Saung Angklung Mang Udjo
Thursday, December 6th, 2007Pagi itu bunyi dering telepon di sebelah tempat tidurku memaksa mata, yang dengan berat, untuk terbuka dan membiarkan cahaya mentari pagi masuk membiaskan warna dalam otakku. Dengan perlahan tapi pasti, object pertama yang dimengerti oleh otakku melalui visualisasi dari mata, adalah muka Vicky, teman sekamarku di ruang 411 Hotel Jayakarta Bandung, skaligus pemilik handphone yang berdering tadi, yang masih tertidur tidak terusik oleh alarm yang dia set sendiri malam sebelumnya. Yah mungkin apa yang dirasakannya saat ini mirip dengan apa yang aku rasakan, dimana berat terasa pada kepala ini, mungkin efek dari beberapa gelas Southern Comfort yang kami tenggak bersama di MU Cafe PVJ Bandung yang baunya masih terasa pekat melekat di mulut ini, masih membuat kami enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Namun mau tidak mau aku harus memaksa mengangkat kelopak mataku dan beranjak dari tempat tidur serta kemudian menuju kamar mandi mengingat hari ini kami harus kembali mengikuti serangkaian kegiatan family gathering kantor tempat kami bekerja, yang telah mulai diselenggarakan di hari sebelumnya. Disamping itu kami juga harus mengejar sarapan di Hotel yang akan tutup pukul 10.00 waktu setempat
.
Selepas sarapan dan mandi pagi aku bersama rombongna akhirnya mumulai lagi perjalanan di pagi hari yang cerah ini, dengan udara segar khas bandung yang jarang aku rasakan di jakarta. Tujuan kami berikutnya adalah Saung Angklung Mang Udjo… Hmmm di perjalanan yang ada hanya penuh pertanyaan tentang tujuan kami yang satu ini. Sepintas sepertinya ini adalah sebuah tempat berbelanja oleh-oleh khas Bandung, tapi sesampainya di sana ternyata yang kami temui adalah semacam paguyuban kesenian angklung yang sangat menarik untuk dikunjungi.
Sambutan hangat dari penerima tamu membuka perkenalan kami dengan sebuah kalung miniatur angklung yang dililitkan di leher setiap pengunjung, seakan mengikatkan kami kembali pada sebuah budaya Indonesia khusunya Sunda yang terasa sudah menjauh dari hati para pemudanya, yang sekarang lebih banyak memilih untuk melestarikan budaya orang. Suasana pedesaan yang ditawarkan oleh design arsitekrur tradisional khas Sunda dengan tedungan nyiur meneduhkan suasana yang mulai memanas diterpa teriknya mentari Jawa Barat.
Langkah kami terarahkan oleh beberapa gadis, yang menyambut kedatangan kami dengan manisnya senyum, ketulusan dan dandanan alamiah khas mojang parahiangan yang jauh dari kesan fashion modern dan hingar bingar Jalan Dago yang lebih diminati kebanyakan kaum muda sekarang, ke sebuah aula pertujunjukan yang telah menyajikan alunan merdu music sunda sebagai sambutan berikutnya, yang dengan indah didendangkan dari kombinasi alat musik khas Sunda oleh beberapa pemuda dengan penuh penghayatan iramanya. Duduk di undakan aula yang melingkar dengan penerangan redup dari lampu lampu panggung, mengantarkan aku pada sebuah renungan manis disertai dengan senyum kebanggaan melihat mereka yang beraksi di depan sana, dengan fasih membawakan lagu lagu top40, dangdut, bahkan lagu classic layaknya Mozart yang bangkit kembali dari liang kubur namun dengan equipment yang berbeda. Aransement Sunda yang merdu dan memikat, menegurku, menyadarkan aku serta memberikan pandangan lain bahwa budaya bangsa ini belum bangkrut oleh gempuran budaya asing yang menerjang seperti sunami, masuk ke dalam jiwa anak2 muda Indonesia. Masih ada mereka-mereka ini yang masih akan mempertahankannya untuk jangka waktu yang cukup lama, untuk jangka waktu dimana anak cucu kita masih akan bisa menikmati bahkan ikut melestarikannya.
Dengan arahan dua dara manis, kami keluarga besar IT Telkomsel disuguhi atraksi memukau yang seakan membuat kami menemukan sesuatu yang sebenarnya milik kami yang hilang ditelan derasnya kebudayaan asing yang telah menjadi keseharian mereka yang hidup di kota kota besar. Kebahagian penuh persahabatan terpancar dari senyum manis anak-anak yang kira-kira usianya baru memenuhi syarat untuk masuk Taman Kanak-kanak kelas nol kecil sampai remaja-remaja, yang bagi kebanyakan orang disebut ABG, namun buatku sebutan itu tidaklah pantas buat mereka, karena sebutan Anak Baru Gede hanya buat anak-anak muda yang larut dalam hingar bingar mode yang menjadikan bangsa ini bangsa konsumtif dan bangsa yang melupakan budayanya sendiri. Dari pargelaran wayang golek singkat, atraksi tarian dan music tradisional sunda, sampai mengajak penonton untuk belajar memainkan angklung dan ikut membawakan lagu lagu pop dan dangdut populer, disuguhkan dan dikemas degan rapi dalam sanggar ini. Ditambah lagi atraksi anak-anak yang dengan mahir memainkan angklung bambu dengan gaya “Head Bang” layaknya pemusik Metal ala barat yang penuh emosi dan keras, namun oleh improfisasi anak-anak ini menjadi sesuatu yang menggelitik penuh kekaguman. Dengan lepas mereka menghayati peran mereka masing masing namun penuh keseriusan memberikan suasana meriah dalam aula sederhana tersebut.
Kesan ramah dan persahabatan pun merenggut perhatian kami yang mulai letih dalam perjalanan baik dalam perjalanan 2 hari di Jawa Barat ini maupun perjalanan hidup kami masing-masing. Ditambah suasanan teduh dan nyaman khas pedesaan memanjakan kami selepas pertunjukan. Makan siang di atas padang rumput hijau beralaskan tikar sulaman sederhana dan dibawah tedung agung nyiur, yang bayangannya menghalau sebagian cahaya Sang Surya yang juga ikut meramaikan acara kami, membawa kami ke dalam suasana malas, relex dan damai. Dan tak terasa kedamaian ini membawa kami pada kebersamaan dan larut dalam cerita yang keluar silih berganti dan membiarkannya berlalu terbawa angin pedesaan yang berhembus menghapus peluh dan penak dalam hati.
Saung Angklung Mang Udjo Sebuah tempat yang layak untuk dikunjungi bersama keluarga tercinta, menikmati suasana kebersamaan dan mendidik bagi putra putri kita, yang dimana tongkat estafet kebudayaan akan diserahkan. SEMOGA.
Waktupun berlalu dengan pasti dan tanpa kompromi memaksa kami meninggalkan suasana yang kalau bisa ingin rasanya di bawa ke Jakarta. Namun apa daya yang bisa di bawa hanya 2 buah seruling sunda yang melengkapi koleksi seruling bambuku yang akan ku maenkan mengenang masa-masa kejayaan bangsa ini bukan hanya geografis tapi kejayaan dalam budaya yang sekarang entah kemana. Akhir kata hanya bisa memanjatkan doa semoga keelokan budaya ini masih akan tetap bertahan hingga cucu kami bisa menikmatinya, bahkan ikut mempertahankannya. Amin.
http://www.angklung-udjo.co.id/
Salute for Saung Angklung Mang Udjo
-co-that-


