Persepsi Hitam dan Putih

Hari ini saya tidak sengaja membaca sebuah tulisan di sini yang, seperti biasa mengundang berbagai komentar dan persepsi dari pembacanya. Sebenarnya saya sendiri belakangan jarang membaca atau menonton berita di TV atau di media-media Online. Saya letih berkutat dengan pemahaman-pemahaman yang lama kelamaan makin menjauhkan diri saya dari apa yang disebut kebahagiaan. Semua berpersepsi, berargumen, berdebat dan berusaha menyatakan bahwa apa yang mereka pahami adalah kebenaran, dan begitu juga saya. Namun bukannya lebih dekat dengan kebahagiaan, tapi malah membuat saya letih berargumen, berpersepsi dan semakin menjerumuskan saya pada situasi kebingungan, dengan sebuah pertanyaan di kepala “Yang mana yang benar sih ??”.

 

Suatu hari ada seorang teman yang menyampaikan sebuah kutipan, yang sungguh-sungguh membuat saya tersentak. Kutipan itu kurang lebih berbunyi “Buat para Tetua di Bali, menuntut keadilan atau kebenaran adalah juga hal yang menjauhkan diri kita dari kedamaian”. Seketika saya tersentak dan tenggelam dalam perenungan yang mendalam tentang makna apa yang ingin disampaikan oleh kutipan tersebut. Saya teringat akan sebuah filosofi dasar yang diwariskan para Tetua di Bali dan dijadikan pondasi bagi kehidupan masyarakat Bali sampai hari ini. RwaBhinedha (serupa dengan Yin-Yang di China), adalah sebuah filsafat yang memberi pemahaman tentang hitam dan putih akan selalu berdampingan dan saling melengkapi satu sama lain.

 

Tetua di Bali juga mewariskan sebuah konsep Penengen-Pengiwa(kanan-kiri) seperti perwujudan Barong dan Rangda, sebagai perlambang kenan dan kiri. Keduanya dilambangkan selalu larut pertarungan yang tanpa henti, dan tanpa ada pemenangnya. Dan sayapun mulai bertanya-tanya, apa sebenarnya makna tersirat dari warisan-warisan tersebut? Apakkah kebaikan itu yang menjadi tujuan dan keburukan harus ditinggalkan? Apakah kesenangan itu lebih baik dari kesedihan dan sebaliknya? Apakah putih itu lebih baik dari hitam? kenapa saya tidak pernah menemukan batasan yang jelas antara kedua sisi dari hal-hal yang berlawanan tersebut? Kenapa seperti halnya persepsi-persepsi dalam dunia politik belakangan, tak ada kepastian antara mana yang benar dan mana yang salah? Kenapa semua berpersepsi baik dan buruk menurut pemahaman mereka sendiri? Lalu dimana kebaikan yang sejati dan keburukan yang sejati pula?

 

Lalu setelah kita menemukan kebaikan dan keburukan yang sejati beserta batasannya pun, apakah otomatis membuat yang baik itu paling bermanfaat, dan yang buruk itu tidak ada manfaatnya sama sekali? Apakah otomatis membuat yang kesenangan itu selalu lebih bermanfaat ketimbang penderitaan? Lalu kenapa saya lebih banyak melihat orang-orang yang terjerumus dalam penderitaan, jauh lebih “manusiawi” dan “matang” ketimbang mereka yang hidupnya penuh dengan kesenangan?  Apakah otomatis membuat Putih itu lebih indah ketimbang Hitam?.

 

Mungkin apa yang diwariskan oleh para Leluhur di Bali inilah yang saya jadikan jawaban tentang semua pertanyaan di atas. Berusaha menarik diri dari persepsi akan berbagai dualisme yang datang menghinggapi pikiran, yang membuat kita lebih bingung dan terjerumus dalam ketidakbahagiaan dalam diri. Belajar melarutkan diri dalam keheningan batin dan pikiran untuk berhenti memberikan persepsi akan sesuatu, mengalir apa adanya, iklas dalam perjalanan dan semua yang datang dalam kehidupan. Bagi sebagian orang, sikap seperti ini dipersepsikan menjadi sebuah kelamahan, sebuah kepasrahan tanpa motivasi kehidupan. Namun apa yang belakangan saya rasakan, walaupun masih dalam tahap pembelajaran, jauh dari apa yang mereka bayangkan. Menarik diri dari berbagai persepsi, bukan berarti membiarkan diri tenggelam dalam kelemahan tanpa perjuangan, namun sesungguhnya sebuah sikap yang bertujuan untuk mengistirahatkan batin, guna mempersiapkan diri menerima berbagai  tantangan dan permasalahan/pertanyaan sesuai dengan ruang dan waktu secara lebih efektif. Karena sesungguhnya, hanya dengan pikiran yang jernih dan ketengan batin, yang tanpa diombang-ambing persepsilah, kita akan mampu menemukan jawaban-jawaban semua permasalahan secara lebih efektif dan efisien. Ibarat sebuah cangkir teh, hanya dengan mengosongkan isi cangkir, yang sebelum penuhlah kita akan bisa mengisinya kemabali.

 

 

Sebuah Sutra dari Buddha yang mungkin bisa menjadi renungan:

Prajna Paramita Hridaya Sutra
(perfect wisdom heart sutra)

Om Homage to the Perfection of Wisdom the Lovely, the Holy !

Avalokita, the Holy Lord and Bodhisattva, was moving in the deep course of the Wisdom which has gone beyond.

He looked down from on high, He beheld but five heaps, and He saw that in their own-being they were empty.

Here, O Sariputra,

form is emptiness and the very emptiness is form ;

emptiness does not differ from form, form does not differ from emptiness, whatever is emptiness, that is form,

the same is true of feelings, perceptions, impulses, and consciousness.

Here, O Sariputra,

all dharmas are marked with emptiness ;

they are not produced or stopped, not defiled or immaculate, not deficient or complete.

Therefore, O Sariputra,

in emptiness there is no form nor feeling, nor perception, nor impulse, nor consciousness ;

No eye, ear, nose, tongue, body, mind ; No forms, sounds, smells, tastes, touchables or objects of mind ; No sight-organ element, and so forth, until we come to :

No mind-consciousness element ; There is no ignorance, no extinction of ignorance, and so forth, until we come to : There is no decay and death, no extinction of decay and death. There is no suffering, no origination, no stopping, no path.

There is no cognition, no attainment and no non-attainment.

Therefore, O Sariputra,

it is because of his non-attainmentness that a Bodhisattva, through having relied on the Perfection of Wisdom, dwells without thought-coverings. In the absence of thought-coverings he has not been made to tremble,

he has overcome what can upset, and in the end he attains to Nirvana.

All those who appear as Buddhas in the three periods of time fully awake to the utmost, right and perfect Enlightenment because they have relied on the Perfection of Wisdom.

Therefore one should know the prajnaparamita as the great spell, the spell of great knowledge, the utmost spell, the unequalled spell, allayer of all suffering, in truth — for what could go wrong ? By the prajnaparamita has this spell been delivered. It runs like this :

gate gate paragate parasamgate bodhi svaha.

( Gone, gone, gone beyond, gone altogether beyond, O what an awakening, all-hail ! — )

This completes the Heart of perfect Wisdom.

 

Leave a Reply




d8bec

Switch to our mobile site