Mungkin Tuhan telah menunjukan titik cerah buat bangsa ini. Telah bermunculan para pemuda-pemudi yang berpegang teguh pada Harga Diri. Mereka dilecehkan, diremehkan dan tanpa omong kosong tak bermakna, mereka tunjukan secara kongkrit dengan memilih untuk keluar dari situasi tertekan itu. Mereka memilih dunia yang oleh Nurani mereka akan membawa kebahagiaan, walaupun dunia itu tanpa kuasa dan kemasyuran.
Berikut kutipan kutipan mereka yang membuat saya lebih bersemangat:
Ibu Sri Mulyani:
“Saya berhasil dan menang karena tidak didikte oleh siapa pun. Saya merasa berhasil karena saya tidak mengingkari nurani saya, dan saya masih menjaga martabat, serta menjaga harga diri saya. Maka saat ini saya menang,” ungkap Sri Mulyani saat menutup kuliah umum tentang “Kebijakan Publik dan Etika Publik” di Jakarta, Selasa (18/5/2010).
“Kelompok seperti Anda yang kelas menengah dan yang sangat sadar membayar pajak untuk menjaga republik ini tetap berdiri. Sebetulnya, di tangan orang seperti Anda-lah republik ini harus dijaga,” ungkapnya.
“Kalau hari ini ada yang menyesalkan atau menangisi kenapa Sri Mulyani memutuskan mundur dari menkeu, ini adalah suatu kalkulasi bahwa sumbangan saya atau apa pun yang saya putuskan sebagai pejabat publik tidak lagi dikehendaki di dalam sistem politik ketika perkawinan kepentingan itu sangat dominan. Banyak yang mengatakan ini adalah kartel. Saya lebih suka mengatakannya kawin, walaupun jenis kelaminnya sama,” ungkapnya.
Bapak Anggito Abimayu:
“Saya hanya mengatakan bahwa saya terusik harga diri saya sebagai sikap hak asasi saya.”
“Saya ingin pulang, ingin mengabdi ke instiusi yang membesarkan saya selama ini. Tidak ada kebencian, kekecewaan, hanya kerinduan saya pada kampus dan kebetulan keluarga saya sudah boyongan ke Yogya. Jadi ada baiknya juga setelah 10 tahun saya kembali mengabdi kepada institusi,”
sumber : http://lipsus.kompas.com/topikpilihan/read/2010/05/21/1025086/Ini.Harga.Diri..Bukan.Sakit.Hati
Itulah yang dipilih oleh Ibu Ani dan Mas Anggito. Dan secara kongkrit (tak hanya omongan tanpa makna, karena apa yang saya tulis di Blog ini adalah apa yang telah terjadi dalam hidup saya dan bukan hanya teori), saya pun telah menentukan pilahan itu… Prinsip dan Harga diri telah saya bela mengesampingkan kuasa dan kemasyuran. Dan semoga kekuatan itu akan tetap tegar saya pegang samapai kapanpun. Karena sesungguhnay ukuran Kebahagiaan setiap orang itu berbeda tergantung sudut pandang mana yang ia pilih dalam menjalani hidup. Dan penghormatan atas pilihan itulah adalah kedewasaan.
Karena, yang pasti perlawanan atas penindasan seperti itu tidak selamanya harus dilawan dengan Sakit Hati dan Kebencian. Tapi dengan penentuan sikap kedewasaan dan ksatria, seperti yang diungkapkan oleh Mas Anggito di atas. Hati tetap terbuka dan selalu menjaga perasaan orang, apa lagi yang belum mengerti sejauh mana makna dari Kebahagiaan kita dan sikap yang kita ambil. Seperti kata Bu Ani.. Saya Menang..
Menang karena berhasil mengalahkan Kebencian, Sakit Hati, Emosi serta Diri Sendiri.

Image Source : http://warnaotakku87.blog.friendster.com/files/freedom2.jpg