Kemenangan Dharma, Dimulai Dari Kemenangan Individu itu Sendiri
Wednesday, July 6th, 2011Hari ini, 6 July 2011, setelah letih berkutat dengan pekerjaan seharian, seperti biasa diselingi dengan berjalan-jalan di “tembok-tembok” teman-teman di jejaring sosial Facebook. Cukup melegakan membaca banyak sekali ucapan-ucapan Selamat Hari Raya Galungan, mengingat hari ini di Bali teman-teman saya pada libur, sedangkan saya di Jakarta harus tetap bekerja seperti biasa. Dengan berkembangnya teknologi belakangan ini, jarak seakan tidak membatasi lagi. Kami bisa saling bersilaturahmi walaupun dipisahkan oleh jarak ribuan Km, dan seperti sekarang ini, sayapun bisa merasakan perayaan suasana hari raya yang paling saya tunggu waktu saya masih di Bali dulu. Sebagian besar ucapan-ucapan tersebut bernada positif, penuh doa dan yang pasti disertai dengan kegembiraan atas menangnya Dharma melawan Adharma, senada dengan tujuan dari Hari Raya Galungan itu sendiri. Benar-benar jarak bukan lagi halangan kami untuk berbagi. Jika zaman dahulu para tetua kita hanya mengandalkan kekuatan pikiran untuk menembus batasan ruang dan waktu, zaman sekarang teknologi membuat orang awampun bisa menikmati “dunia yang semakit datar” tanpa pembatas jarak dan waktu lagi, walaupun teknologi itu kadang menggunakan resources alam yang berlebihan, jika dibanding “teknologi” tetua kita zaman dahulu yang hanya mengoptimalkan kemampuan pikiran dan intuisi mereka, tanpa mengakibatkan ketidak seimbangan alam
Namun kemarin ada sebuah kalimat di twitter yang sedikit, menurut saya, pesimistik dalam memaknai perayaan Kemenangan Dharma ini. “Jika kita merayakan Galungan setahun 2 kali untuk kemenangan Dharma, kenapa semakin lama Adharma yang malah lebih dominan?”, kira-kira seperti itu isi kutipan seorang rekan di Twitter menyikapi perayaan Galungan. Semoga tidak banyak orang, yang selalu pesimis dalam menyikapi semua masalah yang “dititipkan” kepadanya, seperti rekan kita di atas tadi. Mungkin kita harus lebih dalam lagi menyelami makna-makna yang tersirat dalam setiap warisan yang dititipkan oleh para tetua, yang menurut saya malah jauh lebih paham bagaimana keadaan yang akan dihadapi anak cucunya ketimbang anak cucunya sendiri, sehingga mereka dengan cerdik mewariskan permata-permata yang menuntut kita untuk belajar menyelaminya lebih dalam, bukan hanya menunggu disuapi saja. Karena sesunggunya dengan menyelami sendiri, tidak hanya hafalan dari kitab-kitab sucilah kita akan menjadi manusia yang lebih dewasa dan matang dalam menjalani hidup kita yang singkat di dunia ini.
Buat saya pribadi, Dharma bukanlah sesuatu yang berada di luar atau datang dari luar, apalagi kondisi masyarakat atau keadaan alam di luar individu manusia, tapi Dharma adalah kwalitas keseimbangan dari reaksi individu terhadap hal-hal baik maupun buruk, yang terjadi atau yang datang dari luar individu tersebut. Semakin individu melepaskan keberpihakan terhadap setiap hal yang datang pada dirinya, semakin baik kwalitas Dharmanya. Dan ”Kemenangan Dharma” adalah keberhasilan Sang Diri bereaksi tanpa menghakimi segala hal yang datang, baik ataupun buruk, semua di terima dengan welas asih, cinta kasih dan penuh keiklasan serta penyerahan sepenuhnya kepada Dia Yang Transcendence.
Jadi jika menyikapi kenyataan sekarang, dimana keburukan lebih dominan, seperti korupsi, ketidak adilan, bobroknya instatnsi peradilan negara dll, bukanlah pertanda Dharma sudah tenggelam dam Adharma memenangkan pertandingan. Semua itu adalah reaksi Alam, dengan hukum Karmanya, dalam rangka mencapai Keseimbangan dan Harmonisasi, walaupun itu juga juga adalah reaksi dari aksi manusia secara keseluruhan, yang lebih banyak menyebabkan ketidak seimbangan itu sendiri. Alam sesunguhnya tidak memiliki keinginan untuk menghukum atau memusuhi manusia, tapi Alam akan selalu bergerak ke arah keseimbangan dan keharmonisan dengan “cambuk” hukum Karma yang Ia pecutkan sebagai reaksi, ke setiap aksi mahluk dalam naungannya. Untuk itulah sebenarnya kemenangan atau kekalahan Dharma ukurannya adalah lebih pada sikap individu dalam menyikapi segala yang terjadi, bukan keadaan lingkungan sekitar individu tersebut. Penuh kesadaran bahwa Karma lah yang sedang bekerja, bahwa segala baik dan buruk yang datang adalah reaksi dari aksi individu itu sendiri. Dan sesungguhnya apapun yang terjadi di sekitar kita, jika kita memiliki keteguhan dan kedamaian batin, kebahagiaan itu akan selalu ada menyertainya. Itulah makna Kemenangan Dharma buat saya, dan ke sanalah saya ingin melangkahkan perjalanan saya, walaupun baru saya mulai.
Dan akhir dari tulisan ini ingin saya berucap Rahajeng Rahina Galungan dan Kuningan. Semoga Kedamaian dan Kebahagiaan selalu menjadi pilihan kita (Dharma) dalam kondisi lingkungan yang beragam dalam hidup kita. “Karena Kemenangan Dharma, Dimulai Dari Kemenangan Individu itu Sendiri Menghadapi Hitam-Putih Kehidupan”
Aum
Sarvesham svastir bhavatu
Sarvesham shantir bhavatu
Sarvesham purnam bhavatu
Sarvesham mangalam bhavatu
Sarve bhavantu sukhinah
Sarve santu niramayah
Sarve bhadrani pashyantu
Makaschit dukkha bhaag bhavet
Aum Shanti Shanti Shanti
ॐ
Semoga semua mahkluk sukses.
Semoga semua mahluk dalam kedamaian.
Semoga semua mahluk merealisasi kesadaran.
Semoga semua mahluk sejahtera.
Semoga semua mahkluk berbahagia.
Semoga semua mahkluk bebas dari ketidak-sempurnaan.
Semoga semua mahkluk menolong kesejahteraan mahluk lain.
Semoga semua mahkluk bebas dari penderitaan.
Aum, damai damai damai.

