Archive for the ‘Music and Art’ Category

Saint of My Life

Monday, May 11th, 2009

Goodnight, goodnight my little angel
Goodnight, goodnight my little ones
Spread your wings and fly away into your dreams

When you were slept i’m on your side
and When you’r awake i’ll be there still
Close your eyes and pull the smile on your faces..

Don’t be scare, cause i’ll be there to hold you tight
You’re the king, you’re the queen, you’re the saint of my life..
When your awake it’s trembling down don’t you cry
cause there’s nothing, nothing then will keep us a part

Sing with me my little darling..
Sing a long to this lullaby..
Big there mouth kiss the stars
so goodnight….

Lagu Rohani-Ku Tahun Ini

Friday, October 3rd, 2008

Tadinya ingin memilih Gigi, Ungu atau Nyanyian Dharma-nya Bujana.. tapi sepertinya pilihanku jatuh pada…

Laskar Pelangi by Nidji

Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia
Telah hilang
Tanpa lelah sampai engkau
Meraihnya

Laskar pelangi
Takkan terikat waktu
Bebaskan mimpimu di angkasa
Raih bintang di jiwa

Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang kuasa
Cinta kita di dunia..

Selamanya…

Cinta kepada hidup
Memberikan senyuman abadi walau kadang ini tak adil
Tapi cinta lengkapi kita

Laskar pelangi
Takkan terikat waktu
Jangan berhenti mewarnai..
Jutaan mimpi di bumi

Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang kuasa..
Cinta kita di dunia..

Selamanya

Dear GOD [Avenged Sevenfold]

Monday, September 22nd, 2008

A lonely road, crossed another cold state line
Miles away from those I love
Purpose hard to find
While I recall all the words you spoke to me
Can’t help but wish that I was there
Back where I’d love to be, oh yeah

Dear God the only thing I ask of you
Is to hold her when I’m not around
When I’m much too far away
We all need that person who can be true to you
But I left her when I found her
And now I wish I’d stayed
‘Cause I’m lonely and I’m tired
I’m missing you again, oh no
Once again

There’s nothing here for me on this barren road
There’s no one here while the city sleeps
And all the shops are closed
Can’t help but think of the times I’ve had with you
Pictures and some memories will have to help me through, oh yeah

Dear God the only thing I ask of you is
To hold her when I’m not around,
When I’m much too far away
We all need that person who can be true to you
I left her when I found her
And now I wish I’d stayed
‘Cause I’m lonely and I’m tired
I’m missing you again oh no
Once again

Some search, never finding a way
Before long, they waste away
I found you, something told me to stay
I gave in, to selfish ways
And how I miss someone to hold
When hope begins to fade…

A lonely road, crossed another cold state line
Miles away from those I love
Hope is hard to find

Dear God the only thing I ask of you is
To hold her when I’m not around,
When I’m much too far away
We all need the person who can be true to you
I left her when I found her
And now I wish I’d stayed
‘Cause I’m lonely and I’m tired
I’m missing you again oh no
Once again

My EOS 500, Learning How to Use It

Monday, July 14th, 2008

Pegal-pegal, habis ngangkat almari kayu saat membantu Om Nengah pindah rumah, mendadak berkurang saat tiba-tiba pintu lemari tersebut terbuka dan sebuah benda hitam yang keluar dari dalamnya menimpaku tepat di jidat. Adrenalin yang dicuatkan oleh reaksi reflex saat ingin menghindari benda tadi mengobati rasa letih. Tangan pun, tanpa diperintahkan menangkap tali yang bertuliskan Canon,yang mengikat benda itu. Ya yang aku tangkap adalah sebuah kamera Analog bermerek Canon, dengan seri EOS 500 milik Om Nengah.

Segera kugantungkan kamera itu di leher, agar terkesan menjaga biar tidak tertimpa benda benda yang mau dipindahkan, (padahal berharap biar nempel terus ampe rumah :D ). Selepas berbenah dan merapikan semua barang-brang yang ada, sesi perbincangan ringan melepas lelahpun diselenggarakan di depan teras bergaya Bali dengan ukiran khasnya, yang membedakan dengan rumah rumah sekitar komplek tersebut. Telanjang dada, dengan keringan masih bercucuran menghiasi percakapan kami(kamera masih ngegantung nih di dada… hehhehe gak mau lemapas). Sampailah dimana aku mulai mempertanyakan kiprah sang kamera analog yang aku usap2 penuh rasa sayang layaknya milik sendiri(berharap om sadar betapa sayangnya aku ma kamra itu entar kalau jad miliku kekekke). satu… dua… tiga…. (menghitung dalam hati) jrengggg sebuah kalimat keluar dari bibir Om Nengah “Kamu keliatannya suka ma kamera itu Gus… kamuambil aja, Om udah gak pernah make lagi..” Hahahhaha akhirnyaaaa!! saat yang aku tunggu2 tiba… harapan ku dari semenjak memegangnya pertama kali kesampaian juga. Kamera itu jatuh ketangan orang yang tepat (ueeeekk cuihh!!).

Beberapa hari di simpan di lemari, akhirnya aku bawa ke seorang pakar foto di kantor, khsusnya pengkoleksi kamera-kamera tua… Yups sapa lagi kalau bukan Mas Yaya. Atasa sarannya kamera, yang sedikit agak jamuran itu mulai aku bersihkan dan mulai bisa berfungsi dengan baik.

Uihihihihihihiih Akhinya aku punya kamera analog yang berkwalitas kekekekkek sekarang belajar makenya :( susah kayaknya heheheh

High Dynamic Range Photograpy

Saturday, January 19th, 2008

Capek dengan ngurusin kerjaan seharian, aplikasi error, data belum valid aakhhhh hari ini bener-bener letih. Setibanya di depan pintu kamar kosan, rasanya ingin langsung loncat ke tempat tidurku yang sebenarnya kurang nyaman karena sudah gembos dan melengkung, membuat tulang punggung ini selalu sakit setiap bangun pagi. Tapi mau gimana lagi?? itulah hidup merantau dan sendiri. Melepas beban di bahu, aku gerakan badan kemudian meraih sebatang dupa wangi di atas altar, tepat di sebelah patung Buddha dan Ganesha, di depan foto Hyang Shiva dan Ibu Durga, yang kemudian dengan korek putih bertuliskan Tokai(duhh ini korek kok mereknya gak enak banget :D ) aku nyalakan dengan doa dalam hati, kemudian kuhaturkan dengan rasa bhakti, berharap sugesti ini mengurangi lelahku bergelut dengan dunia seharian.

Entah karena Doa aku gak tau, tapi rasanya aku tiba tiba belum ingin memejamkan mata. Kuraih puput (red: laptop putih imut merk Apple) yang masih tersimpan dalam tas gendong yang aku taruh di pinggir meja. Kubuka-buka kumpulan file foto liburan ku kemarin bersama Wira dan Dian di Bali (cieee tumben nihh liburan ke Bali, biasanya pulang kampung ke Bali hahahahha). Teringat sebuah pembicaraan dengan Jogz Bojog tentang sebuah teknik mengolah photo yang bisa membuat sebuah photo biasa menjadi luar biasa. HDR atau kalau ditarik kepanjangannya High Dynamic Range, adalah sebuah teknik penggabungan beberapa foto yang memiliki nilai Exposure yang berbeda beda, sehingaga hasil gabungannya akan memiliki kombinasi Highlight dan shadow yang menarik dan membuat sebuah foto menjadi lebih hidup.

Membuat sebuah Foto HDR bisa dilakukan dengan menggunakan Photoshop atau program seperti Photomix. Dengan kedua tools ini kita bisa merubah kwalitas dari sebuah foto biasa menjadi luar biasa. Seperti foto-foto di sini.
Sebagai perbandingan hasilnya berikut adalah foto sebelum dan sesudah diolah dengan teknik HDR:

Sebelum HDR

Hasilnya:

Sesudah HDR

OK Selamat Mencoba

Saung Angklung Mang Udjo

Thursday, December 6th, 2007

Pagi itu bunyi dering telepon di sebelah tempat tidurku memaksa mata, yang dengan berat, untuk terbuka dan membiarkan cahaya mentari pagi masuk membiaskan warna dalam otakku. Dengan perlahan tapi pasti, object pertama yang dimengerti oleh otakku melalui visualisasi dari mata, adalah muka Vicky, teman sekamarku di ruang 411 Hotel Jayakarta Bandung, skaligus pemilik handphone yang berdering tadi, yang masih tertidur tidak terusik oleh alarm yang dia set sendiri malam sebelumnya. Yah mungkin apa yang dirasakannya saat ini mirip dengan apa yang aku rasakan, dimana berat terasa pada kepala ini, mungkin efek dari beberapa gelas Southern Comfort yang kami tenggak bersama di MU Cafe PVJ Bandung yang baunya masih terasa pekat melekat di mulut ini, masih membuat kami enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Namun mau tidak mau aku harus memaksa mengangkat kelopak mataku dan beranjak dari tempat tidur serta kemudian menuju kamar mandi mengingat hari ini kami harus kembali mengikuti serangkaian kegiatan family gathering kantor tempat kami bekerja, yang telah mulai diselenggarakan di hari sebelumnya. Disamping itu kami juga harus mengejar sarapan di Hotel yang akan tutup pukul 10.00 waktu setempat :) .

Selepas sarapan dan mandi pagi aku bersama rombongna akhirnya mumulai lagi perjalanan di pagi hari yang cerah ini, dengan udara segar khas bandung yang jarang aku rasakan di jakarta. Tujuan kami berikutnya adalah Saung Angklung Mang Udjo… Hmmm di perjalanan yang ada hanya penuh pertanyaan tentang tujuan kami yang satu ini. Sepintas sepertinya ini adalah sebuah tempat berbelanja oleh-oleh khas Bandung, tapi sesampainya di sana ternyata yang kami temui adalah semacam paguyuban kesenian angklung yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Sambutan hangat dari penerima tamu membuka perkenalan kami dengan sebuah kalung miniatur angklung yang dililitkan di leher setiap pengunjung, seakan mengikatkan kami kembali pada sebuah budaya Indonesia khusunya Sunda yang terasa sudah menjauh dari hati para pemudanya, yang sekarang lebih banyak memilih untuk melestarikan budaya orang. Suasana pedesaan yang ditawarkan oleh design arsitekrur tradisional khas Sunda dengan tedungan nyiur meneduhkan suasana yang mulai memanas diterpa teriknya mentari Jawa Barat.

Langkah kami terarahkan oleh beberapa gadis, yang menyambut kedatangan kami dengan manisnya senyum, ketulusan dan dandanan alamiah khas mojang parahiangan yang jauh dari kesan fashion modern dan hingar bingar Jalan Dago yang lebih diminati kebanyakan kaum muda sekarang, ke sebuah aula pertujunjukan yang telah menyajikan alunan merdu music sunda sebagai sambutan berikutnya, yang dengan indah didendangkan dari kombinasi alat musik khas Sunda oleh beberapa pemuda dengan penuh penghayatan iramanya. Duduk di undakan aula yang melingkar dengan penerangan redup dari lampu lampu panggung, mengantarkan aku pada sebuah renungan manis disertai dengan senyum kebanggaan melihat mereka yang beraksi di depan sana, dengan fasih membawakan lagu lagu top40, dangdut, bahkan lagu classic layaknya Mozart yang bangkit kembali dari liang kubur namun dengan equipment yang berbeda. Aransement Sunda yang merdu dan memikat, menegurku, menyadarkan aku serta memberikan pandangan lain bahwa budaya bangsa ini belum bangkrut oleh gempuran budaya asing yang menerjang seperti sunami, masuk ke dalam jiwa anak2 muda Indonesia. Masih ada mereka-mereka ini yang masih akan mempertahankannya untuk jangka waktu yang cukup lama, untuk jangka waktu dimana anak cucu kita masih akan bisa menikmati bahkan ikut melestarikannya.

Dengan arahan dua dara manis, kami keluarga besar IT Telkomsel disuguhi atraksi memukau yang seakan membuat kami menemukan sesuatu yang sebenarnya milik kami yang hilang ditelan derasnya kebudayaan asing yang telah menjadi keseharian mereka yang hidup di kota kota besar. Kebahagian penuh persahabatan terpancar dari senyum manis anak-anak yang kira-kira usianya baru memenuhi syarat untuk masuk Taman Kanak-kanak kelas nol kecil sampai remaja-remaja, yang bagi kebanyakan orang disebut ABG, namun buatku sebutan itu tidaklah pantas buat mereka, karena sebutan Anak Baru Gede hanya buat anak-anak muda yang larut dalam hingar bingar mode yang menjadikan bangsa ini bangsa konsumtif dan bangsa yang melupakan budayanya sendiri. Dari pargelaran wayang golek singkat, atraksi tarian dan music tradisional sunda, sampai mengajak penonton untuk belajar memainkan angklung dan ikut membawakan lagu lagu pop dan dangdut populer, disuguhkan dan dikemas degan rapi dalam sanggar ini. Ditambah lagi atraksi anak-anak yang dengan mahir memainkan angklung bambu dengan gaya “Head Bang” layaknya pemusik Metal ala barat yang penuh emosi dan keras, namun oleh improfisasi anak-anak ini menjadi sesuatu yang menggelitik penuh kekaguman. Dengan lepas mereka menghayati peran mereka masing masing namun penuh keseriusan memberikan suasana meriah dalam aula sederhana tersebut.

Kesan ramah dan persahabatan pun merenggut perhatian kami yang mulai letih dalam perjalanan baik dalam perjalanan 2 hari di Jawa Barat ini maupun perjalanan hidup kami masing-masing. Ditambah suasanan teduh dan nyaman khas pedesaan memanjakan kami selepas pertunjukan. Makan siang di atas padang rumput hijau beralaskan tikar sulaman sederhana dan dibawah tedung agung nyiur, yang bayangannya menghalau sebagian cahaya Sang Surya yang juga ikut meramaikan acara kami, membawa kami ke dalam suasana malas, relex dan damai. Dan tak terasa kedamaian ini membawa kami pada kebersamaan dan larut dalam cerita yang keluar silih berganti dan membiarkannya berlalu terbawa angin pedesaan yang berhembus menghapus peluh dan penak dalam hati.

Saung Angklung Mang Udjo Sebuah tempat yang layak untuk dikunjungi bersama keluarga tercinta, menikmati suasana kebersamaan dan mendidik bagi putra putri kita, yang dimana tongkat estafet kebudayaan akan diserahkan. SEMOGA.

Waktupun berlalu dengan pasti dan tanpa kompromi memaksa kami meninggalkan suasana yang kalau bisa ingin rasanya di bawa ke Jakarta. Namun apa daya yang bisa di bawa hanya 2 buah seruling sunda yang melengkapi koleksi seruling bambuku yang akan ku maenkan mengenang masa-masa kejayaan bangsa ini bukan hanya geografis tapi kejayaan dalam budaya yang sekarang entah kemana. Akhir kata hanya bisa memanjatkan doa semoga keelokan budaya ini masih akan tetap bertahan hingga cucu kami bisa menikmatinya, bahkan ikut mempertahankannya. Amin.

http://www.angklung-udjo.co.id/
Salute for Saung Angklung Mang Udjo
-co-that-

Switch to our mobile site