Melintasi beberapa tumpukan buku bertuliskan “Best Seller” diatasnya, menggerakan kedua bola mataku ke kanan dan kekiri mencari beberapa judul yang kira-kira bisa membuat aku, stidaknya tertarik untuk membaca sinopsis yang tersurat di balik setiap buku tersebut. Sebuah buku, yang sebenarnya telah lama menghiasi tumpukan serupa kembali, untuk kesekian kalinya menarik perhatianku untuk membacanya. Ya buku hasil karya Masaru Emoto yang bertitle “The Miracle of Water” kembali memikatku untuk memahami apa yang ingin disampaikan penulisnya. Dalam sebuah buku terjemahanke dalam bahasa Indonesia (biasalah Englishku cuma senin kamis
) yang tebalnya kira-kira 92 halaman, aku mencoba mencari apa yang sebenarnya ingin disampaikan sang penulis. Setelah bolak balik (bukan cuma bukunya, tapi pembacaya juga, kadang ke tengadah, kadang tengkurep kadang nungging, kadang jongkok upss di kamar ini bukan kamar mandi
) membaca buku yang sebenarnya sudah bukan tergolong buku yang baru lagi (waktu baru terbitnya, jangankan beli buku, buat makan aja susah), aku sampai pada kesimpulan yang mungkin sedikit berbeda dengan pembaca lain.
Dari pujian-pujian yang aku baca dari beberapa blog yang membahas isi dari buku ini, kebanyakan sangat mengagumi object yang dibahas di dalamnya, yaitu air, dimana mampu menghasilkan kristal-kristal mengagumkan dan disertai kata “Maha Besar Tuhan telah menciptakan air untuk kita semua”. Buatku, itu bukanlah suatu hal yang “wah” untuk dikagumi, buatku semua ciptaan Tuhan selalu mengagumkan dan selalu bermanfaat buat umat manusia, bahkan hanya sebuah batu krikil di pinggir sungai.
Seharusnya yang kita kagumi adalah apa yang membuat air demikian indahnya “menari” dan “tersenyum” seperti itu. Seperti yang dijelaskan Dr. Masaru, Resonansi dari getaran energi positive kehidupan yang timbul dari aksi yang dilakukan manusialah semua itu terjadi. Masih kah ingat kita dengan Hukum Newton III (halaaahhhh Nilai raport Fisika merah aja blagu
), “Setiap Aksi Menimbulkan Reaksi”, inipun berlaku untuk manusia bahkan jauh sebelum Newton mematenkan, hukum ini telah dikenal dengan sebutan Karma (bukanlah Hukuman Tuhan, emang Tuhan algojo?? tapi merupakan Reaksi dari apa yang telah kita lakukan, Dia gak usah turun tangan, udah ada systemnya sendiri ya tentunya Dia yang coding dan ngompilenya ampe jadi executable halah sok IT).
Manusia terdiri dari 90% air yang membentuk tubuhnya, dan dikelilingi oleh energi atau gelombang elektromagnetik yang banyak dikenal sebagai aura atau dalam bahasa Yoga/Reiki disebut prana. Dan loncatan dari energi ini dipengaruhi oleh setiap pikiran/prilaku dan perkataan manusia dan akan mempengaruhi setiap benda/energi di sekitarnya, termasuk di dalamnya air. Dan oleh Dr. Masaru, diabadikan beberapa reaksi yang dihasilkan air, dari aksi Cinta, Kasih dan berbagai aksi positif yang kita lakukan, dan aku meyakini tidak cuma air, batu, tanah, pohon, binatang, semua hal yang Dia sediakan untuk kita di alam ini akan “Tersenyum” pula apabila energi cinta dan kasih itu kita tebarkan untuk alam semesta ini. Dan jangan lupa, tubuh kita sendiripun adalah air yang akan bereaksi serupa dan akan membawa kesehatan kedamaian serta kebahagiaan.
Oleh sebab itu marilah kita tebarkan Cinta dan Kasih, mulai dari diri sendiri, sesama dan untuk semua mahluk di alam semesta ini. Mulai dari senyuman, ucapan terima kasih hingga Doa merupakan aksi yang memancarkan energi positive untuk kita semua. Jadi aku lebih setuju apabila buku ini diberi judul The Miracle of Love