Mulat Sarira
Hari ini rumah sepisekali, tiba-tiba saya ingin mendengarkan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Yogini berjudul Bliss(Mola Mantra) dan kemudian membuka sebuah buku, yang baru saja saya beli di Toko Buku Gramedia Plasa Semangi, berjudul “The Wisdom of Bali, The Sacred Science of Creating Heaven on Earth”. Dalam buku ini ada sebuh Bab yang berjudul Mulat Sarira (Finding Yourself). Yang pertama menarik perhatian saya dalam Bab ini adalah foto sebuah Genta dan foto patung Buddha yang sangat-sangat-sangat saya kenali, karena akhir tahun 2011 dan awal tahun 2012 saya habiskan di sebuah ruangan dimana patung Buddha itu berada, sebuah ruangan yang bersebelahan dengan lokasi dimana patung Genta itu berdiri dengan tegaknya. Ya, sebuah ruangan bernama Dharmasala di Vihara Budda di desa Banjar kabupaten Buleleng, Bali, Brahmavihara Arama. Di sanalah, untuk pertama kalinya saya habiskan malam tahun baru dengan penuh keheningan dan kedamaain, tanpa kembang api dan pesta bakar ikan dengan music yang mengalun dengan keras semalaman. Sungguh pengalaman yang luar biasa, “membakar” diri saya dengan kehengingan, “mendengarkan” musik kesunyian serta “menikmati” nyala kembang api dalam diri, sampai-sampai dalam hati saya bertanya, “Kemana saja saya selama ini?”.
Saya sampai meneteskan air mata, saat saya menyadari apa yang saya baca kali ini, ternyata sangat berhubungan dengan apa yang saya alami di awal tahun 2012 di Brahmavihara. Di sana saya sempat bertanya kepada Bapak Gede Prama, sebagai mentor kami dalam program retreat tersebut. “Bapak, Jika kita berbicara tentang Pengendalian, seperti halnya sebuah kereta, tentu kita perlu mengenali yang mana kusir kereta(baca: pengendali) dan yang mana kuda-kudanya (baca: yang dikendalikan), begitu pula jika kita berbicara tentang pengendalian pikiran hawa nafsu dll, yang diajarkan hampir semua agama dan kepercayaan di muka bumi ini. Bagaimana kita bisa berbicara tentang pengendalian, jika kita tidak tahu siapa pengendalinya dan apa yang dikendalikan? Dan sampai sekarang, saya tidak pernah bisa membedakan yang mana pikiran saya yang harus saya kendalikan dan yang mana saya sebagai pengendalinya. Bagaimana cara saya mengenalinya, membedakannya? sehingga saya benar-benar mengerti apa itu pengendalian pikiran atau pengendalian hawa nafsu?”. Jawaban Pak Gede waktu itu hanya sebuah senyuman teduh, sebagai ciri khasnya, dan sebuah penjelasan “Teruslah berlatih, suatu saat kamu akan mengenalinya. Seperti halnya sebuah sungai, dasar sungai baru akan kamu liat saat air di permukaannya tenang dan jernih. Saya tidak bisa menunjukan dasar sungai itu jika riak air sungai pikiranmu masih deras. Untuk itu tenangkan dan jernihkanlah pikiranmu/dirimu suatu saat kamu akan melihat sendiri apa yang ada di dasar sungai pikiranmu, dan kamu akan mampu membedakan dasar sungai dan sungai itu sendiri”. Jujur waktu itu saya sedikit tidak puas dengan jawaban Beliau, ya karena saya tidak mengerti apa yang Beliau coba sampaikan. Tapi setelah pengalaman malam ini dengan sebuah Bab di buku ini, saya baru mengerti, ternyata Beliau menyimpan jawabannya untuk malam ini, dan Beliau ingin saya mengalaminya sendiri apa yang Tetua Bali sebut dengan Mulat Sarira (Finding Yourself).
Mulat Sarira, bukan hanya sebuah konsep, bukan pula dogma agama, atau doktrin, tapi sebuah panggilan untuk manusia melepaskan diri dari latar belakang sosial, ras, politik, ekonomi bahkan latar belakang religius dan keagamaan, untuk kemudian kembali ke akar kita sebagai umat manusia dan menemukan Diri kita sendiri. Mulat Sarira tidak seperti panggilan keagamaan untuk pergi ke temapat-tempat yang dianggap suci tertentu di belahan bumi ini, seperti Pura tertentu atau Wihara seperti Brahmavihara di atas, tapi panggilan untuk pergi kedalam dan mengenali Diri Sendiri. Saat kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Mendengarkan Segalanya, kita lebih sering berharap Dia, siapaun Dia dan bagaimanapun Dia, untuk mendengar tangisan kita, melihat cucuran air mata kita, yang penuh keibaan,yang entah jujur ataupun penuh kepalsuan, untuk kemudia berharap Dia membalasnya dengan keinginan kita, entah itu pengampunan atau imbalan pahala. Tapi saat kita lebih dalam masuk kedalam diri, lakukan dengan tidak sama sekali menyimpulkan konsep apa-apa, seperti halnya konsep bahwa “Tuhan adalah ada dalam diri kita” atau “Diri kita adalah esensinya adalah Tuhan” dan konsep-konsep lain, atau mengharapkan apa-apa, seperti kesembuhan, kebahagiaan, pengampunan dll. Yang ada hanyalah kesadaran akan sebuah proses untuk menemukan Diri yang benar-benar “telanjang”, entah itu sesosok mahluk yang penuh Cinta Kasih, kebaikan, kedamaian, keceriaan, atau malah sebaliknya, diri kita yang penuh kebencian, ego, iri, kecemburuan, dengki, kemarahan, emosi dll, yang merupakan diri kita yang benar-benar “telanjang”.
Namun dalam proses pengenalan diri ini, apapun yang kita temukan entah itu kebaikan, cinta kasih, atau sebaliknya, kebencian, egoisme, iri hati, kemarahan ketakutan dll, sebagai diri kita yang “telanjang” tadi, jangan pernah melakukan penghakiman diri dan lari darinya. Terutama jika kita menemukan diri kita dalam bentuk nilai-nilai negatif. Saat kita menemukan diri kita sebagai nilai positif, kenali tanpa kebanggaan atau kesenangan. Dan sebaliknya jika kita menemukan diri kita sebagai sosok dengan nilai negative, jangan menghakimi diri dengan merasa kecewa dan kemudian lari darinya, lari dari realita tentang diri kita saat ini, dengan sebuah kekecewaan atau penghakiman. Kenali, observasi nilai-nilai negative tadi, kenali dia lebih dalam. Dan saat kita telah mengenalinya, kita akan lebih mudah untuk mengetahui apa langkah berikutnya, apa pengendalian yang harus kita lakukan. Seperti halnya Pak Gede tidak tahu siapa diri saya,sehingga dia tidak memberi jawaban, begitu juga saya tidak akan pernah tahu siapa diri anda, kecuali anda sendiri yang mengenalinya, menyelaminya sehingga kita tahu, yang mana dasar dan yang mana sungai, siapa pengendali kereta dan kemana kereta kehidupan ini akan kita arahkan.
Jadi ada dua aspek penting yang ingin disampaikan Tetua kita di Bali dengan warisan sederhana bernama Mulat Sarira.Yang pertama yaitu temukan dan kenali diri kita (sang kusir) dan yang kedua apa yang akan kita lakukan dengan realita tentang diri kita tersebut. Dan sangat-sangat disayangkan aspek-aspek ini sudah sangat-sangat dilupakan oleh sebagian besar dari kita. Yang kita ingat hanyalah phrasenya saja, tanpa praktek mendalam yang mengikutinya. Sesungguhnya banyak sekali “spot-spot” yang disediakan para Tetua kita untuk memberi kita kesempatan mempraktekan Mulat Sarira, mempraktekan kontemplasi kedalam diri, seperti Hari Raya Nyepi, Siwaratri dll. Tapi sekali lagi kita terlalu terlena dengan gemerlap dunia di luar diri kita, bahkan saat Nyepi saja kita jauh dari diri kita dan melupakan siapa diri kita yang sebenarnya. Demikian penting arti dari pengenalan diri kita dalam menyelami misteri kehidupan, dalam menentukan kemana kereta kehidupan ini akan di arahkan, sehingga para Tetua-Tetua kita, baik itu di Bali maupun diluar Bali, berusaha menyampaikannya dalam konsep-konsep yang sesungguhnya baru akan terasa jelas maknanya yang mendalam setelah dipraktekan. Tidak hanya menjadi sebuah teori apa lagi dogma yang kaku dan keras. Seperti halnya para Nabi menyampaikan dengan “Mereka yang mengenali dirinya mengenali Tuhannya”, para Sufi dengan”Your Heart(Self) is your true temple”, para Buddha yang hampir disetiap ajarannya berintikan tentang “Finding Yourself” dengan praktek meditasi, para filusuf Yunani “Temukan Dirimu”, Krishna dalam “nyanyian-Nya” pada sahabatnya Arjuna “Your self is your true friend and enemy (nilai positive atau negarive tadi)”, dan masih banyak lagi pesan-pesan Tetua kita tentang pentingnya pengenalan diri ini, tentang apa yang di Bali, sekali lagi, coba diwariskan atau disampaikan (“coba” karena tidak akan pernah tersampaikan tanpa disertai dengan praktek dan mengalaminya sendiri) dengan sebuah phrase sederhana bertajuk “Mulat Sarira”.
“When I am silent,
I fall into the place where everything is music.”
-Rumi-
“Silence is a source of great strength.”
-Lao Tzu-
“In the silence of the heart God speaks. If you face God in prayer and silence, God will speak to you. Then you will know that you are nothing. It is only when you realize your nothingness, your emptiness, that God can fill you with Himself. Souls of prayer are souls of great silence.”
― Mother Teresa, In the Heart of the World: Thoughts, Stories and Prayers
“We need to find God, and he cannot be found in noise and restlessness. God is the friend of silence. See how nature – trees, flowers, grass – grows in silence; see the stars, the moon and the sun, how they move in silence…. We need silence to be able to touch souls.” -Mother Teresa
“Silence is the true friend that never betrays.” -Confucius-
In the attitude of silence the soul finds the path in an clearer light, and what is elusive and deceptive resolves itself into crystal clearness. Our life is a long and arduous quest after Truth. ~Mahatma Gandhi
“In the end, we will remember not the words of our enemies, but the silence of our friends.”
― Martin Luther King Jr.
“Silence is a friend who will never betray.” -Kung Fu Tzu-
“Meditation will bring you a great silence — because all rubbish knowledge is gone. Thoughts that are part of the knowledge are gone too… an immense silence, and you are surprised: This silence is the only music there is. All music is an effort to bring this silence somehow into manifestation.” – Osho
“It is raining and you can hear the pattern of the drops. You can hear it with your ears, or you can hear it out of that deep silence. If you hear it with complete silence of the mind, then the beauty of it is such that cannot be put into words or onto canvas, because that beauty is something beyond self-expression.” – Jiddu Krishnamurti
“Mind means words; self means silence. Mind is nothing but all the words that you have accumulated; silence is that which has always been with you, it is not an accumulation. That is the meaning of self. It is your intrinsic quality. On the background of silence you go on accumulating words, and the words in total are known as the mind. Silence is meditation. It is a question of changing the gestalt, shifting the attention from words into silence — which is always there.” – Osho
Selamat Hari Raya Nyepi / Happy Silent Day to the World
May All Creatures be Happy

