Archive for the ‘Motivations’ Category

You’r Not Just You..

Saturday, June 5th, 2010

you say that you are alone

look up to the sky

then you’ll realize that you are not alone.

The Sun lights you

like a son, He loves you.

you say that you are a finger

cuz you think that you’r just the finger

realize that you are part of the hand

or the body even more

then you will know

that you are the universe now

I’ll come to guide you home

to lead you, that you’r  not just the bone

I’ll come trough the sound

then just hear, so you realize

that you’ve been already at Home

image from : http://bwzone.files.wordpress.com/2009/03/grand_universe_by_antifan_real.jpg

Harga Diri dan Nurani

Friday, May 21st, 2010

Mungkin Tuhan telah menunjukan titik cerah buat bangsa ini. Telah bermunculan para pemuda-pemudi yang berpegang teguh pada Harga Diri. Mereka dilecehkan, diremehkan dan tanpa omong kosong tak bermakna, mereka tunjukan secara kongkrit dengan memilih untuk keluar dari situasi tertekan itu. Mereka memilih dunia yang oleh Nurani mereka akan membawa kebahagiaan, walaupun dunia itu tanpa kuasa dan kemasyuran.

Berikut kutipan kutipan mereka yang membuat saya lebih bersemangat:

Ibu Sri Mulyani:

“Saya berhasil dan menang karena tidak didikte oleh siapa pun. Saya merasa berhasil karena saya tidak mengingkari nurani saya, dan saya masih menjaga martabat, serta menjaga harga diri saya. Maka saat ini saya menang,” ungkap Sri Mulyani saat menutup kuliah umum tentang “Kebijakan Publik dan Etika Publik” di Jakarta, Selasa (18/5/2010).

“Kelompok seperti Anda yang kelas menengah dan yang sangat sadar membayar pajak untuk menjaga republik ini tetap berdiri. Sebetulnya, di tangan orang seperti Anda-lah republik ini harus dijaga,” ungkapnya.


“Kalau hari ini ada yang menyesalkan atau menangisi kenapa Sri Mulyani memutuskan mundur dari menkeu, ini adalah suatu kalkulasi bahwa sumbangan saya atau apa pun yang saya putuskan sebagai pejabat publik tidak lagi dikehendaki di dalam sistem politik ketika perkawinan kepentingan itu sangat dominan. Banyak yang mengatakan ini adalah kartel. Saya lebih suka mengatakannya kawin, walaupun jenis kelaminnya sama,” ungkapnya.

Bapak Anggito Abimayu:

“Saya hanya mengatakan bahwa saya terusik harga diri saya sebagai sikap hak asasi saya.”

“Saya ingin pulang, ingin mengabdi ke instiusi yang membesarkan saya selama ini. Tidak ada kebencian, kekecewaan, hanya kerinduan saya pada kampus dan kebetulan keluarga saya sudah boyongan ke Yogya. Jadi ada baiknya juga setelah 10 tahun saya kembali mengabdi kepada institusi,”

sumber : http://lipsus.kompas.com/topikpilihan/read/2010/05/21/1025086/Ini.Harga.Diri..Bukan.Sakit.Hati


Itulah yang dipilih oleh Ibu Ani dan Mas Anggito. Dan secara kongkrit (tak hanya omongan tanpa makna, karena apa yang saya tulis di Blog ini adalah apa yang telah terjadi dalam hidup saya dan bukan hanya teori), saya pun telah menentukan pilahan itu… Prinsip dan Harga diri telah saya bela mengesampingkan kuasa dan kemasyuran. Dan semoga kekuatan itu akan tetap tegar saya pegang samapai kapanpun. Karena sesungguhnay ukuran Kebahagiaan setiap orang itu berbeda tergantung sudut pandang mana yang ia pilih dalam menjalani hidup. Dan penghormatan atas pilihan itulah adalah kedewasaan.

Karena, yang pasti perlawanan atas penindasan seperti itu tidak selamanya harus dilawan dengan Sakit Hati dan Kebencian. Tapi dengan penentuan sikap kedewasaan dan ksatria, seperti yang diungkapkan oleh Mas Anggito di atas. Hati tetap terbuka dan selalu menjaga perasaan orang, apa lagi yang belum mengerti sejauh mana makna dari Kebahagiaan kita dan sikap yang kita ambil. Seperti kata Bu Ani.. Saya Menang..

Menang karena berhasil mengalahkan Kebencian, Sakit Hati, Emosi  serta Diri Sendiri.

Image Source : http://warnaotakku87.blog.friendster.com/files/freedom2.jpg

The World is Getting Flat

Thursday, November 12th, 2009

“Yang lebih dibutuhkan dunia di era keterbukaan dan kemudahan informasi dan teknologi seperti sekarang ini adalah kreatifitas, dibading kepintaran.

Kemudahan informasi dan teknologi menjadikan tingkat pengetahuan orang setara(Flat).

Yang membedakan adalah bagaimana kreatifitasnya bekerja untuk mengolah informasi tersebut, untuk menghasilkan nilai lebih untuk dirinya dan masyarakat.”

terinspirasi dari cara Google memperlakukan employee-nya yang mungkin sedikitpun gak pernah terpikirkan oleh HRD di perusahaan lain yang masih terpaku pada teori2 kaku tanpa menginkuti perkembangan tingkat kenyamanan manusia, dengan kemudahan informasi seperti sekarang ini.

Titik Kesuksesan atau Titik Kesadaran?

Monday, April 6th, 2009

Pagi itu  seorang teman  datang dengan sebuah artikel menarik, yang dilepasnya di sebuah thread di milis  komunitasku di dunia maya. Artikel itu sangat menarik, menceritakan seorang yang telah mencapai kesuksesan baik dari materi maupun prestasi, yang kemudian merasa semua hanyalah hal yang maya dan memutuskan untuk kembali pada kehidupan yang sederhana di pedesaan. Cerita ini mirip dengan cerita Andy F Noya (pembawa acara Kick Andy) yang juga melakukan hal yang sama, mengundurkan diri dari posisis direksi sebuah TV swasta terkemuka di tanah air ini, untuk sebuah kehidupan baru keluar dari kondisi nyamannya. Dan banyak lagi orang2 sukses yang melakukan hal yang serupa, melepas keterikatan mereka akan materi untuk kehidupan sederhana dan tanpa tekanan (bayak aku jumpai di daerah Ubud, dimana banyak orang asing yang hidup sederhana layaknya penduduk setempat, dan melakukan aktifitas yang sama dengan penduduk seperti  bercocok tanam di sawah)

Yang menarik, seorang teman menanyakan hal berikut:

“kalo kita belum pernah merasakan kondisi keberlimpahan materi seperti itu,
kira-kira apakah kepikiran untuk mengatakan materi bukan salah satu hal utama dalam hidup ini ??

Merujuk kepada tujuan hidup kita kan ada
Dharma, Arta, Kama dan Moksa.”

Maka saya mencoba merenung untuk menemukan jawaban pertanyaan sahabat saya tersebut, bercermin dengan keadaan hidup saya sendiri. dan menyimpulkan sesuatu yang sedikit melegakan hati saya.

Saya sendiri merasa belum mencapai kondisi berlimpah materi seperti yang dibilang di artikel ini, tapi saia belakangan sependapat dengan orang-orang yang diceritakan dalam artikel di atas. Saya ingin sekali hidup dalam kesederhanaan pedesaan yang damai.

Manuasia itu selalu menginginkan lebih tanpa batas. Tapi manusia yang telah “Sadar” malah akan ingin kembali pada kesederhanaan tanpa ikatan dan tekanan. “Kita merasa kita belum berlimpah materi. Tapi buat orang lain yang tidak seberuntung kita, kondisi yang telah saya capai ini sudah sangat melimpah (skali lagi manusia tak akan pernah merasa cukup)”. Intinya disana, saat kita “sadar” kenyataan itu maka kita pun akan merasa telah berlimpah dan jenuh dengan “pencarian materi tersebut”.  Dan pada saat itulah kita merasa sudah sangat melimpah dan menginginkan kehidupan yang sederhana dan membelokan tujuan hidup ke arah yang lebih “bernilai”.

Karena sebenarnya batasan berlimpah atau tidak itu tak bisa diukur dengan jumlah materi tertentu, tapi dengan kesadaran bahwa semua itu tak akan ada habisnya. Jadi  renungan atas “Kesadaran” itu tidaklah harus kita lakukan setelah mencapai jumalah materi tertentu (karena memang tidak ada ukurannya) tapi tiap saat. Merenungin apakah kita sudah merasa cukup untuk mencapai level berikutnya yaitu kesederhanaan dalam Dharma, atau masih mau mencari Artha ? Jadi jika direnungkan permasalahan itu di dalam diri kita, masalah cukup/melimpah atau belum (menurut ukuran diri sendiri), bukan masalah sudah di titik cukup/melimpah  atau belum (menurut ukuran kebanyakan orang). Kalau memang kita merasa kurang cukuap ya apa boleh buat lanjutkanlah pencarian materi tersebut sampai pada titik melimpah menurut ukuran kita sendiri.

Orang yang seprti dikatakan di artikel diatas banyak sekali, dan dengan variasi cukup/melimpah yang berbeda. Ada yang cuma mempunyai harta 10 juta, ada juga yang sudah 100 juta atau 1 M bahkan 1T. Kita liat batasan melimpah mereka bermacam2. tapi mereka sebenarnya telah sampai pada titik yang serupa yaitu “Sadar”. Kembali ke dalam diri kita masing2 yang sesungguhnya

semoga bermanfaat
-co-that-

Kalung atau Gelang Mutiara

Tuesday, January 6th, 2009

Nusa Lembongan, Kamis 01 Januari 2009

Sebuah pagi yang diawali dengan segelas teh manis panas, dengan asap yang masih mengepul secara tidak sengaja membasuh dengan sendirinya mata yang sembab akibat kurang tidur beberapa hari sebelumnya. Terdengar gemuruh ombak yang menampar pipi kanan dan kiri Nusa Lembongan, dan mungkin juga terdiri dari butiran butiran air yang hari sebelumnya mengulung mengantarkan kami, para anggota BBC menyebrang ke Lembongan. Sebuah perjalanan yang juga bisa dibilang sedikit mengerikan, karena kami menyebrang setelah diberitakan beberapa orang terseret ombak, yang mungkin berasal dari gulungan yang sama dengan gulungan ombak yang menyebrangkan kami tersebut. Dari lamunan tersebut terbesit pertanyaan “apa yang akan terjadi pada detik ini kalau ombak kemarin itu mengila dan membalikan kapal kami”.

Gak ada yang tahu apa yang akan terjadi detik-detik berikutnya dalam setiap titik hidup kita. Walaupun kita sehat walafiat tanpa kekurangan apapun, kita tetaplah hanya seorang manusia yang telah ditentukan jalan hidup dan matinya. Bahkan seorang John F Kennedy, yang merupakan seseorang yang telah disiapkan dengan penjagaan luar biasa, sedetik sebelum tertembak, tidak menyangka akan ada butiran panas menembus kepalanya pada detik berikutnya. Apa lagi kita yang kadang menganggap diri bukan siapa-siapa.

Tapi yang paling penting, sebenarnya bagai mana kita menjalin tiap butiran-butiran hidup kita menjadi untaian mutiara, bukan hanya butiran aliminium yang nilainya kurang berkesan. Kita tak bisa menentukan apakah untaian itu akan menjadi Kalung ataukah hanya sebuah Gelang, tapi yang penting kita bisa membuat setiap bagiannya menjadi mutiara yang berharga. Itulah kenapa Quote di header blog ini adalah

“Hidup Itu Indah Kalau Kita Menyadari dan Menghargai Setiap Perubahan di Dalamnya”.

Kita sering melewati banyak hal begitu saja, tanpa menyadari kalau hal tersebut adalah berharga. Walau hanya sebuah kekaguman akan rumput yang bergoyang, kalau kita bisa menghargainya seperti halnya penghargaan akan keindahan Jatiluwih dengan biru langitnya, banyangkan akan banyak penghargaan-penghargaan dan syukur serta nilai-nilai atas waktu yang diberikan kepada kita (walaupun tak sepanjang kalung mutiara).

Jatiluwih, Tabanan Bali

Berusahalah untuk selalu berjuang dengan semangat untuk tetap berkreasi menghasilkan butiran-butiran mutiara, yang pada akhirnya akan kita kagumi sendiri keindahannya, saat terjalin menjadi kalung yang panjang atau hanya beberapa untaian membentuk gelang.

Selamat Tahun Baru
Semoga setiap hari di tahun-tahun berikutnya mampu kita jadikan butiran mutiara yang siap kita untai menjadi sebuah keindahan yang kita kagumi bersama, tak peduli sampai kapan kita akan diberikan kesempatan untuk menjalinnya.

-nightelf-

Hanya Renungan di Pagi Hari

Monday, December 15th, 2008

Kadang Kebahagiaan itu datang dari hal-hal yang selama ini kita anggap sebagai sumber penderitaan, tergantung sejauh mana kita mampu mengendalikan pikiran kita untuk mendefinisakannya suatu penderitaan sebagai suatu kebahagiaan begitu juga
sebaliknya, menempatkan diri di antaranya dan tidak terpengaruh oleh kebahagiaan dan penderitaan itu sendiri secara berlebih.

Saat semuanya terlebur dalam suatu rasa maka yang ada adalah kebahagiaan (atau penderitaan) yang sejati, ketenangan batin, dan pengendalian diri yang sempurna, terlepas dari tangis dan tawa.

Karena sesungguhnya semua bermula dan bersumber dari Diri Sendiri dan akan kembali pula pada Diri Sendiri

Semoga aku sampai di sana
Semoga semua mahluk berbahagia.

Switch to our mobile site