Absen-ku
Friday, November 23rd, 2007Hmm menarik, ini tentang waktu absenku tgl 21 Nov kemarin,

ini emang cuma kebetulan tapi gak sering bisa pas waktu masuk dan keluar ku sama.
Enjoy your day
Hmm menarik, ini tentang waktu absenku tgl 21 Nov kemarin,

ini emang cuma kebetulan tapi gak sering bisa pas waktu masuk dan keluar ku sama.
Enjoy your day

Pagi pagi buta aku udah terbangun oleh udara panas dan alunan suara Takbir di Masjid sebelah. Ya karena hari itu emang bertepatan dengan hari Kemenangan bagi sodara-sodaraku umat muslim, Hari Idul Fitri 1 Syahwal 1428 Hijriyah, yang jatuh pada tanggal 13 Oktober 2007 penanggalan masehi. Namun aku dan Bli Ananta punya agenda lain di hari yang penuh semangat ini. Hari ini kami berencana untuk menempuh perjalanan mengunjungi sebuah kota, yang selama ini menjadi impianku untuk megunjungi melebihi singapore
. Jogja!! Borobudur!! Prambanan!! Malioboro!! tempat-tempat impian yang sangat ingin aku kunjungi dari semenjak SMU dan Kuliah namun sekalipun tak pernah terwujud.
Persiapanpun sudah matang dengan tentunya mandi dulu sebalum berangkat (dengan berat hati). pukul setengah 6 padi kami berangkat dari Jakarta mengendarai Terios baru milik Bli Ananta. Singkat kata kami udah samapai di Jogja(singkat??? gila seharian brooo nyasar kemana2 dulu kekekkeke). Ya memang gak ada yang menarik selama perjalanan menuju jogja, aku hanaya habiskan dengan tidur dan makan hehehhe. sempet pula kami mandi di sebuah spbu di daerah jawa tengah. Yang menarik hanyalah pemandangan dimana banyak sekali kami temukan para pemudik bermotor yang mungkin aku bisa bilang sangant nekat, membonceng istri yang sedang menggendong anak balita di tengah mereka. Pemandangan yang ……. akhh susah untuk diungkapkan, antara prihatin ama kagum akan niat mereka untuk berkumpul dengan sanak keluarga di Hari Kemenangan itu.
Pukul 21 lewat dikit, akhirnya kaki menginjak tanah Jogja. Rasa senang di hati tak tertahankan lagi walupun bagian bagian tubuhku rasanya sedang berunjuk rasa menuntut “kemerdekaan”. Akhhh rasanya akan terjadi disintegrasi di badanku ini. Tapi rasa senang ini mempersatukan semuanya kembali.
Minggu 14 Oktober 2007, hari yang indah dengan udara yang sangat segar khas Jogja (jangan dibandingin ama jakarte) kita mulai bersiap untuk mengitari Jogja. Tempat pertama yang menjadi tujuan kami adalah Borobudur, ya walaupun tempatnya sedikit agak jauh dari tempat kami menginap, tapi keinginan untuk menyaksikan salah satu keajaiban dunia (mantan
) yang sangat membanggakan sudah tak tertahankan. Salah satu karya terbesar anak bangsa ini. Borobudur…. singkat kata tibalah kami di pelataran Keagungan Sang Kemulan yang seakan menyambut kami dengan keangkuhan mengingat kemegahannya menutupi birunya langit Magelang.
Namun energi spiritual yang ingin sekali aku rasakan sepertinya kali ini terasa kurang menyentuh kulit dan jiwaku. Memang tujuanku ke Borobudur sebenarnya untuk merasakan getaran spiritual Sang Kemulan, namun suasana panas dan keramaian membuat semuanya terasa berkurang. Mungkin waktuku memang salah, tapi aku tidak kecewa, keindahannya sudah cukup mengobati kerinduanku pada Jogja. Waktupun kami habiskan untuk berfoto-foto ria, bercengkrama dengan stupa-stupa yang mulai tidak dihargai nilainya, bagimana tidak, pengunjung sama sekali menganggap stupa-stupa ini hanya tumpukan batu sungai yang dipahat, tanpa mempedulikan nialai sejarah dan spiritual dibaliknya. Sangat menyedihkan. Walaopun peringatan dalam bentuk tulisan dan peringatan langsung telah diberikan namun sama sekali tidak di gubris, kalo saja ini jaman dimana Sang Kemulan dibangun dan disucikan, mungkin para pengunjung itu sudah dipancung oleh prajurit kerajaan. Hahh seprtinya keluhanku itu juga kurang pantas aku utarakan mengingat tabiat bangsa ini belakangan, yang membuat pelanggaran seperti itu menjadi suatu kewajaran, apa lagi di Jakarta huhhhhh.
Yup tak terasa waktu sudah siang, waktunya makan siang…. pecel sederhana dan gudeg khas jogja menjadi santap siang kami di sebuah warung sederhana di sekitar candi. Dan kamipun berpisah dengan sang Candi menuju tujuan berikutnya, Maliobor. Tidak banyak yang bisa aku ceritakan tentang jalan yang paling terkenal di Jogja ini. Ya karena kesempatan kami memang tidak banyak untuk menelusurinya, kami hanya punya waktu satu jam untuk berjalan santai sambali membeli sufenir di Malioboro, karena kami harus bergegas pulang agar kami tidak ketinggalan Pargelaran Ramayana di Prambanan (gak sempet mandi pula
).
Sekitar jam 8an aku berangkat dari kosan ponakan yang kebetulan ikutan naek motor, lumayan jauh dari sana. Sesampainya di wilayah Candi kami kebingungan mencari tempat pargelaran. Sebuah plang bertuliskan “********** RAMAYANA” (lupa depannya yang jelas ada Ramayana nya) terlihat oleh mata dibalik suasan gelap jalan. Tapi entah kenapa aku tetap saja memacu kendaraan lurus, dan akhirnya tersesat. Setelah bertanya ternyata memang plang tadi menunjukan tempat dimana kami harusnya membelokan stang kendaraan kami. Dan ternyata jalur yang sudah terlanjur kami tempuh adalah jalur yang mengitari wilayah candi yang, Ya Tuhan, luas sekali. Ditambah lagi suasana gelap gulita sepanjang perjalanan yang menambah bulu roma agak sedikit merinding. Dan akhirnya kami tiba di pelataran candi tempat pargelaran yang telah berlangsung beberapa menit. Namun langkahku terhenti melihat kemegahan candi dalam kegelapan dan hanya disorot cahaya kuning dari lampu penerangan di depannya. Megah, indah, dan menakjubkan… itulah rasa yang bergelora seperti listrik yang menjalar dari pelupuk mata mengakar ke hati dan mengalir ke sekujur tubuhku melalui pembuluh darang yang mulai kdinginan. Dalam hati aku baru mengerti baha waktu keinginanku untuk memacu motor pada jalur yang tidak seharusnya, mungkin, adalah telah diarahkan-Nya sehingga aku bisa merasakan energi spiritual yang luar biasa ini. Kaki serasa gemetar tak bisa melangkah, tapi genggaman tangan dingin dari keponakanku mengembalikan aku pada kesadaranku, setelah terlelap menyusup pada indahnya energi yang dipancarkan Sang Candi.
Akhirnya kami masuk ke dalam pergelaran menyaksikan sebuah sendratari warisan leluhur yang oleh para penari yang cantik-cantik, masih tetap dipertahankan. kenyataan ini menyadarkanku bahwa budaya bangsa ini belum tamat. Di tangan mereka tongkat estafet itu masih bergulir untuk jangaka waktu yang tak tentu. Dalam hati hanya bisa berdoa semoga cucuku masih tetap bisa meikmatinya.
Waktupun brlalu dengan pasti seiring carita Perjalanan Sang Rama dan Laksmana menyelesaikan tugasnya untuk memberikan inspirasi kemuliaan yang tersirat dalam perjalanan mereka.
Hari yang melelahkan tapi menyenangkan. Kamipun pulang dan beristirahat untuk mempersiapkan tenaga untuk perjalanan esok hari menuju jakarta.
Itulah seklumit perjalanan ku saat mengunjungi Jogja tempo hari, dalam perjalanan banyak renungan yang masih membekas dalam hati, menjadi oleh-oleh yang menyejukan untuk aku kembali menghadapai panas dan kerasnya Jakarta. Berikut ada sedikir cerita dalam foto yang aku ambil selama di jogja:









Dan keberangkatan kami sangat disejukan oleh indahnya senyum para penerus kebudayaan bangsa ini
PS: ternyata di sebuah SPBU di sekitat tegal ada pemandian Air Panas huuuuuhhh enaknyaaaaaa