbedaan cara tersebut.

Keyakinan, apapun itu membuat kita tetap kuat saat kita berada dalam kondisi terlemah kita”

Namaste.

Semoga Semua Mahluk Berbahagia

Titik Kesuksesan atau Titik Kesadaran?

Monday, April 6th, 2009

Pagi itu  seorang teman  datang dengan sebuah artikel menarik, yang dilepasnya di sebuah thread di milis  komunitasku di dunia maya. Artikel itu sangat menarik, menceritakan seorang yang telah mencapai kesuksesan baik dari materi maupun prestasi, yang kemudian merasa semua hanyalah hal yang maya dan memutuskan untuk kembali pada kehidupan yang sederhana di pedesaan. Cerita ini mirip dengan cerita Andy F Noya (pembawa acara Kick Andy) yang juga melakukan hal yang sama, mengundurkan diri dari posisis direksi sebuah TV swasta terkemuka di tanah air ini, untuk sebuah kehidupan baru keluar dari kondisi nyamannya. Dan banyak lagi orang2 sukses yang melakukan hal yang serupa, melepas keterikatan mereka akan materi untuk kehidupan sederhana dan tanpa tekanan (bayak aku jumpai di daerah Ubud, dimana banyak orang asing yang hidup sederhana layaknya penduduk setempat, dan melakukan aktifitas yang sama dengan penduduk seperti  bercocok tanam di sawah)

Yang menarik, seorang teman menanyakan hal berikut:

“kalo kita belum pernah merasakan kondisi keberlimpahan materi seperti itu,
kira-kira apakah kepikiran untuk mengatakan materi bukan salah satu hal utama dalam hidup ini ??

Merujuk kepada tujuan hidup kita kan ada
Dharma, Arta, Kama dan Moksa.”

Maka saya mencoba merenung untuk menemukan jawaban pertanyaan sahabat saya tersebut, bercermin dengan keadaan hidup saya sendiri. dan menyimpulkan sesuatu yang sedikit melegakan hati saya.

Saya sendiri merasa belum mencapai kondisi berlimpah materi seperti yang dibilang di artikel ini, tapi saia belakangan sependapat dengan orang-orang yang diceritakan dalam artikel di atas. Saya ingin sekali hidup dalam kesederhanaan pedesaan yang damai.

Manuasia itu selalu menginginkan lebih tanpa batas. Tapi manusia yang telah “Sadar” malah akan ingin kembali pada kesederhanaan tanpa ikatan dan tekanan. “Kita merasa kita belum berlimpah materi. Tapi buat orang lain yang tidak seberuntung kita, kondisi yang telah saya capai ini sudah sangat melimpah (skali lagi manusia tak akan pernah merasa cukup)”. Intinya disana, saat kita “sadar” kenyataan itu maka kita pun akan merasa telah berlimpah dan jenuh dengan “pencarian materi tersebut”.  Dan pada saat itulah kita merasa sudah sangat melimpah dan menginginkan kehidupan yang sederhana dan membelokan tujuan hidup ke arah yang lebih “bernilai”.

Karena sebenarnya batasan berlimpah atau tidak itu tak bisa diukur dengan jumlah materi tertentu, tapi dengan kesadaran bahwa semua itu tak akan ada habisnya. Jadi  renungan atas “Kesadaran” itu tidaklah harus kita lakukan setelah mencapai jumalah materi tertentu (karena memang tidak ada ukurannya) tapi tiap saat. Merenungin apakah kita sudah merasa cukup untuk mencapai level berikutnya yaitu kesederhanaan dalam Dharma, atau masih mau mencari Artha ? Jadi jika direnungkan permasalahan itu di dalam diri kita, masalah cukup/melimpah atau belum (menurut ukuran diri sendiri), bukan masalah sudah di titik cukup/melimpah  atau belum (menurut ukuran kebanyakan orang). Kalau memang kita merasa kurang cukuap ya apa boleh buat lanjutkanlah pencarian materi tersebut sampai pada titik melimpah menurut ukuran kita sendiri.

Orang yang seprti dikatakan di artikel diatas banyak sekali, dan dengan variasi cukup/melimpah yang berbeda. Ada yang cuma mempunyai harta 10 juta, ada juga yang sudah 100 juta atau 1 M bahkan 1T. Kita liat batasan melimpah mereka bermacam2. tapi mereka sebenarnya telah sampai pada titik yang serupa yaitu “Sadar”. Kembali ke dalam diri kita masing2 yang sesungguhnya

semoga bermanfaat
-co-that-

Rahajeng Nyepi Tahun Saka 1931

Thursday, April 2nd, 2009
KOSONG

KOSONG

Switch to our mobile site