Archive for September, 2011

Saat Ngaben Masal Menjadi Salah Satu Solusi

Wednesday, September 14th, 2011

Kampung halaman saya, Bali, selalu menjadi sebuah dimensi ruang untuk me-refresh kembali kepenatan ibu kota yang saya bawa dari Jakarta. Berbagai masalah, tekanan bahkan kepalsuan serasa mengelupas, mencair dan mengalir dari sekujur tubuh, mengikuti gaya gravitasi, jatuh ke hangatnya pangkuan Ibu Pertiwi. Pada kepulangan kali inipun hal serupa terasa dari semenjak pertama kali menginjakan langkah kaki di landasan parkir pesawat Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Dan aura relaksasi dan meditatif (Baca juga In Bali Life is Meditaion) ini, selalu membawa pada renungan-renungan yang membelalakan mata, tentang kampung halaman saya yang satu ini. Tentang masalahnya, baik dari sudut pandang orang Bali sediri, maupun dari sudut pandang orang luar, dimana dalam hal ini saya mencoba menempatkan diri sebagai Observer-nya (Ceritanya menjadi orang Bali dan skaligus bukan Orang Bali :D ).

 

Kepulangan kali ini lebih banyak saya habiskan untuk berbagai kegiatan adat di beberapa tempat termasuk di desa sendiri, sebuah desa di sebelah utara kota Gianyar, Beng. Perioda pertengahan tahun (khususnya di bulan Agustus dan September) adalah perioda yang lumayan sibuk untuk kebanyakan masyarakat Bali. Dalam perioda ini, banyak diselenggarakan berbagai upacara musiman (tidak rutin) di berbagai tempat, karena memang dipercara di bulan-bulan inilah dimensi waktu memberikan kesempatan baik untuk melaksanakannya. Pernikahan (Manusa Yadnya) dan Ngaben (Pitra Yadnya) lebih banyak diselenggarakan di bulan-bulan tersebut. Dan kali ini saya lebih banyak terlibat dalam berbagai prosesi Ngaben di beberapa tempat. Hari kedua saya di Bali saya datang ke acara Ngelungah (Ngaben untuk bayi) salah seorang sahabat saya, di desa tetangga, Bitra. Kebetulan acaranya dilaksanakan berbarengan dengan prosesi Ngaben Masal di desa tersebut. Bahkan Ngaben Masal kali ini merupakan gabungan dari beberapa desa. Sungguh meriah acaranya. Arak-arakan Bade (Pagoda sebagai tempat membawa Sawa/Jenazah) dan Lembu (Sebuah patung dari kayu dan gabus,biasanya ya berbentuk lembu atau kadang singa tempat menaruh Sawa/Jenazah saat akan dibakar di kuburan), membuat saya terpesona kembali (Ceritanya bukan orang bali lagi), maklum 10 tahun saya habiskan hidup saya di luar Bali, dan selama 10 tahun tersebut sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah saya mengikuti prosesi ngaben masal seperti ini lagi. Arak-arakan tersebut bahkan mengharuskan lalulintas sepanjang jalan protokol yang dilalui harus dialihkan. Senang sekali.

 

Di desa saya sendiri, jauh-jauh hari juga sedang mempersiapkan perhelatan serupa. Walaupun sayang ,di desa sendiri untuk prosesi tahun ini saya tidak bisa mengikutinya karena harus kembali ke Jakarta sebelum acara dilaksanakan. Namun saya masih bisa menyumbangkan sedikit tenaga untuk ikut membantu prosesi acara, dimana kebetulan salah satu keluarga yang  ikut menyelenggarakan Ngaben Masal kali ini adalah sodara sendiri. Setiap senja menjelang, kami, para anggota banjar (RW) adat, berkumpul di Balai Banjar untuk “mencicil” persiapan yang diperlukan. Kesempatan ini menjadi sangat berarti buat saya, yang harus hidup di perantauan, untuk kembali berebaur menjadi bagian dari banjar, kembali berkumpul bersama anggota banjar yang sekarang lebih banyak didominasi oleh mereka yang dulunya adalah teman-teman sepermainan saya. Bercanda gurau, saling tegur sapa dan berbagi cerita serta ide-ide yang saya tidak sangka sangat brilian, keluar dari sahabat-sahabat saya, yang dulu saya ajak bersama-sama menarik layang-layang di tengah sawah. Tentu kesempatana ini saya sangat nanti-nantikan semasih saya merantau di Jakarta. Berbagi nostalgia yang tak mungkin bisa diraih kembali.

 

Di sela-sela cerita yang mengalir, bagai air sungai Batu Lampo di pinggiran desa tempat kami dulu bermain, bercanda, dan mandi bersama, sebuah konsep menarik kembali tertangkap dan terangkum dalam otak tentang  Ngaben Masal ini. Saya memang tidak banyak tahu bagaimana detail pelaksanaan Ngaben Masal, tapi saya melihat solusi-solusi seperti ini adalah solusi yang patut dikembangkan guna menjaga keseimbangan antara adat dan perekonomian masyarakat bali di tengah-tengah perhelatan globalisasi seperti sekarang. Sudah sangat jelas permasalah yang dihadapi masyarakat Bali di era globaloisasi, dimana kesempatan untuk berkembang dalam pendidikan, teknologi, dan karir lebih sering berbenturan dengan kewajiban dalam lingkungan adat yang kadang kaku dan kurang memberikan kesempatan anggota adatnya untuk berkembang lebih jauh dalam pilar-pilar pendidikan, perekonomian dan teknologi, (baca juga Rekonstruksi Pilar-Pilar Bali).

 

Manfaat yang bisa diambil dari pelaksanaan Ngaben secara masal adalah:

1. Biaya yang diperlukan bagi keluarga peserta bisa lebih ditekan. Dengan melaksanakan upacara secara berkelompok, banyak biaya, baik upacara maupun biaya lain bisa disatukan pengadaannya, karena banyak upacara/upakara yang bisa dijadikan satu  untuk beberapa peserta. Penghematan biaya ini  cukup signifikan hasilnya. Dengan demikian, keluarga yang kurang mampu tidak terbebani dengan biaya yang berat untuk bsia melaksanakan Ngaben. Disini kita bisa menegakan kembali pilar perekonomian masyarakat. Di jaman Addvertaising seperti sekarang ini, jumlah masa dalam pelaksanaan Ngaben Masal juga bisa menjadi sesuatu yang dijual ke berbagai perusahaan untuk pemasangan iklan. Operator selular misalnya, belakangan banyak program-program sosial skaligus marketing yang dikemas untuk membantu pelaksanaan Ngaben masal.Tentu dengan bantuan dana seperti ini, biaya yang dikeluarkan bisa lebih ditekan lagi.

 

2. Waktu pelaksanaan yang lebih terjadwal. Di Bali sebelum Ngaben jenazah dari keluarga yang meninggal bisa dikingsan (ngaben kecil/dititp di api) atau dikubur terlebih dahulu untuk nantinya dibakar pada waktu yang tepat. Untuk itu jika ada anggota keluarga yang meninggal, upacara ngaben bisa ditunda dalam jangka waktu tertentu, guna melakukan persiapan baik itu mencari hari baik atau persiapan financial. Degan demikian Upcara Ngabennya bisa disesuaikan waktunya, dan akan lebih baik jika dilakukan berkelompok dengan Ngaben Masal. Disini kita memperoleh flexibilitas waktu baik untuk anggota keluarga  melakukan persiapan, maupun anggota banjar lain untuk bergotong royong. Waktu untuk pelaksanaannya bisa diplot menjadi sebuah jadwal rutin satu,dua atau tiga tahunan, sehingga dalam satu, dua atau tiga tahun tersebut, anggota banjar yang lain hanya disibukan di plot waktu itu saja, bukan berkali kali. Ini akan memberikan waktu lebih luang buat anggota banjar yang lain untuk mengembangkan diri di luar adat.

 

Namun pelaksanaan Ngaben secara berkelompok ini menuntut peran anggota banjar lain lebih aktif. Jika dengan Ngaben pribadi peran anggota banjar lain tidak terlalu dituntut, dalam Ngaben berkelompok ini peran anggota banjar lebih dituntut karena harus dibentuk kepanitiaan khusus yang menangani berbagai macam hal di dalamnya. Namun sebenarnya hal ini lebih bisa diterima ketimbang proses Ngaben yang berkali-kali dalam kurun waktu tertentu. Disamping itu kepanitiaan juga bisa difocuskan pada anggota keluarga peserta Ngaben untuk lebih bisa berperan, sehingga mengurangi tanggung jawab anggota banjar yang bukan peserta. Jadi jika ditelaah lagi, pengelompokan proses Ngaben ini lebih banyak manfaatnya buat masyarakat Bali dan banjar yang bersangkutan.

 

Solusi-solusi seperti Ngaben Masal/Kelompok ini adalah solusi yang harus mulai kita telusuri untuk menjagi keseimbangan Bali ditengah-tengah perhelatan Globalisasi zaman sekarang ini. Dan untuk merealisasikannya juga dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk ikut berperan di dalamnya. Seperti halnya di beberapa Banjar di Bali yang sudah mewajiban Ngaben dilakukan secara berkelompok di dalam Awig-Awig(Undang-undang) adat mereka. Kita harus hilangkan kecendrungan masyarakat yang lebih mementingkan Gengsi dan Ego. Sudah saatnya Genggsi dan Nama besar itu kita alihkan dalam bentuk yang berbeda, bukan lagi menonjolkan diri dengan kemewahan, tapi menonjolkan diri dengan lebih banyak berbagi bagi masyarakat, dalam hal ini anggota Banjar lain yang merupakan kelompok masyarakat terdekat kita. Kebanggaan bisa berbuat sesuatu buat masyarakat saya kira sama nilainya, bahkan lebih, ketimbang kebanggaan dengan berpamer kemewahan yang malah akan memunculkan kecemburuan sosial dan perpecahan antar anggota bangjar sendiri. Semoga kita bisa membangun Bali dan memperkuat Ajeg Bali dengan pemahaman-pemahaman seperti ini.

 

 

Semoga Bermanfaat.

 

Rekonstruksi Pilar-Pilar Bali

Monday, September 5th, 2011

Ibarat sebuah rumah, Bali tetap bisa berdiri kokoh seperti sekarang karena ditopang oleh  pilar-pilar yang telah sedemikian rupa didesign selama ber abad-abad lamanya untuk menahan terpaan badai perubahan, sehingga membuat semua penghuni di dalam rumah tersebut tetap aman dan nyaman. Namun apa jadinya jika pilar-pilar itu tidak seimbang lagi? Tinggi rendahnya tidak lagi sama, daya topangnya tidak lagi seimbang? Dengan mudah rumah tersebut digoyang oleh energi-energi perubahan dan pada akhirnya merobohkan rumah itu sendiri.

 

Saya teringat sewaktu saya kecil, setiap subuh, Ibu selalu berbelanja ke pasar tradisional untuk memebeli kebutuhan sehari-hari kami sebagai sebuah keluarga yang hidup di sebuah “rumah” yang bernama Bali. Kebutuhan itu, selalin untuk penghidupan fisik, juga untuk memenuhi kebutuhan adat dan spiritual kami. Dan percaya atau tidak, selama dua puluh tahun lebih, pasar tradisional tempat Ibu berbelanja itu tidak banyak berubah hingga sekarang. Pasar itu masih berdiri kokoh sebagai pusat perekonomian di kabupaten Gianyar, bahkan makin membesar. Tidak seperti pasar-pasar tradisional di luar Bali, yang secara mengenaskan telah berganti rupa menjadi pusat-pusat perbelanjaan modern, yang hanya memberi pemasukan bagi sebagian orang-orang yang berkuasa, dan menyedot pengeluaran bagi mereka yang tergolong masyarakat menengah ke bawah. Dan lebih menyedihkan lagi, tak jarang, bahkan mungkin semua perubahan itu selalu meninggalkan jejak duka buat mereka-mereka yang tadinya menggantungkan hidupnya di sana, dengan praktek penggusuran secara paksa. Apa sebenarnya yang membuat pusat perbelanjaan modern itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mampu menggeser peranan pasar tradisional di Bali? Tidak lain adalah tiga pilar utama Bali yang saling menopang satu sama lain yaitu, Spiritual, Adat/Seni/Budaya dan Perekonomian itu sendiri. Ketiga pilar ini seperti mandala yang berputar harmonis, dan saling menjaga agar putarannya tidak melempar salah satu keluar batas.

 

Kehidupan masyarakat Bali sehari-harinya tidak lepas dari upacara dan kegiatan-kegiatan adat yang membuat kebutuhan dasar masyarakat Bali  tidak hanya sebatas kebutuhan fisik yang bisa dengan mudah diformat secara instan oleh pusat-pusat perbelanjaan modern, tapi malah lebih banyak berupa kebutuhan yang berhubungan dengan kegiatan Spiritual dan Adat, seperti halnya kebutuhan akan bahan-bahan upacara yang tentunya hanya bisa dipenuhi oleh masyarakat Bali sendiri dengan unsur estetikanya yang kental. Inilah yang membuat sulit untuk pusat perbelanjaan modern mengambil hati masyarakat Bali, guna membuat mereka berpindah dari pasar tradisional. Mereka masih sulit untuk bisa menyediakan secara instan kebutuhan-kebutuhan yang berhubungan dengan kehidupan spiritual dan adat, lebih-lebih lagi kebutuhan itu harus dikemas dalam unsur-unsur estetika tertentu. Dalam hal ini spirtual, adat, seni dan budaya telah mampu menjadi senjata ampuh untuk membendung gempuran perubahan dalam dunia perekonomian dan globalisasi.

 

Namun segala macam perubahan tidak mungkin bisa sepenuhnya dibendung masuk ke dalam kehidupan masyarakat Bali, yang sekarang menjadi salah satu tujuan pariwisata utama domestik dan international, dan tentunya akan menyisipkan budaya-budaya luar yang berujung pada kebutuhan-kebutuhan baru anggota masyarakatnya. Seperti halnya perkembangan teknologi yang secara langsung ataupun tidak, pasti akan berdampak pada pergeseran kebutuhan masyarakat. Untuk itu aktifitas dan kebutuhan spiritual dan adat pun harus bergerak menyesuaikan perubahan yang terjadi, namun tetap pada batasan-batasan tertentu. Jangan sampai kegiatan adat dan spiritual yang kaku menjadi lebih dominan, sehingga kesempatan masyarakat untuk berkembang di dunia Pendidikan, Teknologi dan Perekonomian menjadi terhambat oleh kewajiban-kewajiban adat yang statis. Namun bukan berarti kita harus meninggalkan adat sepenuhnya. Jadikanlah pemahaman dalam bidang Pendidikan, Teknologi-Informasi dan Perekonomian, menjadi benteng masyarakat Bali sendiri dari gempuran perubahan dari dunia luar, sehingga tetap bisa bergerak seirama dengan perubahan, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai sebuah masyarakat sosial budaya. Sebagai contoh, kita bisa memanfaatkan media-media, yang telah mulai mengglobal menembus batasan jarak dan waktu, seperti Internet yang semakin lama malah semakin murah, untuk lebih menyerap informasi dan menjadi media pemasaran untuk produk-produk hasil dari usaha kecil dan menengah di daerah kita.

 

Belakangan memang keharmonisan pilar-pilar ini mulai goyah oleh gempuran arus perubahan global. Lihat saja bagaimana investor-investor luar dengan mudah berdatangan dan berinvestasi dalam pilar perekonomian khususnya pariwisata, tanpa memperhatikan keseimbangan pilar-pilar lain, ya karena mereka memang tidak ada kepentingan untuk itu. Buat mereka saat Bali tidak lagi menjadi daerah yang menjanjikan seperti sekarang, dengan uangnya mereka bisa pergi ke mana saja, nah orang bali mau pergi ke mana? Di sisi lain industripun mulai dikuasai orang luar, karena masyarakat kita terikat oleh kewajiban adat, sehingga mereka tidak punya kesempatan untuk mengembangkan diri dalam pilar perekonomian. Mereka lebih seperti tamu (atau bahkan pembantu?) di rumahnya sendiri. Inilah akibat jika kita lupa akan konsep sesungguhnya dari keharmonisan dan keseimbangan  yang diwariskan pendahulu kita. Di satu sisi, adat dan spiritual mungkin adalah senjata kuat untuk menjaga diri kita dari gempuran  perubahan yang membawa kebutuhan-kebutuhan baru bersertanya, namun di sisi lain, adat juga tidak boleh menjadi dogma yang membabi buta dan kaku menyikapi segala realita perubahan, yang malah menjadi penghalang masyarakat untuk tetap update dengan segala perubahan. Hal ini dapat  menjadi bumerang karena kita kurang mawas diri sehingga tidak mampu bersaing dalam perhelatan (pilar) perekonomian dan teknologi. Jika kita gali kembali dalam filsafat Desa, Kala, Patra, dimensi Kala(Waktu) dimana perubahan itu meluncur, harus membuat sebuah masyarakat itu berubah menyesuaikan, guna tetap menjaga keseimbangan.

 

Lalu pertanyaan berikutnya yang harus kita lakukan? Saya teringat sebuah komentar di jejaring sosial dari seorang sahabat saat ada sebuah gagasan diungkapkan seorang sahabat :

“Yang penting implementasinya Bro… Konsep yang hebat hanya akan jadi konsep kalau tidak bisa diimplementasikan. :)

 

Mari kita mulai dari menelaah komentar tersebut:

Sesungguhnya tulisan ini bukanlah sebuah penyusunan konsep baru,  sebenarnya semuanya sudah diwariskan turun-temurun dari tetua kita di Bali. Namun sekarang  yang menjadi masalaha adalah, dengan meluncurnya kita dalam dimensi Desa(Ruang) dan Kala(Waktu) membuat apa yang tadinya dengan rapi ditata segdemikian ruap, mulai  tidak seimbang lagi oleh tuntutan Globalisasi.

 

Yang coba dilakukan dalam tulisan ini hanya menyadari, mengenali, dan mendefinisikan permasalahan  untuk kemudia bersama-sama mencoba mencari pemecahanya sesuai tempat dan waktunya masing-masing. Jika diibaratkan dalam dunia IT, tulisan ini lebih pada upaya untuk melakukan troubleshooting error yang terjadi. Dalam melakukan troubleshooting kita harus mendefinisikan masalah terlebih dahulu, menganalisa baru melakukan eksekusi/implementasi pemecahannya. Bagaimana kita akan menyelesaikan masalah jika kita sendiri tidak tahu masalah kita apa? Banyak sekarang orang memikirkan sesuatu terlalu berlebih yang harusnya bukan tanggungjawabnya, sampai melupakan apa sebenarnya yang menjadi tanggungjawab terhadap dirinya sendiri dan keluarganya. Mereka terlalu sibuk  menerawang jauh memikirkan negara bahkan dunia, yang pastinya tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membuat perubahan di level itu. Terlalu jauh berfikir tentang keseimbangan dunia(macro), lupa dengan kesembangan dirinya(micro). Bagaimana akan tercacpai keseimbangan dunia jika unsur2 yang membentuk dunia itu sendiri tidak seimbang? Untuk itulah kenapa tulisan ini juga kita mulai dari Bali, dari kampung halaman penulis sendiri bahkan dari lingkukan tempat dia tinggal dan keluarganya, yang tentunya juga dimulai dari individu penulis sendiri. Karena dengan memulainya dari level yang paling bawah, dalam hal ini adalah individu, akan menjadi sebuah pengalaman terhadap level individu tersebut. Dan jika semua memulai dari level yang sama, termasuk pemerintah, maka semua akan mempunyai bekal pengalaman untuk dimplementasikan dalam level yang lebih besar. Jadi semua pernah melakukan implementasi minimal dalam dirinya sendiri, baru kemudia mencoba untuk mengimplementasikannya untuk masyarakat yang lebih luas. Dengan pengalaman itulah semua masalah tentu akan lebih cepat dan mudah untuk dipahami dan dicarikan solusinya, bukan cuma omong kosong tanpa tau harus berbuat apa.

 

Saya sendiri merasa cukup sukses untuk mengimplementasikannya pada diri saya sendiri, dan sekarang sedang berjuang mati matian untuk mengimplementasikannya dalam level berikutnya yaitu keluarga, dan jujur saja masih sangat sangat jauh dari pencapaian kesuksesan. Untuk itulah saya lebih memilih untuk cenderung menarik diri dari ikatan ikatan organisasi luar di luar keluarga saya, cenderung memilih untuk focus pada pengembangan pendidikan dan perekonomian keluarga tanpa meninggalkan jati diri kami sebagai masyarakat adat dan spiritual.

 

Pilar Spiritual terhadap Pilar Adat

Kedalaman spiritual akan membawa kita kepada pemahaman tentang flexibilitas dari implementasinya dalam ruang lingkup adat. Mencari solusi yang flexible dari sebuah masalah agar tetap sesuai dengan kaidah spirtual, namun tidak kaku manyangkut waktu dan cara pengimplementasiannya. Contoh simple bagaimana ngaben masal menjadi sebuah solusi yang patut digali untuk lebih me-manage dalam dimensi waktu pelaksanaannya, sehingga masyarakatpun akan lebih bisa mempersiapkan diri. Tidak mendadak dan berkali-kali dalam kurun waktu tertentu, sehingga waktu tidak terkonsentrasi dan tak ada kesempatan bagi anggota masyarakat lain untuk memanfaatkan waktunya di bidang lain, habis digunakan untuk kegiatan ngaben yang berkali-kali dan tak terjadwal. Dengan ngaben masal, dimana sawa/jenasah dikurbur/dikinsan terlebih dahulu, akan membuat waktu pelaksanaan ngaben bisa di arahkan dalam masa tertentu. Dengan demikian, anggota masyarakat yang akan terlibatpun bisa mempersiapkan diri, misa dengan pengajuan cuti yang terjadwal dan persiapan materi yang terjadwal pula.

 

Pilar Spirtual terhadap Pilar perekonomian

Kedalaman spiritual juga akan meningkatkan kesadaran setiap individu, dengan mengikis ego dan hawa nafsu untuk saling menjatuhkan atau salaing menguasai, dan lebih meningkatkan unsur kepentingan bersama menuju keseimbangan. Ini sangat penting terutama bagi mereka-mereka yang duduk dalam pemerintahan, yang harusnya menjadi nahkoda dalam kapal sebuah masyarakat, untuk bisa melihat kepentingan bersama lebih utama ketimbang keinginan, ego, dan nafsu untuk memperkaya diri sendiri. Di level individu masyarakat sendiri, kedalaman spiritual akan menganalkan mereka lebih dalam kepada kata “Cukup”, dengan demikian batasan kecukupan akan mampu mengalihkan energi yang berlebih untuk membantu satu sama lain.

 

Pilar Adat, Seni dan Budaya terhadap Pilar Spiritual

Sudah jelas unsur kebersamaan dan usur estetika menjadi dari sebuah masyarakat adat adalah unsur-unsur penting dalam mendukung pengembangan Spiritual. Apalagi dalam masyarakat Bali yang menjadikan jalan Bhakti adalah jalan utama dalam perjalanan spiritual mereka. Jalan ini tak lepas dari unsur estetika yang menjadi media dalam melakoninya.

 

Pilar Adat, Seni dan Budaya terhadap  Pilar Perekonomian

Ini adalah unsur yang paling menjadi sorotan belakangan dalam masyarakat Bali, yang adalah sebuah daerah yang mengandalkan sektor pariwisata sebagai pondasi perekonomian utamanya. Sudah menjadi hal yang biasa bila unsur seni dan budaya Bali memang menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia pariwisata. Bagaimana keunikan dan keberagaman adat, seni dan budaya menjadi daya tarik yang mampu menghipnotis para pendatang, tidak saja untuk menikmati, tapi juga  ikut serta menggali potensi-potensi ekonomi di dalamnya. Di sanalah masalah mulai timbul saat persaingan antara penduduk lokal dan pendatang mulai memanas. Sering kali kegiatan adat yang terlalu kaku malah menjadi bumerang bagi sektor perekonomian masyarakat lokal bali sendiri. Kesempatan pengembangan diri sangat sedikit dikarenakan lebih banyak waktu habis untuk tuntutan adat. Ada banyak solusi yang bisa ditawarkan untuk masalah ini, tergantung tempat dan waktunya. Seperti contoh ngaben masal tadi. Selain flexibilitasnya dalam management waktu, juga bisa menekan pembengkakan biaya penyelenggaraannya karena banyak upakara dan upacara yang bisa disatukan pelaksanaannya. Di beberapa daerah di bali bahkan sekarang ngaben masal menjadi kewajiban dalam Awig-awig, sehingga menuntut setiap masyarakatnya untuk mematuhinya. Memang kadang ada unsur-unsur lain seperti gengsi dan status sosial yang membuat ngaben masal ini dinomberduakan, namun kembali lagi, jika dalam sebuah keluarga memiliki tingkatan filosofis dan spiritual yang kuat dan mendalam hal ini tidak akan menjadi halangan lagi, bahkan kelebihan baik energi maupun materi yang dimiliki dengan sukarela akan dihibahkan pada anggota masyarakat lain yang membutuhkan dalam proses ngaben masal tersebut.

 

Pilar Perekonomian terhadap  Pilar Adat dan Spiritual

Perekonomian tentu saja adalah unsur terpenting dalam sebuah masyarakat untuk bisa berkembang. Baik untuk kepentingan adat, seni, budaya, pendidikan dan tenologi maupun spiritual, membutuhkan dukungan finansial yang cukup dalam pengembangannya.

 

Keseimbangan pilar-pilar patut kita jaga bersama, karena kembali lagi tingkat keseimbangan sebuah masyarakat tergantung kepada bagai mana tingkat keseimbangan anggota masyarakatnya sendiri. Semoga uraian dan contoh-contoh kecil dalam tulisana ini bisa memberikan gambaran yang membuka mata kita tentang keadaan Bali sekarang ini, dan memotivasi kita semua guna lebih mengembangkan diri baik di level individu maupun di level masyarakat. Tak ada keinginan menggurui, hanya ingin berbagi pemikiran dan solusi, tentu hanya akan dapat diimplementasikan menyesuaikan dengan tempat dan waktunya. Namun berbagi pemikiran-pemikiran seperti ini harusnya menjadi motivasi untuk menemukan solusi untuk mesalah yang dihadapai sesuai konsep Desa, Kala, Patra.

 

Jangan selalu bersikap pesimis, seperti kebanyakan masyarakat Bali saat ini. Seperti komentar di atas, selalu menunggu solusi dan implementasi dari orang lain, tanpa mau menemukan, merumuskan dan mengimplementasikan sendiri untuk dirinya sendiri. Hanya bisa mengkritik pedas solusi yang tidak sesuai dengan dirinya, dan belum tentu tidak sesuai buat orang lain, ya karena seperti yang saya uraikan tadi, permasalahan di level individu tentu akan berbeda, dan solusinyapun juga akan berbeda sesuai Desa, Kala, Patra.

 

“Konsep memang akan hanya menjadi sebuah konsep jika tidak diimplementasikan, tapi apakah implementasi tanpa sebuah konsep yang matang juga akan selalu lebih baik?”

Seperti halnya pilar-pilar yang membangun Bali, kita tidak bisa hanya menilai dari salah satu pilar saja, dan menghakimi pilar lain. Kita harus bisa melihatnya secara menyeluruh, karena tentu semua ada keterkaitan satu sama lain. Begitu pula antara konsep dan implementasinya, tidak bisa kita menilai bahwa implementasi lebih penting dari pada konsep, begitu juga sebaliknya. Bahkan kalau mau dilihat dalam dunia Enginering seperti dunia IT, analisa, perencanaan dan design selalu menajdi pekerjaan yang lebih mahal ketimbang implementasi. Namun ada baiknya kita lihat keduanya secara lebih menyeluruh, secara Hitam dan Putih (Rwabhinedha).

 

 

Semoga bermanfaat.

Switch to our mobile site