Sebuah Sloka Banten Saiban dalam Weda Kehidupan.

“Atisha, I promise not to teach you religion. Will share how to sit in silence, so that you can ask God directly whatever you need to know.”

-Janji Reza Gunawan pada anaknya Atisha-

 

Dulu sempat saya merasa sedikit kecewa kepada ke dua orang tua saya, kenapa saya sama sekali tidak pernah diperkenalkan dengan kitab suci dengan sloka-sloka seperti teman-teman saya. Percaya atau tidak samapai sekarang saya sama sekali tidak hafal mantram dari panca sembah. Saya lebih suka melakukan panca sembah seperti Orang Tua Saya, Om, Tante, Nenek, Kakek dan sodara sodara saya di kampung, dimana mereka dalam melaksanakan panca sembah menggunakan bahasa Bali halus dengan penuh perasaan, merintih bahkan terkadang sampai menangis penuh penyerahan diri. Loh kok saya tahu? sembahyang gak pernah serius ya? hihih begitulah saya waktu umur masih di bawah sepuluh tahun, sembahyang masih toleh kanan toleh kiri, sambil berusaha melakukan hal yang sama dengan orang-orang di sekitar saya :D , akh tapi entah kenapa saya malah merindukan keluguan seperti itu.

 

Beberapa buah mantram yang saya saya hafal hanya Tri Sandya(karena wajib dihafal waktu sekolah), Om Asatoma Sadgamaya, Om Tryambakam (dua mantram yang sepertinya dianugrahkan entah dari mana, seperti jodoh dengan ke dua mantram ini) dan Mantram Siwa Om Namah Siva Ya (paling gampang dihafal :D ). Beberapa kali saya mencoba untuk menghafal beberapa sloka dari Baghavad Gita, tapi entah kenapa saya lebih tertari untuk membaca terjemahannya dalam bahasa Indonesia kemudia terlupa karena terlalu berat buat saya, hehe. Menyadari kurangnya stock mantram atau kitab suci yang saya ketahui, saya sempat merasa kecewa kepada lingkungan saya, terutama orang tua, yang nota bene hidup di  sebuah desa kecil di pulau yang dijuluki pulau dewata, dengan tingkat pendidikan formal yang masih jauh dari cukup, khususnya di bidang agama.

 

Namun seiring dengan perjalanan hidup, apa lagi di rantauan, keluar dari lingkarang kenyamanan kampung halaman, dalam selimut kerinduan, lama kelamaan malah membuat saya bisa melihat pancaran sinar yang serasa makin memberikan magnet keindahan, dari kampung halaman saya tercinta yang bernama Bali. Kesederhanaan dan Keluguan, jauh dari pendidikan formal, yang tadinya saya hakimi sebagai suatu kekurangan, malah belakangan “menampar” saya dengan nilai-nilai yang bahkan sampai membuat saya menangis merindukan pelukannnya. Pelukan kesederhanaan, kekosongan, keheningan dan kedamaian pemikiran yang penuh kerendahan hati, yang implementatif menyatu dalam kehidupan itu sendiri. Jauh dari kesan kebanggaan dari sudut pandang kepintaran dlm pendidikan formal beserta titlenya, yang belakangan malah lebih banyak membuat orang terjerumus dalam kesombongan dan kelicikan, lupa akan jati dirinya sebagai manusia.

 

Perjalanan kecil saya ini, dengan berbagai kemelutnya, mengantarkan saya untuk kembali melihat kilauan nilai-nilai mulia yang tercampur dalam lumpur ketidak tahuan dan keluguan kampung halaman. Jika saya melihat balik ke belakang, selama 20 tahun saya bersama orang tua saya, tidak banyak ilmu keagamaan yang diwariskan mereka. Yang ada hanya berjalan apa adanya mengikuti ritual yang telah diwariskan apa adanya oleh leluhur kami. Dari ritual banten saiban setelah selesai memasak, hingga perayaan Galungan yang berjalan sama seperti perayaan-perayaan sebelumnya. Namun belakangan meditasi menuntun saya lebih banyak untuk mencari dan memahami, ketimbang hanya mempercayai begitu saja. Sebagai contoh bagaimana sebuah ritual sederhana, dengan menghaturkan secomot nasi, bawang dan sedikit garam di beberapa  sudut rumah, yang kita sebut sebagai ritual mebanten saiban itu, telah mengajarkan kita untuk berkenalan dengan alam (semut, serangga, dan pepohonan), dan skaligus mengajarkan kita mencintai mereka penuh kasih sayang dengan berbagi sedikit apa yang kita punya, bahkan sebelum kita sendiri yang menikmatinya.

 

Menyadari ini membuat kerinduan akan kesederhanaan itu lebih mendalam. Bahkan kerinduan buat mereka-mereka para pendahulu kami yang dengan cerdiknya menyisipkan nilai nilai meditatif (baca In Bali Life is Meditation) yang implementatif dalam keseharian kami. Menyisipkan sloka-sloka Baghavad Gita atau Weda, yang secara tekstualnya susah apa lagi untuk orang yang kurang suka menghafal seperti saya, ke dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga tanpa disadari, kita melakoni dan mengimplementasikannya setiap hari dalam kehidupan. Membuat kita mengenal Nilai Kasih itu lebih dalam, dari sebuah ritual sederhana seperti Banten Saiban, yang belum tentu Nilai Kasih yang sama dilakukan oleh orang yang menghafal ribuan sloka Kitab Suci, yang bahkan lebih sering membuat mereka terjerumus dalam kesombongan.  Saya ingat bagai mana Sang Buddha menempuh jalan untuk mencapai Pencerahan hanya dibekali selembar kain penutup badan dan Rasa Kasih kepada manusia yang menderita, bukan dibekali tumpukan buku atau kitab suci. Beliau belajar lebih banyak dari Weda Kehidupan dan Gita Penderitaan dengan sekali sekali meneguk air keheningan dalam meditasi dan pengendalian pikiran untuk menemukan solusi penderitaan dan meneguk air suci kebahagiaan.

 

Lalu apakah tulisan ini mengajak kita untuk melupakan kitab suci-kitab suci kita? tentu saja tidak. Tulisan ini hanya ingin mengingatkan kita akan keseimbangan hati dan pikiran, tidak menghakimi apa yang belum tentu kita pahami nilai nilainya. Karena lebih sering saya melihat kita merasa pintar dan hebat setelah menghafal banyak sloka kitab suci dan berusaha menghakimi warisan tetetua kita yang jelas-jelas dalam babad yang ditinggalkannya, penuh kebijaksanaan dalam pencerahan. Tentu dengan level yang tercerahkan seperti itu, mereka tidak sembarangan menyuruh kita merobek dedaunan untuk kemudian dijadikan alas bagi secomot nasi persembahan kepada semut dan pepohonan. Tentu tidak sembarangan mereka mewarisi kita spot Keheningan dalam merayakan Tahun Baru Caka, yang oleh orang lain tahun baru dirayakan dengan kebisingan dan kemeriahan. Kita malah ditarik lebih dalam ke dalam Diri dalam Kesepian untuk berkenalan dengan Diri Kita Sendiri. Demikian cerdik tetua kita menyisipkan sebagian besar nilai-nilai kitab suci dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita tidak repot-repot untuk menghafal sekian banyak sloka-sloka, yang belum tentu juga kita pahami, apa lagi untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan. Dan apa lagi sloka-sloka tersebut tidak sembarangan untuk kita pelajari tanpa bimbingan seorang Guru.

 

“Jika Engkau lapar, ambilah bahan makanan secukupnya untuk engkau masak sesuai selera, jangan makan semua bahan makanan yang ada di alam semesta ini”

 

Untuk itu dalam kesempatan kita masuk dalam Kehengingan Nyepi, mari kita ambil bahan makanan, yang benihnya disemai oleh para tetua kita, secukupnya, untuk kita olah sesuai selera kita. Jangan kita makan semua bahan makanan itu mentah-mentah karena kita malah akan jatuh sakit karenanya. Jangan kita telan itu semua sloka-sloka kitab suci mentah-mentah seluruhnya dalam waktu bersamaan. Olahlah beberapa diantaranya dalam renungan Hari Raya Nyepi dalam-dalam untuk kemudian mengambil sari-sarinya dalam kehidupan kita waktu demi waktu :)

 

 

Selamat Menarik Diri kedalam Keheningan untuk berkenalan dengan Kesejatian Diri di Hari Raya Nyepi ini.

Selamat Tahun Baru Caka 1933

 

Semoga Semua Mahluk Berbahagia.

3 Responses to “Sebuah Sloka Banten Saiban dalam Weda Kehidupan.”

  1. Truna Jala Siddhi Amertha

    Ijin share/copas ya buat referensi truna-truni disini…
    Trims…

  2. co-that

    silahkan Bli, tapi harap dicatat ini hanya pengalaman pribadi perenungan pribadi. bukan untuk pemahaman umum.

    semoga bermanfaat.

  3. Dewa Landung

    kalau sudah menulis ttg kebijakan tetua bali, Co-that selalu menginspirasi… :)
    Saya baru sadar ada sisi lain dari aktivitas mebanten saiban.. suksma

Leave a Reply




8e2d1

Switch to our mobile site